di negeri yang terus berubah mengapa luka yang sama terus berulang - News | Good News From Indonesia 2026

Di Negeri yang Terus Berubah, Mengapa Luka yang sama Terus Berulang?

Di Negeri yang Terus Berubah, Mengapa Luka yang sama Terus Berulang?
images info

Rafifa Alima/ GNFI


Indonesia adalah negeri yang tidak pernah berhenti berubah. Dari masa ke masa, selalu ada cerita tentang kemajuan yang dibanggakan. Kota-kota tumbuh semakin padat, teknologi bergerak semakin cepat, dan berbagai pembangunan hadir sebagai simbol bahwa bangsa ini terus melangkah ke depan.

Setiap generasi menyaksikan bentuk perubahan yang berbeda. Ada yang hidup di era ketika informasi harus dicari dengan susah payah. Ada pula yang tumbuh di tengah banjir informasi yang datang setiap detik melalui layar gawai.

Namun, di balik berbagai perubahan itu, ada satu pertanyaan yang layak diajukan, mengapa luka yang sama terus berulang? Pertanyaan ini muncul ketika membaca ulang Sri Sumarah dan Bawuk, karya sastrawan Indonesia, Umar Kayam.

Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1975 itu mungkin lahir dari konteks sosial dan politik yang berbeda dengan Indonesia hari ini. Akan tetapi, ketika halaman demi halaman dibuka, pembaca justru menemukan sesuatu yang terasa akrab.

Bukan karena peristiwanya sama, melainkan karena persoalan yang dihadapi para tokohnya masih dapat ditemukan dalam kehidupan saat ini.

baca juga

Melalui Sri Sumarah dan Bawuk, Umar Kayam tidak bercerita tentang orang-orang yang memiliki kuasa besar. Ia tidak menempatkan pejabat, pemimpin, atau tokoh penting sebagai pusat cerita.

Sebaliknya, ia memilih menghadirkan kehidupan orang-orang biasa yang harus menjalani dampak dari berbagai perubahan yang terjadi di sekeliling mereka.

Pilihan itu membuat novel ini terasa begitu manusiawi. Sebab dalam kenyataannya, sejarah sering kali lebih banyak dirasakan oleh mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk menentukan arah sejarah itu sendiri.

Sri Sumarah adalah salah satu gambaran paling kuat tentang bagaimana kehidupan dapat memaksa seseorang untuk terus bertahan. Ia bukan sosok yang melawan dunia dengan heroik.

Ia juga bukan tokoh yang mengubah keadaan secara revolusioner. Sri hanya berusaha menjalani hidupnya sebaik mungkin di tengah berbagai keterbatasan.

Namun justru dalam kesederhanaan itulah letak kekuatan ceritanya. Ia mewakili begitu banyak orang yang setiap hari berjuang tanpa pernah menjadi sorotan.

Jika Kawan GNFI memperhatikan kehidupan sehari-hari, sosok seperti Sri Sumarah sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hadir dalam berbagai wajah dan profesi, menjalani kehidupan yang sederhana tetapi penuh perjuangan yang jarang terlihat.

Mereka adalah para pekerja yang harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Mereka adalah para ibu yang memikul tanggung jawab keluarga tanpa pernah benar-benar memiliki ruang untuk mengeluhkan kelelahannya.

baca juga

Mereka adalah orang-orang yang terus berusaha bertahan ketika perubahan datang terlalu cepat dan kesempatan tidak selalu tersedia secara merata.

Sementara itu, Bawuk memperlihatkan sisi lain dari luka sosial yang diwariskan oleh perubahan. Kisahnya menunjukkan bahwa keputusan-keputusan besar yang lahir dari konflik politik atau pergolakan sosial tidak pernah berhenti pada ruang kekuasaan semata.

Dampaknya menjalar hingga ke kehidupan pribadi, keluarga, dan masa depan seseorang. Dalam banyak kasus, mereka yang paling merasakan akibatnya justru bukan para pengambil keputusan, melainkan masyarakat biasa yang tidak memiliki kendali atas keadaan.

