raeni anak tukang becak yang diantar wisuda dengan becak kini jadi doktor dan asisten profesor di inggris - News | Good News From Indonesia 2026

Raeni, Anak Tukang Becak yang Diantar Wisuda dengan Becak, Kini Jadi Doktor dan Asisten Profesor di Inggris

Raeni, Anak Tukang Becak yang Diantar Wisuda dengan Becak, Kini Jadi Doktor dan Asisten Profesor di Inggris
images info

Raeni, wisudawan Unnes yang diantar pakai becak 2014 lalu kini sukses berkarier di Inggris


Publik tahu Raeni sebagai anak tukang becak yang sukses lulus kuliah dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,96. Pada masa itu, yang menarik dari kisahnya adalah ketika Raeni wisuda dan diantar menggunakan becak. Hal tersebut lantas membuat nama Raeni banyak dibicarakan—dengan nada positif dan inspiratif tentunya.

Setelah lulus S1, Raeni dapat beasiswa ke Inggris hingga jadi doktor. Kisahnya tentu saja makin menarik dan inspiratif.

Melanjutkan pendidikan ke luar negeri jelas sebuah prestasi. Yang tidak banyak orang tahu, sebelum berhasil berangkat S3, Raeni harus menghadapi tiga masalah terkait biaya pendidikan. Meski demikian, Raeni pada akhirnya tetap bisa melanjutkan belajarnya hingga meraih doktor.

baca juga

Gelar S2 Saja Belum Terasa Cukup

Selesai kuliah S1, Raeni berhasil meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)—salah satu beasiswa paling kompetitif yang dikelola pemerintah Indonesia—untuk melanjutkan studi S2 di University of Birmingham, Inggris. Ia kemudian lulus pada Desember 2016.

Pulang ke Indonesia, Raeni langsung mengabdi di almamaternya. Ia menjadi dosen Pendidikan Ekonomi konsentrasi Pendidikan Akuntansi di Unnes.

Kondisi keluarganya pun mulai membaik. Sang ayah yang dulu harus merangkap kerja sebagai tukang becak sekaligus penjaga malam sekolah, kini cukup bekerja sebagai penjaga malam dan pengantar jemput keluarga mantan Bupati Kendal.

Tapi Raeni jelas tidak berhenti di situ. Bagi Raeni, pendidikan bukan sekadar tiket menuju finansial yang stabil. Ia melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang—dengan return optimal yang baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Untuk itu, dengan dukungan penuh kedua orang tuanya, Raeni memutuskan untuk mendaftar S3.

baca juga

Jalan Berliku Menuju Beasiswa Kedua

Mendapatkan beasiswa LPDP untuk S3 ternyata tidak semudah mengulang pengalaman sebelumnya. ia harus dihadapkan berbagai masalah pembiayaan.

Pertama, beasiswa dari kampus sendiri. Ya, Raeni sempat masuk dalam daftar pendek (shortlist) beasiswa dari University of Birmingham. Tapi beasiswa itu tidak menanggung seluruh biaya studi, sehingga ia terpaksa melepaskan kesempatan itu.

Beasiswa ini sempat dipertimbangkan. Sayangnya, skema pembiayaan yang ditawarkan tidak menanggung semua biaya. Alhasil, gugur karena tidak sesuai kriterianya.

Ia kemudian mencoba jalur lain, yakni Beasiswa Unggulan Dikti-LPDP, yang dirancang khusus untuk dosen. Masalahnya, Raeni belum memiliki NIDN—Nomor Induk Dosen Nasional—sehingga secara sistem ia tidak bisa mendaftar.

baca juga

Yang ketiga ini lah, beasiswa lanjutan LPDP yang berhasil membuka jalan karier akademik Raeni untuk mencapai posisi yang lebih tinggi. Meski tidak mulus juga, sebab ada satu syarat administratif yang bermasalah di tengah jalan.

Jalan ketigalah yang akhirnya terbuka: beasiswa lanjutan LPDP dari jenjang magister ke doktoral. Prosesnya tidak mulus sepenuhnya karena ada satu syarat administratif yang sempat bermasalah. Namun, Raeni tetap lolos seleksi.

Sebelum mendaftar, Raeni tidak langsung memilih Birmingham. Ia mendaftar ke beberapa universitas di berbagai negara, mempertimbangkan semua pilihan.

Setelah proses konsultasi panjang, ia kembali memilih University of Birmingham. Kali ini dengan profesor pembimbing yang berbeda dari masa S2-nya, sehingga ia harus menjalani wawancara langsung dengan calon profesor dan Program Director S3 sebelum mendapatkan Unconditional Offer Letter—surat yang menyatakan ia diterima tanpa syarat tambahan.

Raeni mulai menempuh studi S3-nya di Birmingham per 1 Oktober 2018.

Pada 2023, Raeni resmi menyandang gelar doktor dari University of Birmingham. Perjalanan dari anak tukang becak di Kendal menjadi doktor lulusan universitas ternama Inggris itu pun tuntas—setidaknya untuk babak ini.

Kini ia kerap diundang sebagai narasumber di berbagai forum dan webinar. Dalam salah satu webinar bertajuk "Peluang Beasiswa (S2–S3) untuk Alumni Bidikmisi/KIP Kuliah" yang digelar Agustus 2023, Raeni berbagi pengalamannya kepada generasi penerima beasiswa berikutnya.

baca juga

Pesan yang Lebih dari Sekadar Motivasi

Yang membedakan Raeni dari sekadar kisah inspiratif biasa adalah konkretnya saran yang ia berikan.

Ia tidak hanya bicara soal semangat dan tekad. Raeni menekankan pentingnya diversifikasi kompetensi—memiliki lebih dari satu keahlian agar seseorang siap menghadapi berbagai perubahan di dunia kerja.

"Kita dituntut untuk jeli memilih, dan yang kedua adalah perlu kita diversifikasi kompetensi kita," ujarnya.

Selain itu, ia menyebut critical thinking atau kemampuan berpikir kritis sebagai bekal paling penting yang ia bawa dari bangku kuliah. Bukan sekadar hafalan atau nilai, tapi kemampuan menganalisis masalah, berpikir kreatif, dan beradaptasi.

Raeni juga menyoroti pentingnya manajemen waktu, memiliki mentor yang tepat, dan pentingnya environment atau lingkungan yang mendukung pertumbuhan.

"Environment membentuk kita menjadi seperti apa. Oleh karena itu, carilah environment yang tepat, ekosistem yang tepat, dan tentunya exposure," tegasnya.

baca juga

Soal beasiswa Bidikmisi yang kini bernama KIP Kuliah, Raeni menyebut program itu sebagai fondasi perjalanannya.

"Beasiswa ini memberikan infrastruktur kepada saya untuk menggali potensi dan juga mengembangkan potensi," ujar Raeni, yang merupakan angkatan pertama penerima Bidikmisi pada 2010.

Sang ayah yang dulu mengayuh becak mengantar putrinya wisuda kini menyaksikan putrinya pulang dengan gelar doktor dari Inggris. Cerita itu mungkin tidak akan pernah basi karena di dalamnya ada sesuatu yang sangat manusiawi: keyakinan bahwa pendidikan, bagaimanapun kerasnya jalan menuju ke sana, selalu layak diperjuangkan.

Raeni, M.Sc., Ph.D. memang sempat mengabdi sebagai dosen non-PNS di Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Namun, ia kini berkarier di Inggris dan menjabat sebagai Asisten Profesor di Departemen Akuntansi, Birmingham Business School, University of Birmingham.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.