Pandemi Covid-19 sempat mengacaukan rencana karier Luthfin Abidah di luar negeri. Akan tetapi toh ia tidak menyerah. Sekarang malah ia jadi Young Staff Manager di salah satu perusahaan peternakan sapi berskala besar di Australia. Sebuah posisi yang tak banyak diraih lulusan perguruan tinggi Indonesia, apalagi di industri peternakan negeri kanguru yang dikenal sangat ketat standarnya.
Luthfin adalah alumnus Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016. Kala itu, ia sudah menyusun rencana untuk menjadi perantau di negara lain. Sayang seribu sayang, pandemi meruntuhkan banyak mimpi, termasuk Luthfin.
Ia pun tak berdiam diri. Sembari kembali menyusun rencana sekaligus menanti peluang baru, Luthfin memilih membantu mengelola usaha peternakan sapi perah milik keluarganya sendiri.
Untungnya, peluang itu benar-benar datang. Hasil wawancaranya dengan salah satu media di Australia rupanya menarik perhatian perusahaan peternakan tempatnya bekerja sekarang.
"Setelah rencana karier sempat tertunda karena pandemi, hasil wawancara saya dengan media Australia justru memancing perhatian perusahaan peternakan. Mereka kemudian langsung menghubungi dan merekrut saya untuk menangani berbagai operasional mulai dari merawat anak sapi hingga mengoperasikan alat pertanian modern," kenang Luthfin, Rabu (29/7/2026), sebagaimana dikutip dari laman UMM.
Berawal dari Magang 10 Minggu di Australia
Bisa sampai dicari perusahaan, Luthfin jelas bukan tipikal orang yang minim pengalaman. Semasa mahasiswa, ia mengikuti NTCA Indonesia Australia Pastoral Program (NIAPP), program magang dan pertukaran yang diselenggarakan Northern Territory Cattlemen's Association (NTCA).
Selama sepuluh pekan, ia ditempa langsung di lapangan dengan pelatihan intensif seputar praktik peternakan sapi potong modern, sekaligus penerapan standar animal welfare atau kesejahteraan hewan.
Kawan, animal welfare adalah standar perlakuan terhadap hewan ternak, mulai dari pakan, kandang, kesehatan, hingga cara penanganan agar hewan tidak stres. Di Australia, standar ini adalah syarat mutlak karena berkaitan langsung dengan kualitas daging sapi yang mereka ekspor ke banyak negara.
"Dulu saya pernah ikut program magang NIAPP ke Australia. Selama sepuluh minggu, perwakilan mahasiswa UMM ditraining intensif secara langsung seputar praktik beternak sapi potong modern serta penerapan animal welfare secara tepat," jelas Luthfin.
Program magang ini juga tidak sekadar memberi pengalaman. Luthfin pulang membawa sertifikat kompetensi setara Diploma 1 bidang Agriculture, lengkap dengan keterampilan dasar peternakan yang matang.
"Melalui program itu saya mendapat semacam sertifikat diploma, setara dengan sertifikat D1 Agriculture. Saya juga diajarkan seluruh kemampuan basic peternakan. Makanya, ketika saya mendaftar kerja di sini, skill peternak saya sudah terbentuk matang dan kompetensi itulah yang dilihat oleh perusahaan," ungkapnya.
Modal dari Organisasi Kampus yang Sering Diremehkan
Selain kemampuan teknis, ada satu hal lagi yang menurut Luthfin ikut membentuk kariernya, yakni pengalaman berorganisasi selama kuliah.
Ia aktif sebagai asisten laboratorium, pengurus himpunan mahasiswa, sekaligus mengikuti program Learning Express (LEx) yang berkolaborasi dengan Singapore Polytechnic.
"Masa-masa kuliah di UMM sangat berdampak besar bagi mental kerja saya. Aktif berorganisasi dan berkolaborasi dengan mahasiswa dari Singapore Polytechnic membuat saya terbiasa beradaptasi dan bekerja sama dalam lingkungan profesional yang beragam," tegasnya.
Pengalaman lintas budaya ini rupanya bisa jadi bekal yang sangat dibutuhkan saat bekerja di lingkungan multinasional. Kemampuan teknis saja ternyata tidak cukup tanpa kesiapan mental untuk beradaptasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


