Di balik luasnya kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, terdapat kehidupan yang terus berjalan setiap hari. Sampah yang bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang harus dibuang, bagi keluarga pemulung justru menjadi bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan.
Namun, untuk memahami kehidupan mereka, melihat aktivitas memulung dari kejauhan tentu tidak cukup.
Melalui penelitian yang dilakukan Tim PERNIK PKM-RSH IPB University, tim melakukan wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap keluarga pemulung di TPA Galuga.
Dari 30 keluarga yang menjadi bagian dari tahap awal penelitian, dipilih lima informan untuk ditelusuri lebih jauh. Menariknya, kelima peneliti dalam tim masing-masing mengikuti satu keluarga sehingga pengalaman dan cerita yang diperoleh dapat digali secara lebih mendalam.
Lima Keluarga, Lima Cerita
Pemilihan lima keluarga dilakukan berdasarkan kriteria tertentu. Keluarga yang dipilih memiliki keterlibatan minimal dua generasi dalam aktivitas memulung serta memiliki ketergantungan ekonomi utama pada pekerjaan tersebut.
Kelima keluarga yang ditemui menunjukkan bahwa kehidupan pemulung tidaklah seragam. Masing-masing memiliki pengalaman, cara pandang, serta hubungan yang berbeda dengan pekerjaan memulung.
Ada informan yang sejak kecil beradaptasi dengan lingkungan pemulung hingga pekerjaan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya. Ada pula pemulung yang tetap bekerja meskipun telah memasuki usia lanjut. Salah satu informan bahkan masih memulung pada usia 80 tahun.
Di sisi lain, terdapat informan yang secara terbuka mengkritisi kondisi pekerjaan sebagai pemulung. Ada pula pasangan suami-istri yang sama-sama menggantungkan penghasilan dari aktivitas tersebut.
Sementara itu, informan lainnya memiliki keterampilan tertentu yang berkembang dari lingkungan tempat mereka hidup dan bekerja.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa keluarga pemulung tidak dapat dipandang sebagai kelompok yang memiliki pengalaman yang sama. Di balik pekerjaan yang terlihat serupa, terdapat cerita dan cara bertahan hidup yang berbeda.
Dari Terpaksa hingga Terbiasa
Hasil wawancara Tim PERNIK PKM-RSH IPB University menunjukkan bahwa pekerjaan memulung pada awalnya tidak selalu dipandang sebagai pilihan yang diinginkan. Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu alasan seseorang akhirnya memilih pekerjaan tersebut.
Seperti yang disampaikan Teh SR:
“Tadinya kalau kita bisa milih mah ya neng, nggak mau ya kerja gitu ya. Iya. Pengen kayaknya liat-liat orang bisa sampai kuliah begitu ya. Ya, keadaan orang tua nggak punya, gimana lagi.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan untuk memulung dapat muncul dari keterbatasan pilihan.
Namun, pengalaman menjalani pekerjaan tersebut secara terus-menerus kemudian membentuk pemaknaan yang berbeda. Bagi sebagian informan, pekerjaan yang awalnya terasa berat perlahan menjadi sesuatu yang biasa.
Bau yang melekat setelah bekerja, misalnya, pada awalnya dapat terasa mengganggu. Akan tetapi, setelah terbiasa, kondisi tersebut mulai dianggap sebagai bagian dari pekerjaan.
Bapak LB menggambarkan proses tersebut dengan sederhana:
“Iya. Kalau udah kebiasaan nggak bau. Dulu waktu istri saya pertama mulung, saya belum pernah mulung. Kayaknya biar dia udah mandi, udah apa, tetep badannya bau.”
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan tidak hanya memengaruhi kondisi fisik seseorang, tetapi juga dapat mengubah cara seseorang memahami dan menerima pekerjaannya.
