Transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kehadiran teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi salah satu penanda penting perubahan tersebut.
AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi.
Dalam konteks pendidikan, perkembangan AI menghadirkan peluang baru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif, efektif, dan adaptif sesuai kebutuhan peserta didik.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih personal dan interaktif. Teknologi ini dapat membantu guru dalam menyusun materi ajar, membuat media pembelajaran digital, menyusun evaluasi berbasis data, hingga menganalisis kebutuhan belajar siswa secara lebih cepat dan akurat.
Dengan dukungan AI, proses pembelajaran dapat dirancang lebih fleksibel sehingga mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik peserta didik.
Di tengah perkembangan tersebut, guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki posisi yang sangat strategis. Guru TIK bukan hanya berperan sebagai pengajar teknologi, tetapi juga menjadi penggerak transformasi digital di lingkungan sekolah.
Oleh sebab itu, penguatan kompetensi guru TIK menjadi kebutuhan yang mendesak agar mereka mampu memahami, memanfaatkan, dan mengimplementasikan AI secara bijak dalam proses pembelajaran.
Berangkat dari urgensi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto dan Pembina MGMP TIK se Kabupaten Mojokerto, Wuladi, S.Pd., M.Pd., berkolaborasi dengan Program Studi S2 Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menyelenggarakan pelatihan bagi guru TIK tingkat SMP se-Kabupaten Mojokerto (Rabu, 13/05/2026).
Kegiatan bimbingan teknis pembelajaran digital berbasis AI yang mengambil tema Tingkatkan Produktifitas dengan AI” ini menghadirkan para narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Dalam sambutannya, Dr. Rufi’i, ST. S.Si., M.Pd., menegaskan bahwa transformasi pendidikan berbasis AI tidak dapat berjalan optimal apabila kompetensi guru belum dipersiapkan secara memadai.
Penguasaan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan pedagogik, kreativitas, serta pemahaman etika dalam penggunaan AI.
Lebih lanjut, Pembina MGMP TIK Kabupaten Mojokerto, Wuladi, S.Pd., M.Pd., mengemukakan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik.
Kegiatan yang dipusatkan di SMP Negeri 1 Delanggu Kabupaten Mojokerto ini diikuti sekitar 65 peserta, terdiri dari para kepala sekolah dan guru SMP di Kabupaten Mojokerjo. Penguatan kompetensi guru bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam upaya membangun pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Permasalahan Aktual dan Strategi Solusi Pemecahannya
Salah satu permasalahan aktual dalam implementasi AI di dunia pendidikan adalah masih terbatasnya pemahaman guru terhadap konsep dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
Sebagian guru masih memandang AI hanya sebagai alat bantu teknologi biasa, padahal teknologi ini berpotensi besar dalam mendukung pembelajaran adaptif yang mampu menyesuaikan kebutuhan, kemampuan, dan gaya belajar siswa.
Selain itu, kompetensi digital guru yang belum merata menjadi tantangan serius dalam proses transformasi pendidikan digital.
Banyak guru masih mengalami kesulitan dalam menggunakan platform AI untuk menyusun perangkat pembelajaran, membuat media interaktif, maupun mengembangkan evaluasi pembelajaran berbasis teknologi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya didukung oleh ketersediaan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif.
Permasalahan lain yang dihadapi adalah masih terbatasnya pelatihan praktis terkait implementasi AI dalam pembelajaran, khususnya pada jenjang sekolah menengah pertama.
Guru membutuhkan pendampingan yang lebih aplikatif agar mampu menerapkan teknologi AI secara nyata dalam kegiatan belajar mengajar.
Di sisi lain, karakteristik peserta didik saat ini semakin kompleks karena mereka tumbuh di tengah budaya digital yang sangat dinamis.
Peserta didik generasi sekarang memiliki kecenderungan belajar yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka lebih dekat dengan teknologi, lebih cepat mengakses informasi, serta membutuhkan pembelajaran yang interaktif dan menarik.
Kondisi ini menuntut guru untuk lebih kreatif, inovatif, dan mampu menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan perkembangan zaman.
Sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan tersebut, diperlukan penguatan kompetensi guru TIK melalui pelatihan, pendampingan, dan kolaborasi berkelanjutan.
Guru perlu diberikan pemahaman yang komprehensif mengenai konsep dasar AI, etika pemanfaatan teknologi, serta strategi implementasi AI dalam pembelajaran adaptif.
Pelatihan berbasis praktik menjadi salah satu solusi yang efektif karena memberikan pengalaman langsung kepada guru dalam menggunakan berbagai platform AI untuk menyusun materi ajar, membuat media pembelajaran interaktif, menyusun evaluasi, hingga mengembangkan pembelajaran berbasis proyek.
Pendekatan praktik langsung akan membantu guru lebih percaya diri dalam mengintegrasikan teknologi AI ke dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kolaborasi antara sekolah, MGMP, perguruan tinggi, alumni, dan mahasiswa perlu diperkuat dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang berkelanjutan.
Perguruan tinggi dapat berperan sebagai pusat pengembangan ilmu dan pendampingan teknologi pendidikan, sedangkan MGMP dapat menjadi wadah berbagi praktik baik antarguru.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam mendukung transformasi digital melalui penyediaan fasilitas, kebijakan, dan budaya inovasi pembelajaran.
Dukungan kepala sekolah menjadi faktor penting agar guru memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi pembelajaran berbasis AI. Tanpa dukungan kelembagaan yang kuat, inovasi pembelajaran akan sulit berkembang secara optimal.
Namun demikian, perlu dipahami bahwa AI bukanlah pengganti guru. Teknologi hanyalah alat bantu untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Peran guru sebagai pendidik tetap tidak tergantikan karena pendidikan pada hakikatnya tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nilai, dan kepribadian peserta didik.
Oleh karena itu, penggunaan AI harus tetap mengedepankan nilai-nilai humanis, etika, dan tanggung jawab.
Pemanfaatan AI dalam pendidikan juga perlu diimbangi dengan penguatan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Guru harus mampu memilah informasi, menggunakan teknologi secara bijak, serta mengajarkan peserta didik tentang etika penggunaan teknologi digital.
Dengan demikian, AI tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga untuk membangun budaya belajar yang sehat, kreatif, dan bertanggung jawab.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