Hal yang membuat Sri Sumarah dan Bawuk tetap relevan hingga hari ini adalah kemampuannya mengungkap kenyataan yang sering luput dari perhatian.

Kawan mungkin kita sering mendengar berbagai kabar tentang kemajuan, pertumbuhan, dan pencapaian yang diraih Indonesia. Semua itu tentu patut diapresiasi.

Namun di balik narasi besar tersebut, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah setiap lapisan masyarakat benar-benar merasakan kemajuan yang sama?

Tidak sedikit masyarakat yang masih harus berjuang menghadapi ketidakpastian hidup. Ada yang bekerja tanpa jaminan masa depan yang jelas.

Ada yang merasa tertinggal oleh perubahan yang bergerak terlalu cepat. Ada pula yang terus berusaha menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman meskipun sumber daya yang dimiliki sangat terbatas.

Mereka hidup di tengah perubahan, tetapi tidak selalu ikut menikmati hasil dari perubahan tersebut.

Ironisnya, masyarakat sering kali lebih suka merayakan kemampuan seseorang untuk bertahan daripada mempertanyakan mengapa mereka harus bertahan sedemikian keras.

baca juga

Ketika seseorang mampu melewati kesulitan hidup, ia dipuji sebagai sosok yang tangguh. Ketika berhasil bangkit dari keterbatasan, kisahnya dijadikan inspirasi. Namun jarang ada pembicaraan yang serius mengenai sistem sosial yang membuat perjuangan itu menjadi begitu berat sejak awal.

Di sinilah kritik sosial Umar Kayam terasa sangat tajam. Ia seolah mengingatkan bahwa tidak semua penderitaan harus dirayakan sebagai ketabahan.

Tidak semua kesulitan hidup harus dianggap sebagai ujian yang wajar. Ada kalanya sebuah masyarakat perlu bertanya mengapa sebagian warganya harus menanggung beban yang jauh lebih berat dibanding yang lain.

Mungkin itulah alasan mengapa Sri Sumarah dan Bawuk masih terasa hidup hingga sekarang. Novel ini tidak menawarkan solusi besar. Ia juga tidak memberikan jawaban sederhana atas berbagai persoalan sosial.

Namun melalui kisah orang-orang biasa, Umar Kayam mengajak pembaca melihat sisi kemanusiaan yang sering tertutup oleh narasi besar tentang perubahan dan kemajuan.

Membaca karya Umar Kayam hari ini menyadari bahwa perubahan tidak selalu memiliki makna yang sama bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, perubahan adalah peluang. Namun, bagi sebagian yang lain, perubahan justru menghadirkan ketidakpastian yang harus dihadapi setiap hari.

Ketika sebagian masyarakat mampu berlari mengikuti perkembangan zaman, ada pula yang masih berjuang agar tidak tertinggal terlalu jauh di belakang.

Pada akhirnya, Indonesia memang terus berubah. Jalan-jalan baru dibangun, teknologi terus berkembang, dan berbagai capaian baru terus diraih.

Namun, selama masih ada orang-orang yang harus berjuang sendirian menghadapi dampak perubahan, selama masih ada kelompok yang tertinggal ketika yang lain melaju, dan selama ketidakadilan terus menemukan bentuk-bentuk barunya, maka luka yang sama akan terus berulang.

Karena itu, sebelum terlalu sibuk merayakan perubahan, mungkin Kawan GNFI perlu mengajukan satu pertanyaan sederhana: siapa yang sebenarnya menikmati hasil perubahan itu, dan siapa yang diam-diam harus membayar harganya?

Pertanyaan itulah yang membuat Sri Sumarah dan Bawuk tetap relevan dibaca hingga hari ini, bahkan puluhan tahun setelah Umar Kayam menuliskannya. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

WA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.