Kalau saja Fakhri Fauzi tidak berani investasi Rp5 juta hanya untuk ikut pelatihan pada tahun 2015 lalu, mungkin saat ini ia tidak berada di Harvard.
Saat itu, ia baru lulus dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah sempat merasakan dunia kerja, ia lantas menginvestasikan sekitar Rp5 juta untuk mengikuti pelatihan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing adalah program pembelajaran Bahasa Indonesia yang dirancang khusus untuk warga negara asing yang ingin belajar bahasa dan budaya Indonesia.
Jika orang Indonesia belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing, maka BIPA adalah kebalikannya: orang asing belajar Bahasa Indonesia melalui program yang disusun secara khusus.
Nah, Fakhri memproyeksikan dirinya bisa menjadi pengajar BIPA.
Nominal untuk ikut pelatihan BIPA jelas tidak murah. Akan tetapi, toh keputusan tersebut ternyata bisa membawanya terbang jauh ke negara lain.
Satu dekade kemudian, Fakhri mengajar Bahasa Indonesia di salah satu kampus paling bergengsi di dunia, Harvard University, Amerika Serikat.
Bahasa Indonesia Bisa Membawa Seseorang ke Luar Negeri
Fakhri mengaku tidak pernah membayangkan akan berkarier sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk warga asing.
Setelah lulus kuliah pada 2015, ia sempat bekerja di Pusat Pengembangan Bahasa UIN Jakarta sebagai staf pengawas tes bahasa. Di tempat itulah ia kerap melihat mahasiswa asing yang sedang belajar Bahasa Indonesia.
Rasa penasarannya pun muncul. Ia ingin mengetahui bagaimana cara mengajarkan bahasa yang setiap hari digunakan masyarakat Indonesia kepada orang-orang dari negara lain.
Keingintahuan itu kemudian membawanya berkonsultasi dengan pengelola program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Dari sana, ia mengetahui bahwa seorang pengajar BIPA membutuhkan kompetensi khusus dan sertifikasi. Meski harus mengeluarkan biaya yang cukup besar, ia memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut.
"Saya pikir sepertinya ini akan jadi bidang yang menarik, bidang yang menguntungkan kalau misalkan kita berdalam di sini," kata Fakhri, sebagaimana dikutip dari detikEdu.
Profesi yang Jarang Dilirik, tetapi Dibutuhkan Dunia
Profesi guru bahasa Inggris memang kerap dianggap keren. Sebab, mereka menguasai bahasa internasional. Akan tetapi, ternyata tidak banyak yang tahu bahwa bahasa Indonesia juga dipelajari di berbagai negara sehingga profesi pengajar Bahasa Indonesia juga dibutuhkan.
Ya, bahasa Indonesia ternyata dipelajari oleh mahasiswa, diplomat, peneliti, pebisnis, hingga pekerja internasional yang memiliki hubungan dengan Indonesia. Karena itu, kebutuhan pengajar BIPA terus berkembang di berbagai negara. Fakhri menjadi salah satu orang yang mengambil peluang tersebut sejak awal.
Karier Fakhri berkembang cukup cepat setelah memperoleh sertifikasi. Pada 2016, ia dipercaya menjadi pengajar BIPA di UIN Jakarta. Setelah itu, berbagai kesempatan tawaran untuk mengajar mulai berdatangan.
Ia pernah mengajar Bahasa Indonesia di Kamboja, India, dan Myanmar. Selama pandemi Covid-19, ia juga mengajar secara daring melalui KBRI di India dan berbagai lembaga internasional lainnya.
Ia cepat dikenal di kalangan akademisi karena kemampuannya beradaptasi dengan berbagai budaya dan didukung oleh penguasaan bahasa yang tidak sedikit. Fakhri diketahui menguasai tujuh bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Korea, Khmer, Prancis, dan Sunda.
Kemampuan multilingual seperti ini memiliki nilai strategis dalam dunia pengajaran bahasa. Pengajar dapat memahami kesulitan yang dialami siswa asing karena pernah mempelajari bahasa lain sebagai penutur kedua atau ketiga.
Pernah Telat Lulus karena Memilih Konferensi Internasional
Dinilai sukses karena berhasil tembus karier internasional bukan berarti perjalanannya serba lancar. Setidaknya, ada satu hal yang harus dikorbankan. Ini juga yang dilakukan Fakhri.
Fakhri disebut telat lulus kuliah. Kala itu, ia menunda penelitian skripsinya demi mengikuti kegiatan internasional. Keputusan tersebut membuatnya lulus lebih lambat dibanding sebagian teman seangkatannya.
"Waktu itu menunda mengambil data untuk penelitian skripsi saya karena mengikuti event internasional. Jadi saya telat lulus S1 di semester 9," ungkapnya.
Keputusan itu tentunya bukan hal yang sia-sia. Pengalaman internasional yang dikumpulkan sejak muda justru menjadi modal penting pada tahap berikutnya.
Membawa Bahasa Indonesia ke Harvard
Kesempatan makin terbuka lebar ketika Fakhri lolos program beasiswa non-gelar Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA). Program Fulbright FLTA merupakan program pertukaran internasional yang memberikan kesempatan bagi pengajar bahasa asing untuk mengajar sekaligus meningkatkan kemampuan akademiknya di Amerika Serikat.
Melalui program tersebut, Fakhri ditempatkan di Harvard Kennedy School (HKS), sekolah pascasarjana yang berada di bawah Harvard University.
Di sana, ia mengajar Bahasa Indonesia kepada mahasiswa, peneliti, staf kampus, hingga masyarakat akademik di kawasan Boston Raya.
Dalam keterangan resmi Harvard Kennedy School disebutkan bahwa Fakhri membimbing peserta melalui kurikulum Bahasa Indonesia yang dirancang untuk berbagai tingkat kemampuan, mulai dari pemula hingga mahir.
Kelas tersebut tidak hanya mengajarkan tata bahasa dan percakapan sehari-hari, tetapi juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada para peserta.
Fakta ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi nasional, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Meski berstatus pengajar, Fakhri mengaku sempat merasa tertinggal ketika pertama kali berada di lingkungan Harvard. Ia melihat mahasiswa di sana sangat aktif berdiskusi, kritis, dan kompetitif.
"Saya merasa paling tertinggal kalau di kelas di awal-awal," katanya.
Hal lain yang membuatnya terkesan adalah hubungan antara profesor dan mahasiswa yang lebih cair. Menurutnya, jarak hierarkis yang sering ditemukan di sejumlah kampus Asia tidak terlalu terasa di Harvard.
"Hubungan antara dosen atau profesor dan mahasiswa di sini lebih santai, tidak ada gap," ujarnya.
Pengalaman tersebut memberinya perspektif baru mengenai budaya akademik internasional yang menempatkan dialog dan pertukaran gagasan sebagai bagian penting dari proses belajar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


