kezia uineke sukses tunaikan impiannya lulus program double degree ugm dan university of leeds - News | Good News From Indonesia 2026

Kezia Uineke Sukses Tunaikan Impiannya, Lulus Program Double Degree UGM dan University of Leeds

Kezia Uineke Sukses Tunaikan Impiannya, Lulus Program Double Degree UGM dan University of Leeds
images info

Kezia Uineke, lulus dari UGM dan University of Leeds sekaligus


Bagi Kezia Uineke, kuliah di dua negara bukan sekadar soal memiliki dua pengalaman kampus. Di University of Leeds, Inggris, ia justru mendapat kesempatan untuk masuk lebih jauh ke dunia riset.

Lewat program double degree Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Kezia mempelajari bioteknologi sekaligus menjalani penelitian tentang mutasi protein yang berkaitan dengan kanker ovarium.

Namanya menjadi salah satu dari enam lulusan program Double Degree S1 IUP Biologi UGM dengan University of Leeds yang mengikuti wisuda pada Rabu (19/8/2026). Total ada 129 mahasiswa Fakultas Biologi yang mengikuti upacara wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan UGM di Grha Sabha Pramana.

baca juga

Sejak Awal Sudah Mengincar Kuliah di Dua Kampus

Ketertarikan Kezia pada program double degree muncul ketika ia mencari informasi tentang UGM. Ia menemukan bahwa kampus tersebut memiliki kerja sama dengan sejumlah universitas di luar negeri.

“Aku dari sebelum masuk UGM sudah merencanakan dan memang mengincar double degree-nya,” ujar Kezia, Kamis (27/8/2026).

Kesempatan itu kemudian ia kaitkan dengan minatnya pada bioteknologi. Di program yang dipilihnya, Kezia tidak hanya mempelajari biologi dan bioteknologi. Ada pula unsur bisnis melalui pilihan Biotech with Enterprise.

“Aku memang minatnya sebenarnya dari awal itu di biotek. Dan kebetulan waktu itu ada pilihan Biotech with Enterprise. Berarti kan ada biologinya, bioteknya, sama ada segi bisnisnya juga,” jelasnya.

Bagi Kezia, kombinasi tersebut membuat ilmu yang dipelajari tidak hanya sebatas teori Ada perspektif tentang bagaimana pengetahuan di bidang biologi dan bioteknologi dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih aplikatif.

Program double degree kemudian membawanya menjalani pengalaman akademik di dua lingkungan pendidikan yang berbeda. Dan perbedaan itu terasa, terutama ketika ia mulai masuk laboratorium.

baca juga

Di Leeds, Mahasiswa Diberi Waktu untuk Benar-Benar Berpikir

Kezia merasakan pola praktikum di University of Leeds cukup berbeda dari yang ia temui di UGM.

Di UGM, kegiatan praktikum dapat terbagi dalam beberapa sesi dan mata kuliah. Sementara di Leeds, kegiatan laboratorium yang ia jalani lebih terfokus.

Mahasiswa bisa mendapat waktu lebih panjang untuk mengembangkan eksperimen. Mereka juga dituntut menentukan sendiri bagian yang ingin didalami.

“Kalau di sana itu semuanya fokus. Cuma ada satu atau dua lab tergantung mata kuliahnya ada lab atau enggak. Dan dari situ dikasih waktu biasanya satu bulan karena benar-benar kita disuruh mikir sendiri,” kata Kezia.

Bagi Kezia, pola tersebut membuat proses belajar terasa berbeda. Yang dikejar bukan hanya seberapa banyak materi yang bisa dipahami. Mahasiswa juga dituntut memiliki keterampilan untuk menjalankan penelitian. Mulai dari melakukan eksperimen, menulis karya ilmiah, hingga mempresentasikan hasil penelitian.

Ada pula keterampilan lain yang menurut Kezia tidak kalah penting. Ia belajar bagaimana menjelaskan penelitian dengan bahasa yang bisa dipahami masyarakat luas.

“Yang dipelajarin di situ bukan cuma yang kognitifnya, tapi juga skills-nya,” tuturnya.

Pengalaman tinggal di Leeds juga tidak selalu tentang laboratorium dan tugas kuliah.

Di sela kehidupan akademik, Kezia menikmati hal-hal sederhana dari lingkungan barunya. Salah satunya berjalan kaki dan melihat perubahan musim.

Perubahan tumbuhan menjadi hal yang menarik perhatiannya. Ia melihat bagaimana lingkungan berubah ketika musim berganti dan bunga mulai bermekaran.

“Musim dan tumbuhan yang berubah itu menarik banget untuk dilihat,” ungkapnya.

baca juga

Skripsinya Bukan Sekadar Tugas Akhir

Selain proses belajar, perbedaan juga terasa saat mengerjakan tugas akhir. Mahasiswa memilih supervisor yang memiliki laboratorium dan penelitian yang sedang berjalan. Dari sana, mahasiswa kemudian bergabung ke dalam penelitian tersebut.

“Kalau di sana sistemnya kita milih supervisor. Jadi nanti dari supervisor itu, dia yang nentuin kita penelitiannya apa,” jelas Kezia.

