Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah karya sastra yang memotret realitas kelam sebuah desa terpencil. Novel yang pertama kali terbit tahun 1980-an ini membawa pembaca menyelami kehidupan Dukuh Paruk, sebuah daerah yang terisolasi bukan hanya oleh letak geografis, tetapi juga oleh keterbelakangan pikiran masyarakatnya.
Di desa ini, pendidikan formal adalah hal yang asing karena seluruh sendi kehidupan mereka dikendalikan oleh kepercayaan yang berpusat pada makam leluhur mereka, Ki Secamenggala.
Warga Dukuh Paruk tumbuh dengan keyakinan mutlak bahwa berkah kehidupan, kesuburan tanah, hingga takdir seorang perempuan menjadi ronggeng adalah kuasa dari arwah Ki Secamenggala. Bagi mereka, tradisi bukanlah sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah manifestasi hukum adat yang keramat.
Bagi masyarakat Dukuh Paruk, tidak ada keperluan untuk Pendidikan. Melainkan tunduk pada leluhur dan merawat makam sang nenek moyang adalah cara tunggal untuk menjaga ketentraman hidup mereka.
"Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah tingkah ke-batinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana." (hlm.11)
Ketika sebuah desa menolak untuk maju dan memilih bersandar sepenuhnya pada kepercayaan terhadap leluhur serta takhayul, mereka menjadi sangat rentan dimanfaatkan dan dibodohi oleh dunia luar. Kepercayaan yang mereka anut ini memuncak ketika Srintil dipercayai telah terpilih menjadi ronggeng baru. Dalam struktur sosial Dukuh Paruk, ronggeng bukanlah sekadar profesi hiburan, melainkan institusi sakral yang memulihkan martabat desa. Masyarakat menganggap kemunculan titisan ronggeng pada diri Srintil sebagai anugerah spiritual langsung dari Ki Secamenggala.
Kepercayaan masyarakat terhadap Ki Secamenggala begitu kuat hingga segala peristiwa penting dalam kehidupan mereka. Keyakinan yang diwariskan ini membuat masyarakat menerima setiap tradisi sebagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. Akibatnya, mereka lebih mengandalkan petunjuk yang bersumber dari kepercayaan leluhur daripada pengetahuan atau pemikiran yang rasional. Melalui gambaran ini, Ahmad Tohari menunjukkan bagaimana dominasi kepercayaan terhadap leluhur dapat membentuk cara pandang dan perilaku seluruh masyarakat Dukuh Paruk.
Ahmad Tohari sebagi sebenarnya tidak semata-mata menempatkan tradisi sebagai penyebab utama persoalan di Dukuh Paruk. Melalui novel ini, ia justru memperlihatkan bagaimana masyarakat yang hidup dalam keterisolasian dan minim akses pendidikan menjadi rentan ketika tradisi dijadikan satu-satunya cara untuk memahami dunia. Kepercayaan terhadap leluhur yang diwariskan turun-temurun membuat masyarakat Dukuh Paruk sulit melihat realitas dari sudut pandang yang lebih luas.
Akibatnya, mereka menerima berbagai praktik sosial tanpa mempertanyakannya, termasuk ketika Srintil dipercaya sebagai titisan ronggeng yang dianggap sebagai anugerah spiritual dari Ki Secamenggala. Dalam struktur sosial Dukuh Paruk, ronggeng bukan sekadar profesi hiburan, melainkan institusi sakral yang diyakini mampu mengembalikan martabat desa.
Nah, Kawan GNFI, kisah dari Dukuh Paruk ini mengingatkan kita bahwa tradisi dan kepercayaan terhadap leluhur adalah komponen penting dari identitas suatu masyarakat. Namun, masyarakat dapat kehilangan kemampuan untuk memahami realitas secara lebih luas ketika tradisi menjadi cara memandang kehidupan tanpa diimbangi oleh pendidikan dan pemikiran kritis. Melalui Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari mengajak Kawan GNFI melihat bahwa persoalannya bukan terletak pada tradisi itu sendiri, melainkan pada keterisolasian dan keterbatasan pengetahuan yang membuat masyarakat menerima segala sesuatu tanpa mempertanyakannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


