sisa makanan di piringmu mau dibawa ke mana belajar dari siswa banyuwangi yang mengubahnya jadi pakan ikan - News | Good News From Indonesia 2026

Sisa Makanan di Piringmu Mau Dibawa ke Mana? Ini Dia Hal Sederhana dari Siswa Banyuwangi yang Bisa Diterapkan

Sisa Makanan di Piringmu Mau Dibawa ke Mana? Ini Dia Hal Sederhana dari Siswa Banyuwangi yang Bisa Diterapkan
images info

Sisa Makanan di Piringmu Mau Dibawa ke Mana? Ini Dia Hal Sederhana dari Siswa Banyuwangi yang Bisa Diterapkan | Foto: unsplash


Pernah menyisakan nasi karena sudah kenyang? Atau mengambil lauk terlalu banyak, lalu beberapa menit kemudian sadar bahwa makanan di piring ternyata tidak sanggup dihabiskan?

Bagi satu orang, mungkin jumlahnya hanya beberapa sendok. Namun, jika kebiasaan yang sama terjadi setiap hari dan dilakukan banyak orang, sisa makanan bisa berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Masalah foodwaste sebenarnya dekat dengan kehidupan kita. Ia bisa muncul dari dapur rumah, meja makan, kantin sekolah, restoran, bahkan makanan yang sengaja dibeli tetapi akhirnya terlupakan.

Menariknya, sebuah sekolah di Banyuwangi menunjukkan bahwa menghadapi persoalan tersebut tidak selalu membutuhkan teknologi rumit. Para siswanya memulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sisa makanan di sekolah.

Ketika Sisa Makanan Tidak Langsung Berakhir di Tempat Sampah

Di SMP Negeri 3 Banyuwangi, sisa makanan tidak begitu saja dicampurkan dengan sampah lainnya. Para siswa mengumpulkan sisa makanan untuk dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Setelah maggot tumbuh, hasil budidayanya kemudian digunakan sebagai pakan ikan nila yang dipelihara di kolam sekolah.

Berita Banyuwangi melaporkan pada April 2026 bahwa para siswa SMPN 3 Banyuwangi telah mengelola sampah secara terstruktur. Sisa makanan siswa, termasuk sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Maggot yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pakan ikan nila.

baca juga

Sederhana, tetapi menarik. Sisa makanan yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai sampah ternyata masih bisa masuk ke dalam sebuah siklus baru. Sisa makanan→maggot→pakan ikan. Di sinilah cerita kecil dari sebuah sekolah di Banyuwangi menjadi relevan dengan persoalan yang lebih besar.

Masalah Food Waste Sering Dimulai dari Hal yang Sepele

Kita sering membayangkan food waste sebagai makanan dalam jumlah besar yang dibuang oleh restoran, hotel, atau industri makanan. Padahal, persoalan tersebut juga bisa dimulai dari rumah.

Nasi yang terlalu banyak dimasak. Sayuran yang lupa dimasukkan ke kulkas. Buah yang dibiarkan terlalu lama sampai rusak.

Makanan yang dibeli karena tergoda promo, tetapi akhirnya tidak sempat dimakan. Atau makanan di piring yang tersisa karena kita mengambil porsi lebih banyak daripada yang sanggup kita habiskan. Artinya, food waste bukan hanya persoalan tempat sampah.

Ia juga berkaitan dengan cara kita membeli, menyimpan, mengambil, memasak, dan mengonsumsi makanan. Karena itu, penyelesaiannya pun tidak harus selalu dimulai dari tempat pengolahan sampah. Bisa dimulai dari kebiasaan sebelum makanan menjadi sampah.

Mengapa Makanan yang Terbuang Perlu Dipikirkan?

Ada persoalan yang sering tidak terlihat ketika kita membuang makanan. Makanan tersebut tidak muncul begitu saja di atas meja.

Ada petani yang menanam bahan pangan. Ada air dan lahan yang digunakan. Ada tenaga manusia yang mengolahnya. Ada energi untuk memasak. Ada kendaraan yang mengangkutnya hingga sampai ke rumah atau restoran.

Ketika makanan tidak dimakan dan akhirnya dibuang, seluruh proses panjang tersebut menjadi sia-sia untuk makanan yang seharusnya bisa dikonsumsi.

Masalah berikutnya muncul ketika sisa makanan bercampur dengan sampah lain. Sampah organik yang sebenarnya masih dapat diolah akhirnya menjadi bagian dari timbunan sampah yang harus ditangani.

Karena itu, mengurangi makanan terbuang dari sumber menjadi langkah yang penting. Dan justru di titik inilah kebiasaan sederhana memiliki peran.

baca juga

Bukan Hanya di Sekolah

DinasLingkunganHidupBanyuwangi melaporkan bahwa Program Banyuwangi Hijau telah menjangkau 73 desa dan 23.410 rumah tangga. Sampah dikumpulkan dan dipilah melalui sistem pengelolaan berbasis kawasan. Hingga Mei 2026, fasilitas TPS 3R Balak disebut telah menangani lebih dari 14.145 ton sampah, termasuk sekitar 455 ton sampah organik. Di Kelurahan Bakungan, pengelolaan juga dilakukan melalui TPS 3R Omah Olah Sampah.

BeritaBanyuwangi melaporkan bahwa fasilitas tersebut melayani sekitar 3.000 warga dan mengolah sekitar dua kuintal sampah organik setiap hari. Hasil pengolahannya antara lain berupa pakan maggot, kompos, dan pupuk organik cair. Artinya, persoalan sampah makanan bisa ditangani dalam skala yang berbeda.

Di sekolah, bisa dimulai dari satu tempat makan. Di rumah, bisa dimulai dari satu dapur. Di lingkungan warga, bisa berkembang menjadi sistem pengelolaan bersama.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan di Rumah?

Tidak semua orang mempunyai kolam ikan atau tempat budidaya maggot. Karena itu, meniru Banyuwangi tidak berarti harus membuat sistem yang sama persis. Yang bisa ditiru adalah prinsipnya.

1. Ambil makanan secukupnya

2. Periksa persediaan sebelum berbelanja

3. Simpan makanan dengan benar

4. Bedakan makanan yang masih layak dengan sampah

5. Pisahkan sampah organik

Dari Sisa Makanan, Ada Pelajaran yang Lebih Besar

Kisah SMPN 3 Banyuwangi sebenarnya bukan hanya cerita tentang maggot. Ini adalah cerita tentang cara melihat sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna. Bagi sebagian orang, sisa makanan adalah akhir dari perjalanan sebuah makanan.

Bagi para siswa tersebut, sisa makanan justru bisa menjadi awal dari proses baru. Dari makanan menjadi pakan maggot. Dari maggot menjadi pakan ikan.

Sebuah siklus sederhana yang menunjukkan bahwa persoalan lingkungan kadang tidak membutuhkan jawaban yang rumit. Mungkin perubahan itu bisa dimulai dari satu piring makan. Mengambil nasi secukupnya.

baca juga

Menyimpan makanan yang masih layak. Membeli bahan pangan sesuai kebutuhan. Memisahkan sampah organik. Atau sekadar berhenti sejenak sebelum membuang makanan dan bertanya: “Apakah ini benar-benar sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi?”

Pertanyaan itu memang tidak akan menyelesaikan persoalan foodwaste Indonesia dalam semalam. Namun, jika semakin banyak orang mulai mengajukan pertanyaan yang sama, sisa makanan di rumah, sekolah, warung, dan tempat kerja tidak selalu harus menjadi akhir cerita. Bisa jadi, justru dari sanalah cerita berikutnya dimulai.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.