nenek 65 tahun raih doktor di itb endiah tuntaskan mimpi yang tertunda 30 tahun - News | Good News From Indonesia 2026

Nenek 65 Tahun Raih Doktor di ITB, Endiah Tuntaskan Mimpi yang Tertunda 30 Tahun

Nenek 65 Tahun Raih Doktor di ITB, Endiah Tuntaskan Mimpi yang Tertunda 30 Tahun
images info

Nenek 65 Tahun Raih Doktor di ITB, Endiah Tuntaskan Mimpi yang Tertunda 30 Tahun


“Kesibukan saya adalah sebagai seorang peneliti, kemudian seorang nenek, dan saya Ketua Senam Tera Indonesia di Tangsel,” katanya dalam unggahan Instagram @itb1920 (23/4/2026).

Prosesi wisuda ITB April kali ini cukup unik dengan adanya seorang nenek yang juga menjadi peserta, di usianya yang ke-60 tahun. Ia adalah Endiah Puji Hastuti, seorang peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bergerak di bidang rekayasa nuklir.

Pendidikan yang ia tempuh kali ini merupakan kelanjutan dari studi master yang telah ia tamatkan sekitar 30 tahun lalu di kampus yang sama.

“30 tahun yang lalu saya lulus dari S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB. Kemudian ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang menurut saya belum selesai,” ujarnya.

Benar, Endiah Puji Hastuti baru memulai program doktor saat berusia 62 tahun. Di usia ketika banyak orang mulai mengurangi aktivitas, ia justru kembali kuliah, bergelut dengan jurnal ilmiah, dan menjalani riset yang tentunya tidak mudah.

“Saya masuk pada usia 62 tahun dan lulus pada usia 65 tahun,” katanya.

Pilihan yang diambil bukan tanpa alasan. Selama ini ia bekerja sebagai peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dunia riset membuatnya akrab dengan perkembangan ilmu, sekaligus menyadari bahwa ada hal yang ingin ia tuntaskan secara akademik.

Di sisi lain, memang bidang yang ia tekuni bukan bidang yang mudah. Rekayasa nuklir masih terdengar baru dan tabu, padahal dampaknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, Bahkan, teknologi nuklir juga bisa diaplikasikan di bidang medis dan energi. Oleh karena itu, ia ingin selalu meng-upgrade pengetahuannya.

“Kita perlu meningkatkan kapasitas diri untuk menambah ilmu, kemampuan, dan memperluas wawasan,” katanya.

baca juga

Bidang Keahlian Endiah Puji Hastuti

Mengutip laman BRIN, ia terlibat dalam riset manajemen penuaan reaktor, termasuk upaya menjaga keberlanjutan operasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG GAS). Ia juga mengkaji penerapan Time Limited Assumptions Analysis (TLAA), yaitu metode untuk memastikan sistem keselamatan reaktor tetap valid dalam jangka panjang.

Secara sederhana, riset ini memastikan bahwa reaktor tetap aman digunakan meski usianya terus bertambah.

Endiah juga menekankan pentingnya modernisasi sistem instrumentasi dan kendali (I&C). Sistem ini berfungsi seperti pusat kontrol yang memantau kondisi reaktor secara real-time. Jika tidak diperbarui, risiko kesalahan bisa meningkat.

Standar yang ia gunakan tidak main-main. Ia merujuk pada pedoman dari International Atomic Energy Agency (IAEA), lembaga internasional yang mengatur keselamatan nuklir.

Dari sini terlihat bahwa studinya bukan sekadar pencapaian pribadi. Ada kontribusi yang lebih luas, terutama untuk kesiapan Indonesia dalam mengelola teknologi nuklir, termasuk kemungkinan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir di masa depan.

Menariknya, kehidupan Endiah tidak hanya berada di laboratorium. Ia tetap menjalani peran sebagai nenek, aktif di komunitas, bahkan memimpin kegiatan senam. Ia pun memberikan pesan bagi para Gen Z.

“Kalau sedang kuliah, kita harus fokus ya. Apalagi kalau adik-adik yang Gen Z. Gen Z itu harus lebih kuat, karena pendidikan tidak pernah selesai,” pesannya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.