Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, sebuah inovasi dari Indonesia berhasil mencuri perhatian dunia. Bukan berasal dari perusahaan teknologi raksasa atau laboratorium riset multinasional, melainkan dari seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melihat satu masalah sederhana: banyak orang membutuhkan bantuan psikologis, tetapi tidak semua berani meminta pertolongan.
Dari keresahan tersebut lahirlah UGM-AICare atau yang dikenal dengan nama Aika, sebuah layanan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk menjadi jembatan awal antara individu dan layanan kesehatan mental profesional. Inovasi ini bahkan berhasil meraih pengakuan internasional melalui kompetisi bergengsi EDU Chain Hackathon 2025.
Kisah ini menjadi bukti bahwa karya anak bangsa tidak hanya mampu menjawab persoalan lokal, tetapi juga mendapatkan apresiasi di tingkat global.
Ketika Teknologi Bertemu Empati
Masalah kesehatan mental bukan lagi isu pinggiran. Organisasi kesehatan dunia dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa tantangan psikologis semakin banyak dialami oleh generasi muda. Namun, stigma, rasa malu, hingga keterbatasan akses masih menjadi hambatan utama seseorang untuk mencari bantuan.
Dilansir dari ugm.ac.id yangmenyebut bahwa ide ini berangkat dari pengalaman melihat temannya yang mengalami kesulitan kesehatan mental saat mengikuti program pertukaran mahasiswa di Inggris, Giga Hidjrika Aura Adkhy, mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi UGM, mulai memikirkan solusi yang lebih mudah dijangkau masyarakat. Ia terinspirasi oleh sistem layanan psikologis digital yang tersedia di University of Liverpool dan kemudian mengembangkan pendekatan serupa yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di Indonesia.
Hasilnya adalah UGM-AICare (Aika), sebuah platform berbasis AI yang dapat membantu pengguna melakukan konsultasi awal, mengidentifikasi kebutuhan bantuan psikologis, serta menghubungkan mereka dengan konselor atau psikolog secara lebih cepat dan terstruktur.
Apa Itu UGM-AICare?
Berbeda dengan anggapan bahwa AI akan menggantikan peran tenaga profesional, Aika justru dirancang untuk mendukung proses layanan kesehatan mental.
Platform ini berfungsi sebagai lapisan pertama layanan psikologis. Pengguna dapat menyampaikan keluhan atau kondisi yang dialaminya melalui percakapan digital. Selanjutnya, sistem membantu memetakan kebutuhan pengguna dan memberikan arahan yang sesuai sebelum diteruskan kepada konselor atau psikolog apabila diperlukan.
Aika juga memiliki fitur pemantauan pascakonseling melalui pengingat berkala yang membantu pengguna tetap terhubung dengan proses pemulihan mereka. Ke depan, pengembangannya direncanakan akan terintegrasi dengan platform komunitas digital sehingga pengguna dapat memperoleh dukungan sosial yang lebih luas.
Yang menarik, teknologi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada kenyamanan emosional pengguna. AI dimanfaatkan untuk mengurangi hambatan psikologis seperti rasa malu, takut dihakimi, atau canggung ketika pertama kali mengungkapkan masalah pribadi.
Diakui Dunia Lewat Kompetisi Internasional
Inovasi yang dikembangkan secara mandiri oleh Giga ternyata berhasil menarik perhatian juri internasional.
UGM-AICare meraih Juara Pertama kategori "Play Track" dalam EDU Chain Hackathon 2025, sebuah kompetisi teknologi internasional yang diikuti berbagai inovator dari berbagai negara. Prestasi tersebut menjadikan karya mahasiswa Indonesia ini berdiri sejajar dengan berbagai solusi digital global yang memanfaatkan teknologi blockchain dan AI untuk menjawab tantangan masyarakat modern.
Pengakuan internasional ini bukan sekadar kemenangan kompetisi. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa solusi yang lahir dari lingkungan kampus Indonesia mampu menawarkan dampak nyata dan relevan bagi persoalan global.
UGM dan Misi Besar AI untuk Kemanusiaan
Keberhasilan Aika tidak hadir dalam ruang kosong. UGM dalam beberapa tahun terakhir memang aktif membangun ekosistem kecerdasan buatan melalui UGM AI Center of Excellence.
Pusat pengembangan AI tersebut menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin untuk menciptakan solusi berbasis teknologi di bidang kesehatan, pendidikan, industri, kebencanaan, hingga kebijakan publik. Salah satu fokus utamanya adalah pemanfaatan AI untuk layanan kesehatan (AI forHealthcare).
Selain Aika, UGM juga mengembangkan berbagai inovasi lain seperti sistem skrining depresi berbasis AI yang mengombinasikan analisis ekspresi wajah dan wawancara cerdas, serta PsyBot, chatbot berbasis WhatsApp yang memberikan bantuan psikologis awal kepada mahasiswa.
Langkah ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya digunakan untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi industri, tetapi juga dapat menjadi alat yang membantu meningkatkan kualitas hidup manusia.
Mengapa Inovasi Ini Penting bagi Indonesia?
Indonesia memiliki tantangan besar dalam layanan kesehatan mental. Jumlah tenaga profesional kesehatan jiwa masih belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Dalam kondisi seperti ini, teknologi dapat menjadi solusi pendukung yang membantu memperluas akses layanan. AI memang tidak dapat menggantikan empati manusia atau kompetensi psikolog profesional, tetapi dapat menjadi pintu masuk yang mempermudah seseorang mendapatkan bantuan lebih cepat.
Kehadiran inovasi seperti Aika juga menunjukkan bahwa anak muda Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Masa Depan AI Indonesia Dimulai dari Kampus
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dunia, kisah UGM-AICare menjadi pengingat bahwa inovasi besar sering kali lahir dari kepedulian terhadap masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika teknologi dipadukan dengan empati dan keberanian untuk mencari solusi, lahirlah karya yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan sekitar, tetapi juga mampu mendapatkan pengakuan internasional.
Aika mungkin berawal dari satu cerita tentang seorang teman yang membutuhkan bantuan. Namun hari ini, inovasi tersebut telah berkembang menjadi simbol bahwa generasi muda Indonesia mampu menciptakan teknologi yang lebih manusiawi, inklusif, dan berdampak bagi dunia.
Di balik setiap tantangan selalu ada peluang untuk berinovasi. Kisah UGM-AICare membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing di panggung global ketika dibangun di atas kepedulian, ilmu pengetahuan, dan keberanian untuk mencoba. Siapa tahu, solusi besar berikutnya untuk dunia juga sedang lahir dari ruang kelas, laboratorium, atau kamar kos mahasiswa Indonesia hari ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