Ketika Memulung Dimaknai sebagai Pekerjaan yang Halal
Menariknya, keterbatasan ekonomi tidak selalu menghasilkan pandangan negatif terhadap pekerjaan memulung. Bagi beberapa informan, pekerjaan tersebut tetap memiliki nilai karena memberikan penghasilan melalui cara yang mereka anggap halal.
Ibu RT, misalnya, mengatakan “Ya terpaksa turun begituan. Kerja gitu. Kata orang yang penting halal.”
Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar dalam memaknai kelayakan pekerjaan. Memulung mungkin bukan pekerjaan yang sejak awal diinginkan, tetapi selama dapat dilakukan dengan cara yang dianggap halal dan menghasilkan pendapatan, pekerjaan tersebut tetap dijalani.
Selain itu, terdapat pula pengalaman mengenai kebebasan dalam menentukan waktu dan intensitas bekerja. Bapak IS menggambarkan pekerjaannya sebagai bentuk kemandirian:
“Kalau di sini kan bebas, gimana kita, kita bosnya, arti bagi saya di sini.”
Dengan demikian, pekerjaan memulung tidak hanya dipahami dari sisi beratnya pekerjaan atau stigma yang melekat, tetapi juga dari pengalaman memperoleh penghasilan dan memiliki kendali atas pekerjaan sendiri.
Di Tengah Stigma dan Kenyataan
Meski demikian, penerimaan terhadap pekerjaan memulung bukan berarti tidak ada pengalaman negatif. Beberapa informan pernah menerima ejekan dan stigma dari lingkungan sosialnya.
Teh EL menceritakan pengalamannya ketika diledek karena bekerja sebagai pemulung, “Terus aku kesini-sininya kan suka diledekin ya ama temen gitu. Masa gitu, anak gadis mungut, kan bau. Suka gitu. Makanya aku dari situ tuh, berhenti dulu.”
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persepsi terhadap pekerjaan tidak hanya dibentuk oleh pengalaman pribadi, tetapi juga oleh bagaimana lingkungan sosial memandang pekerjaan tersebut.
Namun, stigma dari luar tidak selalu menghasilkan respons yang sama. Ada yang sempat berhenti, ada yang tetap bertahan, dan ada pula yang justru menemukan makna positif dari pekerjaannya.
Karena itu, memahami keluarga pemulung membutuhkan lebih dari sekadar melihat kondisi ekonomi mereka. Pengalaman, interaksi sosial, kebiasaan, serta cara mereka memaknai pekerjaan turut membentuk keputusan untuk bertahan.
Lima Keluarga, Satu Realitas yang Kompleks
Mengikuti lima keluarga secara mendalam membuat Tim PERNIK PKM-RSH IPB University menemukan satu hal penting: memulung tidak dapat dipahami hanya sebagai pekerjaan mencari barang bekas.
Bagi satu keluarga, pekerjaan tersebut mungkin merupakan konsekuensi dari keterbatasan ekonomi. Bagi keluarga lain, memulung dapat menjadi pekerjaan yang sudah terbiasa dijalani.
Bagi yang lain, pekerjaan tersebut menjadi sumber kemandirian dan penghasilan. Sementara bagi sebagian lainnya, pekerjaan tersebut tetap menyimpan keinginan untuk memperoleh kehidupan yang berbeda.
Perbedaan pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa realitas kehidupan keluarga pemulung jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat dari aktivitas mereka di TPA.
Melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, kelima keluarga tidak hanya menjadi sumber informasi penelitian. Mereka juga membuka ruang bagi Tim PERNIK PKM-RSH IPB University untuk melihat bagaimana sebuah pekerjaan dipahami, dijalani, dinegosiasikan, bahkan dikritisi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, memahami keluarga pemulung bukan hanya tentang mengetahui mengapa mereka memulung, tetapi juga tentang memahami bagaimana mereka memaknai pekerjaan tersebut dan bagaimana pengalaman itu membentuk kehidupan keluarga mereka dari waktu ke waktu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


