"Nama saya memang cuma satu huruf, yaitu Q. Biasanya teman-teman memanggil saya Q, Qi, atau Qiu," katanya.
Bukan tanpa alasan, malah ada cerita unik di balik nama salah satu mahasiswa baru ITB ini yang hanya terdiri dari satu huruf, Q.
Ternyata Penggemar Berat James Bond
Nama Q dipilih oleh orang tuanya setelah terinspirasi dari sebuah film.
Di film 007, ada karakter namanya Q, alias Quartermaster. Kerjaannya di balik layar, ngerancang gadget-gadget canggih buat dipakai si agen rahasia ketika beraksi. Karakter inilah favorit sang ayah, sampai akhirnya jadi nama anaknya.
"Ayah saya ingin saya bisa sepintar dan secerdik Q dalam film James Bond. Dia adalah kepala di bidang riset dan teknologi yang membuat berbagai teknologi canggih," tutur Q.
Belum selesai. Huruf Q dipilih karena berada di urutan ke-17 di alfabet. Angka 17 lalu dikaitkan sama 17 Agustus, sekaligus tanggal yang diyakini jadi momen turunnya Al-Qur'an. Jadi satu huruf ini merangkum tiga hal sekaligus, yakni cita-cita di bidang teknologi, semangat kemerdekaan, dan nilai keagamaan.
Pola nama pendek ini rupanya bukan cuma buat Q sendirian. Dua adiknya juga dikasih nama singkat, Ayna dan An Nawa. Jadi ini emang selera keluarga.
Gagal SNBP, Terus Belajar Sampai Malam
Saat ini, Q resmi jadi mahasiswa baru ITB. Tapi jauh sebelum menjadi keluarga kampus ini, ia lebih dulu merasakan penolakan.
Waktu itu, Q sempat pede banget bisa masuk ITB lewat jalur SNBP. Modalnya lumayan. Ia menawarkan prestasinya yang menjadi ranking tiga siswa eligible di SMAN 2 Kota Madiun, plus sertifikat kompetisi. Eh, ditolak.
"Setelah tidak lolos SNBP, saya mulai belajar lebih serius karena ITB memang menjadi kampus impian saya. Saya pernah belajar di tempat les dari siang sampai malam," katanya.
Penolakan itu jadi tamparan keras sehingga Q usaha lebih keras lagi. Ia mencatat semua materi subtes, kerjain latihan soal, ikut try out, evaluasi bagian yang lemah, dan ulang lagi dari awal. Musuh terbesarnya bukan soal fisika atau matematika, tapi rasa malas dan kebiasaan bandingin nilai sendiri sama nilai orang lain.
"Saya mencoba tidak terlalu melihat nilai orang lain agar tetap fokus memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan saya," ujarnya.
Hasil akhirnya, Q lolos lewat jalur SNBT dan diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan–Infrastruktur Sipil, Lingkungan, dan Kelautan (FTSL-ISLK) ITB.
Semua Berawal dari Guru IPA di Madrasah
Pilihannya untuk belajar di fakultas teknik ini ada alasannya. Pak Dian, guru IPA sewaktu duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah jadi inspirasi.
"Pak Dian menjadi salah satu guru yang membuat saya tertarik mempelajari bagaimana dunia ini bekerja. Dari beliau, saya mulai menyukai IPA, terutama fisika," ungkapnya.
Dari situ dia jadi doyan hal-hal yang melatih logika, rubik, sudoku, itung-itungan. Di luar pelajaran, ya seperti anak muda lain, doyan main gim dan badminton, olahraga yang udah dikenalin ayahnya sejak kecil.
Minatnya makin mengkristal pas dia bareng dua temannya, Rio dan Nafiis, juara satu lomba esai nasional bidang teknik sipil dan perencanaan di UNY. Dosen penilai bahkan bilang idenya bagus dan layak dikembangkan lebih jauh, bukan cuma buat dipajang jadi piala.
"Daripada gagasan itu hanya digunakan untuk lomba, menurut saya lebih baik direalisasikan. Apalagi, dosen di UNY mengatakan bahwa pemikiran kami bagus dan sebaiknya dikembangkan lebih lanjut," ujarnya.
Ketertarikan ke konstruksi juga tidak lepas dari kakeknya yang dulu kerja sebagai pekerja bangunan. Q melihat sendiri, di Madiun banyak lahan dan bangunan kosong yang sebenarnya bisa disulap jadi ruang yang berguna buat warga.
Q sendiri sebenarnya sudah "ketemu" ITB sejak umur empat atau lima tahun. Waktu itu dia baru pulang dari kebun binatang di Bandung bareng orang tuanya, terus lewat kawasan kampus. Ayahnya spontan bilang, itu Institut Teknologi Bandung. Siapa sangka obrolan sekilas di jalan itu nempel sampai bertahun-tahun kemudian, dan beneran kejadian.
"ITB terasa cocok bagi saya karena sejak awal saya memang ingin melanjutkan pendidikan di bidang teknik, terutama Teknik Sipil," tuturnya.
Targetnya IPK 3,5, Mimpinya Sampai Bangun Rumah di Bulan
Sekarang Q pasang target IPK di atas 3,5 dan lulus tepat waktu, lanjut S2 atau ikut Program Profesi Insinyur. Yang lebih penting buat dia, inovasi yang bakal dia bikin nanti harus bisa dinikmati semua orang, bukan cuma kalangan yang punya kuasa atau uang.
"Saya ingin menghasilkan inovasi atau penemuan yang dapat diakses semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki kuasa atau uang," ujarnya.
Buat Madiun, dia pengen nyumbang pemikiran soal keberlanjutan infrastruktur daerah. Dan iya, dia juga punya mimpi yang kedengarannya agak nggak masuk akal tapi asik didenger, ikut bangun rumah di bulan.
"Saya ingin tempat-tempat kosong di Madiun dapat dikembangkan menjadi bangunan yang bermanfaat bagi masyarakat. Saya juga pernah berpikir, mungkin suatu hari nanti bisa ikut membangun rumah di bulan," katanya.
Tapi dari semua mimpi besar itu, yang paling personal justru yang paling sederhana, bikin bangga kedua orang tuanya, Teguh Yunianto dan Sriyani.
"Saya tidak sabar memakaikan toga dan medali kelulusan kepada ayah dan ibu saya. Untuk Madiun, nantikan inovasi dan pemikiran saya bagi kelanjutan infrastrukturnya," tutur Q.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


