Kecerdasan artifisial generatif (AI generatif) kini sudah duduk di meja belajar mahasiswa. Ia membantu merangkum bacaan, menjelaskan konsep yang rumit, menyusun ide awal, bahkan menawarkan alternatif jawaban hanya dalam hitungan detik.
Bagi Kawan GNFI yang sedang kuliah, situasi ini mungkin terasa akrab. Teknologi membuat proses belajar lebih cepat dan praktis, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan penting: ketika jawaban semakin mudah diperoleh, apakah kemampuan berpikir kita ikut berkembang?
Pertanyaan itu relevan dengan peringatan Kementerian Komunikasi dan Digital pada 7 Agustus 2026. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria menekankan bahwa perguruan tinggi perlu menjaga kemampuan berpikir kritis mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan AI generatif.
Mahasiswa perlu memahami cara kerja, bias, dan keterbatasan AI, sehingga teknologi tidak menggantikan proses berpikir, melainkan menjadi alat bantu untuk menghasilkan solusi yang lebih baik.
Dari LOTS ke HOTS
Dalam Estetika Humanisme, kemampuan berpikir dibahas melalui konsep Lower Order Thinking Skills (LOTS) dan Higher Order Thinking Skills (HOTS).
LOTS berkaitan dengan kemampuan dasar seperti mengingat, memahami, dan menerapkan informasi. Sementara itu, HOTS bergerak ke proses yang lebih kompleks, seperti menganalisis, mengevaluasi, menciptakan, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Dua kemampuan ini sebenarnya sama-sama dibutuhkan. Kita tidak mungkin menganalisis sesuatu tanpa memiliki pengetahuan dasar.
Namun, persoalan muncul ketika proses belajar hanya berhenti pada mencari dan menerima jawaban. Di sinilah AI generatif dapat membawa dua kemungkinan yang sangat berbeda.
Jika mahasiswa meminta AI menjelaskan sebuah konsep, kemudian membandingkan penjelasan itu dengan modul, jurnal, atau sumber lain, mempertanyakan bagian yang kurang tepat, dan akhirnya menyusun kesimpulan sendiri, AI dapat mendorong proses berpikir tingkat tinggi.
Sebaliknya, jika pertanyaan langsung diserahkan kepada AI lalu jawabannya disalin tanpa dipahami, tugas memang selesai, tetapi proses belajarnya belum tentu terjadi.
Kemudahan yang Bisa jadi Jebakan
Kemudahan teknologi selalu memiliki sisi paradoks. Kalkulator membantu manusia menghitung lebih cepat, tetapi penggunaan tanpa batas dapat membuat kemampuan berhitung manual jarang terlatih. AI generatif membawa tantangan yang lebih luas karena ia tidak hanya menghitung. Ia dapat menulis, merangkum, menyusun argumen, membuat gambar, dan memberi rekomendasi.
Risikonya bukan hanya soal plagiarisme atau integritas akademik. Ada risiko ketika manusia terlalu sering “memindahkan” beban berpikirnya kepada mesin. OECD dalam Digital Education Outlook 2026 mengingatkan bahwa AI generatif dapat mendukung pembelajaran ketika digunakan dengan tujuan pedagogis yang jelas.
Namun, penggunaan yang tidak terarah dapat menghasilkan kinerja tugas yang terlihat baik tanpa selalu diikuti proses belajar yang mendalam.
UNESCO juga menempatkan pendekatan yang berpusat pada manusia sebagai prinsip penting penggunaan AI dalam pendidikan. Teknologi seharusnya memperkuat kapasitas manusia, bukan mengurangi agensi manusia. Artinya, keputusan akhir, penilaian terhadap informasi, kreativitas, dan tanggung jawab tetap harus berada di tangan pengguna.
Karena itu, saat AI memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, proses belajar justru seharusnya dimulai dari pertanyaan baru: apakah informasi ini benar? Apa sumbernya? Apakah ada sudut pandang lain? Apakah argumennya masuk akal? Bagian mana yang masih perlu diperiksa?
AI Bukan Lawan Berpikir Kritis
Menganggap AI otomatis membuat mahasiswa malas juga kurang tepat. Teknologi yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda bergantung pada cara kita menggunakannya.
AI dapat menjadi “teman diskusi” yang membantu membuka perspektif, bukan mesin yang mengambil alih seluruh pekerjaan berpikir.
Misalnya, mahasiswa sedang menganalisis konflik dalam organisasi. AI dapat diminta menawarkan tiga alternatif penyelesaian. Setelah itu, mahasiswa membandingkan kelebihan dan kekurangannya, menghubungkannya dengan teori manajemen konflik, mempertimbangkan kondisi organisasi, lalu memilih solusi yang paling tepat. Pada tahap ini, AI menyediakan bahan, tetapi manusia tetap melakukan analisis dan mengambil keputusan.
Cara seperti ini sejalan dengan HOTS. Kita bukan sekadar bertanya “apa jawabannya?”, tetapi bergerak ke “mengapa jawabannya demikian?”, “apa kelemahannya?”, dan “bagaimana jika kondisinya berbeda?”.
Justru pada era ketika informasi dapat dihasilkan dengan sangat cepat, kemampuan mempertanyakan informasi menjadi semakin berharga.
Tetap jadi Manusia di Tengah Teknologi
Estetika Humanisme pada dasarnya mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang mengumpulkan informasi. Manusia memiliki kemampuan menilai, memilih, berempati, menciptakan makna, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Karena itu, keberhasilan penggunaan AI seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat tugas selesai.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi membuat kita semakin mampu berpikir, belajar, dan mengambil keputusan dengan sadar.
AI generatif tidak harus menjadi ancaman bagi pendidikan. Ia dapat menjadi mitra belajar yang sangat kuat selama manusia tetap memegang kendali atas proses intelektualnya.
Mahasiswa masih perlu membaca, membandingkan sumber, meragukan informasi yang belum terverifikasi, menyusun argumen, dan berani memiliki pendapat sendiri.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah “seberapa pintar AI yang kita gunakan?”, melainkan “setelah menggunakan AI, apakah kita menjadi manusia yang lebih kritis?”
Jika jawabannya iya, teknologi sedang membantu kita naik dari sekadar menerima informasi menuju kemampuan berpikir yang lebih tinggi.
Namun, jika AI membuat kita berhenti bertanya dan hanya menunggu jawaban, kemudahan teknologi justru dapat menjauhkan kita dari esensi pembelajaran itu sendiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

