Pekasam adalah salah satu kuliner yang patut Kawan coba ketika berkunjung ke daerah Kalimantan Selatan. Apakah Kawan sudah pernah mencicipi makanan tradisional khas dari Kalimantan Selatan ini dulunya?
Pada dasarnya, pekasam merupakan sejenis kuliner yang terbuat dari fermentasi ikan tawar. Penggunaan ikan tawar ini sesuai dengan kekayaan alam yang ada di daerah tersebut.
Kalimantan memang dikenal memiliki banyak sungai besar yang melintasi setiap daerahnya. Keberadaan sungai-sungai ini juga menjadi rumah bagi ikan tawar yang mendiami daerah tersebut.
Potensi alam inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat hingga menciptakan pekasam sebagai kuliner khas yang berasal dari sana. Lantas bagaimana ulasan lebih lanjut seputar makanan tradisional khas dari Kalimantan Selatan tersebut?
Mengenal Pekasam, Makanan Tradisional dari Kalimantan Selatan Khas Suku Banjar
Pekasam menjadi salah satu makanan tradisional khas yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan. Selain di sana, makanan yang juga dikenal dengan nama iwak pekasam atau iwak samu ini juga bisa dijumpai di beberapa daerah lainnya, seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan tengah.
Makanan ini menjadi salah satu kuliner khas yang berasal dari masyarakat suku Banjar. Di Kalimantan Selatan, salah satu daerah yang dikenal sebagai pusat produksi pekasam adalah Desa Mahang Sungai Hanyar, Pandawan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Pekasam yang berasal dari daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama "Pekasam Mahang." Penamaan ini sesuai dengan Desa Mahang Sungai Hanyar yang menjadi pusat penghasil makanan tradisional khas Kalimantan Selatan tersebut.
Awet dan Tahan Lama
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, pekasam merupakan makanan yang terbuat dari fermentasi ikan air tawar. Terdapat beberapa jenis ikan air tawar yang biasa diolah untuk menjadi kuliner ini, seperti ikan sepat rawa, ikan papuyu, dan ikan haruan.
Dikutip dari laman HMPG ITB, terdapat beberapa langkah yang mesti dilewati dalam proses fermentasi pekasam. Pada awalnya, semua ikan air tawar yang digunakan akan dibersihkan terlebih dahulu, termasuk sisik dan isi perutnya yang dibuang.
Setelah itu, ikan air tawar ini akan direndam air larutan garam. Proses merendam ini akan dilakukan selama 48 jam dan tidak boleh terkena udara terbuka sama sekali.
Langkah berikutnya, ikan air tawar yang sudah direndam selama dua hari akan dibersihkan terlebih dahulu. Selanjutnya ikan air tawar ini akan dibubuhi sayur asin yang menjadi sumber bakteri asam laktat serta nasi atau tape sebagai sumber karbohidrat.
Ikan air tawar yang sudah dibubuhi ini kemudian akan disimpan di wadah tertutup dan kembali didiamkan selama sepekan. Proses ini nantinya akan memaksimalkan fermentasi dalam pembuatan pekasam.
Fermentasi ikan air tawar menjadi pekasam ini membuat makanan ini cukup awet dan tahan lama. Selain itu, pembuatan pekasam juga bisa memaksimalkan hasil tangkapan ikan masyarakat yang melimpah.
Jika tidak diolah atau difermentasikan, maka ikan-ikan tersebut bisa saja busuk dan terbuang begitu saja. Setelah diolah menjadi pekasam, ikan air tersebut bisa bertahan lebih kurang satu bulan lamanya.
Bahkan makin lama pekasam diawetkan, maka cita rasanya akan makin asin dan nikmat. Proses fermentasi yang menggunakan bahan-bahan alami juga memberikan rasa asam yang bisa dirasakan ketika mengonsumsi makanan tradisional khas Kalimantan Selatan tersebut.
Sebelum dikonsumsi, pekasam biasanya akan digoreng terlebih dahulu. Setelah itu, pekasam bisa dinikmati selayaknya lauk pauk bersama nasi dan sambal untuk memperkaya cita rasa yang dirasakan ketika mengonsuminya.
Memakan pekasam juga dipercaya berkhasiat baik untuk kesehatan tubuh. Dikutip dari laman Wonderful Indonesia, kandungan probiotik yang ada dalam pekasam diyakini bagus untuk kesehatan pencernaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


