Dari 90 lulusan program doktor yang diwisuda Universitas Gadjah Mada pada 22 Juli lalu, hanya 28 orang yang berhasil mengantongi IPK sempurna 4,00. Salah satunya adalah I Made Sarmita.
Pria 37 tahun asal Badung, Bali itu menuntaskan studi doktoralnya di Program Studi Kependudukan hanya dalam waktu 2 tahun 10 bulan. Masa itu, jauh lebih cepat dari rata-rata masa studi doktor di UGM.
Masa studi rata-rata untuk lulusan Program Doktor (S3) di Universitas Gadjah Mada (UGM) berkisar antara 4 tahun hingga 4 tahun 10 bulan.
Perjalanan yang Tidak Berjalan Mulus
Made sendiri mengaku tidak menyangka bisa lulus dengan predikat pujian. Menurutnya, capaian ini membuktikan sebuah ungkapan lama bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha.
“Teriring dengan doa dan dukungan semua pihak, baik keluarga, dosen promotor dan ko-promotor, serta kolega yang lain,” katanya, dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (30/7).
Jejak akademik Made memang sebenarnya linear. Ia menempuh S1 Pendidikan Geografi di Undiksha Bali (2006–2010), lalu merantau ke Yogyakarta untuk S2 Kependudukan UGM (2011–2013).
Setelah rentang waktu cukup lama, ia kembali melanjutkan ke S3 di program studi yang sama pada 2023 hingga 2026.
“Saya memilih S3 Kependudukan karena linier dengan S2 saya sebelumnya, dan juga masih linier dengan studi S1,” ujarnya.
Pernah menjalani studi pascasarjana di UGM, bukan berarti S3-nya mulus dan tanpa hambatan sama sekali. Malahan, di awal perkuliahan, Made sempat dihantui kegalauan soal kepastian beasiswa yang tengah ia perjuangkan.
Made pun memilih bertahan dengan komitmennya, dan beasiswa itu akhirnya benar-benar didapat.
Merasa Dikejar-Kejar, tapi Itu yang Membuatnya Cepat Lulus
Salah satu kunci kecepatan studi Made adalah pengawasan ketat dari dosen pembimbing.
“Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi,” ungkapnya.
Makanya, Made menilai keberhasilan menyelesaikan studi doktor dengan predikat pujian bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tapi juga tentang strategi.
Nah, kali ini Made membagikan strategi konkret bagi calon mahasiswa S3 yang ingin lulus dengan predikat pujian.
Made menceritakan bagaimana proses itu ia rancang sejak jauh-jauh hari. Menurutnya, kunci utama lulus cepat dengan predikat pujian sudah dimulai sebelum perkuliahan resmi berjalan. Calon mahasiswa doktoral, katanya, sebaiknya sudah memiliki gambaran rencana riset bahkan sebelum mereka duduk di bangku kuliah.
Begitu semester pertama dimulai, rencana riset itu didiskusikan secara aktif bersama dosen maupun ketua program studi. Diskusi ini penting, sebab dari sanalah arah riset mulai dipertajam.
Jika rencana itu sudah cukup matang, langkah berikutnya adalah mengajukan permintaan kepada program studi terkait promotor dan ko-promotor yang sesuai bidang keilmuan.
“Jika sudah setengah matang, minta kepada prodi terkait calon promotor dan ko-promotor yang keilmuannya sesuai dengan rencana riset. Dipertimbangkan juga kesibukan, gaya komunikasi, dan karakteristik lain dari calon promotor dan ko-promotor,” jelasnya.
Pilih Promotor Sesuai Gaya
Made menekankan, memilih promotor bukan sekadar mencari nama besar. Kecocokan gaya komunikasi dan kesibukan pembimbing, menurutnya, sama pentingnya dengan kesesuaian bidang ilmu. Sebab, keduanya akan menentukan seberapa lancar proses bimbingan berjalan ke depannya.
Memasuki semester kedua, Made mendorong mahasiswa untuk tidak menunda ujian komprehensif. Semakin cepat ujian ini ditempuh, semakin cepat pula mahasiswa mendapat masukan yang membangun dari para penguji.
Pada tahap ini, menurut Made, mahasiswa biasanya sudah mulai punya gambaran soal peluang publikasi ilmiah, sehingga saat penelitian benar-benar dijalankan, hasilnya bisa langsung diarahkan untuk dipublikasikan. Bukan malah menunggu penelitian rampung baru memikirkan jurnal.
Soal publikasi ini, Made punya perhatian khusus. Ia menyoroti bahwa urusan publikasi jurnal justru menjadi kendala yang paling sering dihadapi rekan-rekan sesama mahasiswa doktoral.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya sikap selektif dalam memilih jurnal: disesuaikan dengan ketentuan masing-masing program studi, dan dipikirkan sejak awal riset, bukan belakangan setelah penelitian selesai dikerjakan.
Made menutup ceritanya dengan pesan sederhana bahwa dalam setiap proses yang dijalankan, perlu dinikmati.
“Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa,” katanya.
Ia berharap rekan-rekannya yang tengah menempuh studi doktoral tetap optimis bahwa apa pun bisa dikerjakan asal tekun dan tidak setengah hati.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


