Kalau SMA Kolese De Britto pilih long march ke Tugu Jogja sambil bagiin sembako; SMAN 6 Cirebon memutuskan naik angkot untuk tanam mangrove di pantai.
Perayaan kelulusan anak SMA ini lebih berdampak positif inspiratif dibandingkan konvoi dan corat-coret seragam.
Dulu, hari kelulusan biasanya diwarnai dengan corat-coret seragam pakai spidol permanen atau bahkan pilox. Tak hanya itu, para siswa juga memadati jalanan dengan konvoi motor yang kadang mengganggu pengguna lain.
Siswa SMAN 6 Cirebon tampaknya sudah bosan dengan tradisi begitu. Ratusan siswa kelas XII ini pilih naik angkot, jalan kaki ke kawasan pesisir Klayan, lalu turun ke lumpur buat nanam mangrove. Bukan satu-dua pohon, tapi 750 bibit sekaligus. Sebanyak 386 siswa ikut dalam aksi bertajuk “Satu Akar Menuju Masa Depan” itu.
Ketua OSIS SMAN 6 Cirebon periode 2025, Haykal Ardiansyah, mengatakan tema “Satu Akar Menuju Masa Depan” dipilih karena dianggap mewakili perjalanan hidup para siswa setelah lulus.
“Filosofinya, seperti akar mangrove yang kuat menghadapi arus, kami juga harus kuat menghadapi tantangan kehidupan ke depan,” ujar Haikal.
Abrasi Jadi Ancaman bagi Warga Pesisir
Yang bikin aksi ini menarik bukan cuma karena beda dari perayaan kelulusan biasanya. Tapi juga para siswa yang sadar bahwa euforia kelulusan itu cuma sehari, sedangkan abrasi di pesisir kian menghantui.
Kepala SMAN 6 Cirebon, Lina Herlina, mengatakan kegiatan tersebut memang sengaja dibuat agar kelulusan tidak diisi hal-hal yang dianggap kurang bermanfaat.
“Ini wujud syukur terhadap kelulusan dan menanamkan cinta lingkungan sejak dini, selain itu daripada merayakan kelulusan dengan hal tidak berguna, kita laksanakan dengan menanam mangrove,” kata Lina Herlina, Rabu (6/5/2026).
Pilihan menanam mangrove juga bukan sekadar ikut tren peduli lingkungan. Kawasan pesisir Klayan selama ini menghadapi ancaman abrasi dan banjir rob.
Abrasi dan rob adalah dua fenomena berbeda walaupun sama-sama melibatkan air di dalamnya. Abrasi merujuk pada pengikisan daratan pantai akibat hantaman ombak laut secara terus-menerus. Sedangkan banjir rob merupakan banjir yang muncul ketika air laut pasang masuk ke wilayah daratan pesisir.
Nah, mangrove punya fungsi penting untuk menahan dampak tersebut. Akar mangrove yang rapat membantu menahan lumpur, meredam ombak, sekaligus menjaga garis pantai agar tidak cepat terkikis.
“Hari ini ada 386 siswa yang mengikuti penanaman mangrove ini, kita ingin penanaman ini menjadi manfaat bagi masyarakat sekitar untuk mencegah adanya banjir rob,” jelas Lina.
Pesisir Indonesia Semakin Tergerus?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara rata-rata di Indonesia pada 2023 mencapai 27,2 derajat Celsius. Angka itu menghasilkan anomali suhu sebesar 0,5 derajat Celsius.
Anomali suhu adalah kondisi ketika suhu rata-rata mengalami kenaikan dibanding rata-rata normal dalam periode panjang. Kenaikan kecil ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya bisa memicu cuaca ekstrem hingga memperparah kenaikan muka air laut.
Sementara itu, data Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin tahun 2022 menunjukkan sekitar 400 kilometer garis pantai di Indonesia mengalami abrasi. Dampaknya bukan cuma hilangnya daratan, tetapi juga rusaknya tambak, permukiman, hingga sumber penghasilan warga pesisir.
Oleh karena itu, aksi siswa SMAN 6 Cirebon terasa menarik karena mereka justru turun langsung melakukan hal kecil yang dapat berdampak besar.
Pilihan lokasi di pesisir Klayan juga bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir utara Jawa memang termasuk wilayah yang rentan abrasi dan banjir rob.
Dalam laporan CNN Indonesia pada 28 Januari 2025, BNPB menyebut laju abrasi pantai di sejumlah wilayah bahkan bisa mencapai 200 sampai 500 meter dalam 10 tahun terakhir.
“Sangat terlihat daerah-daerah yang ke mangrove-nya sudah tidak terjaga, sangat riskan tergerus dalam luasan yang cukup signifikan,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.
Laporan tersebut juga menunjukkan hasil citra satelit Pantai Anom di Tangerang. Daratan yang dulu masih berupa sawah kini perlahan hilang dan berubah menjadi laut akibat abrasi.
BMKG bahkan mengingatkan abrasi bisa menjadi pintu masuk banjir rob di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa.
“Karena rob ini harus ditangani ya, tidak boleh dibiarkan,” kata Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