Dengan sistem tersebut, topik penelitian memang diberikan oleh supervisor. Namun, proses penelitian hingga penulisan tetap menjadi pekerjaan mahasiswa.

“Makanya mereka yang langsung keluarkan topiknya apa, tapi keseluruhannya seperti riset dan penulisannya itu kita yang ngelakuin,” katanya.

Kezia kemudian mengerjakan skripsi berjudul Bioinformatics Analysis of AHNAK2 and PIK3CA Protein Mutations in Ovarian Cancer. Secara sederhana, penelitian tersebut berusaha melihat perubahan pada protein yang mengalami mutasi pada kanker ovarium.

Kezia menggunakan pendekatan bioinformatika.

baca juga

Apa itu bioinformatika?

Bioinformatika merupakan bidang yang menggabungkan biologi dengan komputasi untuk mengolah dan menganalisis data biologis.

Dalam penelitian Kezia, pendekatan tersebut digunakan untuk membaca dan membandingkan data mengenai protein.

Ia berangkat dari sebuah dataset yang memuat sejumlah protein yang mengalami mutasi pada kanker ovarium. Dari data tersebut, Kezia memilih dua protein untuk dianalisis, yakni AHNAK2 dan PIK3CA.

Ia kemudian membandingkan sekuens protein normal dengan sekuens yang telah mengalami mutasi.

Dari perbandingan tersebut, ia melihat lokasi terjadinya mutasi. Ia juga mengamati perubahan struktur protein serta kemungkinan perubahan yang terjadi pada fungsi protein.

“Intinya aku melihat perubahan di situ dan aku melihat dari strukturnya juga, kira-kira berubahnya bagaimana,” jelasnya.

Dengan kata lain, skripsi tersebut tidak berhenti pada pertanyaan apakah suatu protein mengalami mutasi atau tidak. Kezia juga melihat bagaimana perubahan tersebut tampak pada struktur protein.

Di sinilah pengalaman belajar berbasis riset yang ia dapatkan di Leeds menjadi bagian penting dari tugas akhirnya.

baca juga

Dua Kampus, Dua Cara Belajar

Menjalani pendidikan di dua negara membuat Kezia dapat merasakan langsung perbedaan lingkungan akademik.

Di Leeds, ia merasakan hubungan mahasiswa dan dosen yang lebih formal. Sementara di UGM, ia justru merasakan dukungan yang lebih dekat dari para dosen dan tenaga kependidikan.

Bantuan itu ia rasakan mulai dari persoalan administrasi hingga kendala akademik selama mengikuti program.

“Dosen-dosen yang di UGM benar-benar supportive dan siap membantu kapanpun,” ujarnya.

Perbedaan tersebut justru membuat pengalaman kuliahnya terasa saling melengkapi.

UGM menjadi bagian dari fondasi akademiknya. Sementara Leeds memberinya ruang untuk mengembangkan kemandirian dalam berpikir dan melakukan penelitian.

Menurut Kezia, merasakan dua sistem pendidikan sekaligus membuatnya dapat melihat proses belajar dari perspektif yang berbeda.

“Menurutku, bisa merasakan dua-duanya di waktu yang sama itu hal yang pastinya bantu aku buat berkembang banget,” ungkapnya.

baca juga

Kerja Sama UGM-Leeds Sudah Berjalan Sejak 2016

Kawan, UGM dan University of Leeds telah memiliki hubungan kerja sama formal sejak 2016 melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di tingkat universitas. Bentuk kolaborasinya kemudian berkembang ke berbagai bidang, termasuk pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, dan program double degree.

Khusus Fakultas Biologi UGM, kerja sama dengan University of Leeds disebut telah terjalin sejak 2022.

Dalam informasi yang dipublikasikan Fakultas Biologi UGM pada Desember 2024, hingga saat itu tujuh mahasiswa Fakultas Biologi UGM telah diberangkatkan untuk mengikuti program double degree di Faculty of Biological Sciences, University of Leeds.

Pada kunjungan UGM ke Leeds pada Desember 2024, kedua pihak juga membahas kemungkinan memperluas program double degree ke jenjang magister dan doktoral.

Artinya, program yang dijalani Kezia bukan hanya membuka pengalaman akademik untuk dirinya sendiri. Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses mahasiswa UGM terhadap pendidikan dan riset internasional.

baca juga

Setelah Lulus, Kezia Ingin Lanjut Magister

Perjalanan Kezia di dunia akademik rupanya belum selesai.

Setelah menyelesaikan double degree, ia berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Pengalaman di UGM dan University of Leeds menjadi bekal yang menurutnya saling melengkapi. Ia mendapatkan dasar akademik di UGM, sekaligus pengalaman melakukan penelitian secara lebih mandiri di Leeds.

Karena itu, Kezia mendorong mahasiswa yang memiliki kesempatan mengikuti program double degree agar tidak buru-buru melewatkannya.

Baginya, manfaat program tersebut tidak hanya berupa gelar dari dua institusi.

Ada pengalaman tinggal di lingkungan baru. Ada cara belajar yang berbeda. Ada pula kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana penelitian dilakukan di tempat lain.

“Itu tidak cuma membuka perspektif baru, tapi juga kesempatan baru,” pungkas Kezia.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.