sebelum jadi sman 1 sambas sekolah ini rupanya pernah jadi cabang sma negeri 1 pontianak - News | Good News From Indonesia 2026

Sebelum Jadi SMAN 1 Sambas, Sekolah Ini Rupanya Pernah Jadi Cabang SMA Negeri 1 Pontianak

Sebelum Jadi SMAN 1 Sambas, Sekolah Ini Rupanya Pernah Jadi Cabang SMA Negeri 1 Pontianak
images info

Sebelum Jadi SMAN 1 Sambas, Sekolah Ini Rupanya Pernah Jadi Cabang SMA Negeri 1 Pontianak


Ada masa ketika anak-anak Sambas yang ingin sekolah SMA harus menyiapkan diri untuk meninggalkan kampung halaman. Sebab, saat itu, pilihannya tidak banyak. Pada akhir 1950-an, sekolah menengah atas negeri belum berdiri di Sambas. Sedangkan lulusan SMP terus bertambah.

Situasi itu memunculkan kegelisahan di masyarakat. Mereka ingin anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus pergi jauh ke luar daerah. Dari keresahan itulah sejarah SMA Negeri 1 Sambas bermula.

baca juga

Ketika Sambas Hanya Kebagian Nonton

Berdasarkan sejarah resmi sekolah, pada tahun 1957 masyarakat Sambas sebenarnya sudah menginginkan SMA negeri berdiri di daerah mereka. Sayangnya, saat itu kewenangan pendirian SMA negeri masih berada di tangan pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Masalahnya, Kabupaten Sambas ketika itu hanya mendapat jatah satu SMA negeri. Ironisnya, sekolah tersebut justru berdiri di Singkawang yang saat itu masih menjadi ibu kota kabupaten.

Kawan, situasi administratif saat itu berbeda dengan sekarang. Pada akhir 1950-an, Singkawang belum menjadi kota otonom seperti hari ini. Wilayah tersebut masih masuk dalam Kabupaten Sambas dan bahkan berstatus sebagai ibu kota kabupaten.

Karena pemerintah pusat hanya memberikan satu SMA negeri untuk seluruh Kabupaten Sambas, sekolah itu akhirnya didirikan di Singkawang. Secara administratif keputusan itu memang dianggap sudah mewakili kabupaten.

Akan tetapi, bagi warga yang tinggal di pusat Kecamatan Sambas dan daerah sekitarnya, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jarak menuju Singkawang tetap jauh. Transportasi pada masa itu juga belum mudah. Banyak keluarga harus memikirkan ongkos perjalanan, tempat tinggal anak, hingga risiko merantau di usia sekolah.

Akibatnya, keberadaan SMA negeri di Singkawang belum benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Sambas. Secara nama memang satu kabupaten sudah memiliki SMA negeri, tetapi secara akses pendidikan, anak-anak Sambas tetap kesulitan menjangkaunya.

baca juga

Tokoh Masyarakat Mendirikan Sekolah

Keputusan itu membuat masyarakat kecewa. Sejumlah tokoh masyarakat bergerak untuk mendirikan sekolah sendiri.

Nama-nama seperti Uray A. Hamid, Munawar Kalahan, H.A. Razak Suud, hingga Ketua PGRI Sambas M. Busrin tercatat menjadi pelopor lahirnya sekolah alternatif untuk warga Sambas.

Mereka mendirikan SMA Yayasan Pembangunan Sambas (SMA YPS). Kegiatan belajar mengajar SMA YPS kala itu masih menumpang di gedung SMP PGRI Sabbok Sukaramai di Desa Dalam Kaum, Sambas. Direktur pertamanya adalah A. Rasyid Hasan.

Perjalanan sekolah ini terus mengalami perkembangan setelah sekitar empat tahun berjalan. Saat itu, berdiri SMA Negeri Pontianak Cabang Sambas yang berada di bawah pengawasan langsung SMA Negeri 1 Pontianak. Pada fase ini, Uray Aliuddin Yusba ditunjuk sebagai direktur cabang sejak 10 Agustus 1961.

Pada 1 Agustus 1964, cabang tersebut resmi berubah menjadi SMA Negeri Sambas yang berlokasi di Jalan Akhmad Sood, Sambas. Nama Jalan Akhmad Sood sampai hari ini masih identik dengan lokasi sekolah tersebut. Alamatnya berada di Jalan Akhmad Sood Nomor 246, Tumuk Manggis, Sambas.

Kepemimpinan awal sekolah dipegang oleh J. Kontu sebelum kemudian dilanjutkan oleh M. Hatta Ngolo, BA pada 1 Maret 1966.

Dari sinilah identitas sekolah negeri pertama di Sambas mulai benar-benar terbentuk.

baca juga

Visi ASRI SMAN 1 Sambas

SMAN 1 Sambas punya visi unik, yakni “ASRI”. ASRI adalah singkatan dari Akhlakul Karimah, Smart, Rindang, dan Iptek.

Konsep ini cukup menarik karena tidak hanya menonjolkan prestasi akademik, tapi juga memperhatikan karakter, lingkungan sekolah, dan penguasaan teknologi.

Akhlakul Karimah merujuk pada perilaku yang baik dan berakhlak mulia. Dalam konteks pendidikan, artinya sekolah tidak hanya mengejar nilai rapor, tetapi juga pembentukan karakter siswa.

Kemudian, Smart berarti mendorong siswa unggul dalam akademik maupun non-akademik. Bukan sekadar pintar mengerjakan soal, tetapi juga aktif, kreatif, dan kompetitif.

Lalu, Rindang menggambarkan lingkungan sekolah yang nyaman, hijau, sehat, dan mendukung suasana belajar. Terakhir Iptek yang berfokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Fokus ini penting karena sekolah harus menyiapkan siswa menghadapi era digital dan perkembangan teknologi yang terus berubah.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.