Nilai tukar rupiah atas dolar cenderung sangat fluktuatif. Namun selama beberapa minggu ini, nilainya menunjukan pergerakan pelemahan. Melansir dari situs Bloomberg, Hari Ini Jumat (4/6/2026) pukul 12.31 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami pelemahan. Berada di angka Rp18.039 per 1 USD.
Pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor global dan domestik yang datang bersamaan. Kondisi geopolitik global yang masih memanas, menekan nilai rupiah.
Ditambah dengan suku bunga acuan AS yang relatif tinggi, membuat banyak investor memindahkan dana karena dirasa menjadi safe haven. Selain itu, jalur logistik yang terganggu berakibat pada kenaikan harga minyak dunia.
Pada kondisi domestik, ketergantungan terhadap impor serta beban subsidi yang semakin meningkat, juga turut memberatkan rupiah.
Kurs 1 USD Hari Ini Berapa Rupiah?
Berdasarkan data dari Bank Indonesia, kurs transaksi rupiah atas dolar Hari ini Kamis (4/6/2026) berada di angka Rp18.020,65 per 1 USD untuk kurs jual. Sedangkan untuk kurs beli, berada di angka Rp17.841,35 per 1 USD.

Diagram Kurs Rupiah Hari Ini, 4 Juni 2026 (Bank Indonesia)
Arah Pelemahan Rupiah
Menurut Fakhrul Fulvian, selaku Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia yang dilansir dari situs Kemenpan, kondisi rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting. Fase ini adalah kondisi pelemahan nilai tukar bergerak lebih dalam dibanding dengan kondisi fundamental jangka panjang ekonomi nasional.
Selain membaca data ekonomi terkini, pasar keuangan juga menilai arah kebijakan, konsistensi respon pemerintah, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat. Menurutnya, tekanan yang dialami rupiah saat ini timbul karena nilai tukar menjadi jalur penyesuaian utama dari berbagai tekanan ekonomi, yang seharusnya tersebar ke berbagai sektor.
Umumnya, kenaikan harga energi global akan terlihat pada beberapa indikator sekaligus yaitu inflasi, beban fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar. Saat ini rupiah menjadi shock absorber utama, imbas dari inflasi dan harga energi yang ditahan, jelasnya.
Fakhrul menilai, meski dalam kondisi saat ini, tidak berarti fundamental Indonesia melemah drastis. Inflasi masih relatif terkendali, sektor perbankan tetap sehat, serta pertumbuhan ekonomi masih berada di jalur positif. Tidak hanya kekuatan fundamental, namun kredibilitas kebijakan dan keberadaan policy anchor yang bisa memberi kepastian di tengah kondisi global yang volatil, juga sedang diuji pasar.
Menurutnya, pasar ingin melihat pemerintah dan bank sentral bergerak ke arah yang sama, burden sharing yang lebih seimbang, sehingga tidak semua tekanan ditanggung oleh rupiah dan BI. Dengan komunikasi kebijakan yang kuat serta peta penyesuaian ekonomi yang jelas.
Dampak nyata dari tekanan nilai tukar dan tingginya yield obligasi mulai dirasakan oleh banyak industri manufaktur dan sektor domestik yang bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, hingga pembiayaan. Pelemahan rupiah yang bersamaan dengan biaya dana yang memuncak, memberikan tekanan ganda bagi dunia usaha.
Namun dampak tekanan ini berbalik menjadi keuntungan bagi sektor komoditas yang berbasis ekspor, karena menggunakan dolar sebagai pembayaran dan pendapatan. Fakhrul melihat, kondisi rupiah pada fase overshooting juga dapat membuka peluang bagi perusahaan yang memiliki fundamental kuat untuk melakukan ekspansi selektif.
Dengan begitu, pelemahan rupiah ini memunculkan dampak yang tidak seragam bagi industri. Strategi defensif dengan menjaga likuiditas, memperkuat efisiensi, hingga mengurangi ketergantungan pada utang valas, perlu dikedepankan oleh dunia usaha.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia tersebut juga melihat masih terbukanya ruang untuk penguatan rupiah. Peluang tersebut muncul apabila koordinasi kebijakan semakin kuat dan pasar mendapatkan kepastian mengenai arah fiskal dan stabilitas makro.
Dalam kondisi pelemahan rupiah saat ini, menurutnya stabilitas ekonomi tidak dapat ditopang oleh satu institusi atau satu instrumen saja. Menjadi pelajaran bahwa koordinasi fiskal, moneter, sektor energi, dan sektor riil menjadi kunci agar kondisi volatilitas serupa tidak terulang di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


