Pada era revolusi digital saat ini, kita sedang bergerak menuju peradaban visual yang masif. Informasi mengalir jauh lebih cepat melalui gambar ketimbang deretan teks. Di balik itu, terselip sebuah tantangan eksistensial.
Generasi masa kini tengah dikepung oleh dominasi visual global yang mengancam jati diri bangsa.
Tanpa identitas visual yang kuat, karya kreatif bangsa ini berisiko kehilangan jiwa, sekadar menjadi tiruan dari tren anime Jepang atau budaya pop Korea.
Di sinilah bahasa rupa hadir bukan hanya demi estetika, melainkan sebagai benteng pertahanan identitas sekaligus mesin inovasi masa depan bagi industri kreatif nasional.
Merupa Naskah Tanpa Gambar
Salah satu bukti nyata bagaimana bahasa rupa mampu menghidupkan kembali roh lokal Nusantara dari masa lalu adalah melalui riset terhadap naskah kuno Bujangga Manik. Naskah yang berasal dari abad ke-15 ini unik karena berisi hampir dua ribu baris puisi tanpa satu pun ilustrasi gambar.
Meskipun ditulis di atas daun lontar yang sudah sangat tua, naskah ini menyimpan detail deskripsi yang luar biasa akurat mengenai objek alam, kondisi geografis, hingga aksesori budaya pada masanya.
Sosok yang dikisahkan dalam naskah ini adalah Perebu Jaka Pakuan atau Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang pangeran dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang memilih menjadi pertapa.
Ia mencatat perjalanannya menyusuri Jawa hingga Bali dengan sangat rinci, menyebutkan lebih dari 450 nama tempat. Saking akuratnya deskripsi tekstual itu, para peneliti menyebut naskah ini sebagai “Peta Jawa Abad ke-15”.
Harta karun ini sempat tersimpan sunyi selama berabad-abad di Bodleian Library, Oxford, sebelum akhirnya diteliti secara mendalam oleh pakar dari Belanda, Jacobus Noorduyn, sekitar tahun 1982.
Kini, catatan puitis tersebut tidak lagi sekadar menjadi objek studi filologi, melainkan bertransformasi menjadi produk budaya baru, yakni kain batik Bujangga Manik.
Mengubah teks puitis menjadi motif kain yang autentik bukanlah perkara mudah. Prosesnya membutuhkan pendekatan saintek (sains dan teknologi) multidisipliner yang melibatkan sejarah, antropologi, hingga teknologi digital.
Teori dan metode yang menjadi landasan transformasi itu adalah bahasa rupa. Peneliti utamanya bernama Prof. Ariesa Pandanwangi, seorang guru besar bidang ilmu seni, desain, dan media dengan kepakaran bahasa rupa.

Kain batik motif gendang diciptakan menggunakan metode bahasa rupa dari penggalan naskah puisi Bujangga Manik. (foto oleh Iwan Santosa)
Salah satu bagian penelitiannya mengambil penggalan cerita Bujangga Manik dalam perjalanannya ke Bali yang terekam pada baris puisi 942-945. Pada bagian itu, Bujangga Manik mendeskripsikan gemuruh gendang yang diiringi serunai.
Tanpa adanya panduan visual asli, tim peneliti menerjemahkan narasi tersebut menjadi motif utama berupa gendang dengan latar belakang pegunungan Bali untuk memberikan kesan geografis yang khas.
Hasilnya adalah sebuah produk kreatif yang tidak hanya bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga memiliki kedalaman makna budaya yang sulit ditiru oleh bangsa lain.
Masa Depan yang Berakar Tradisi
Keberhasilan menghidupkan kembali narasi kuno menjadi motif batik Bujangga Manik pertama di dunia membuktikan bahwa kearifan lokal adalah modal besar bagi industri kreatif.
Namun, perjuangan belum usai. Tantangan seperti komersialisasi berlebih, plagiarisme, dan kurangnya dokumentasi sistematis terhadap nilai visual tradisional masih membayangi.
Prof. Ariesa menekankan pendapatnya melalui sebuah orasi di kampus Universitas Kristen Maranatha, Bandung, bertepatan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2026. Judul orasi itu, “Bahasa Rupa, Tantangan Global dan Perlindungan dalam Industri Kreatif.”
Museum Puri Lukisan, Menjelajahi Museum Seni Rupa Pertama di Bali
Menurutnya, pendidikan seni dan desain harus mampu meyakinkan generasi muda bahwa budaya lokal bukanlah penghambat modernitas.
Sebaliknya, bahasa rupa Nusantara adalah bahan bakar untuk menciptakan pembeda alias diferensiasi di pasar global yang kian seragam.
Dengan menjaga dan mengembangkan bahasa rupa, kita tidak hanya melestarikan budaya atau naskah dari masa lalu. Kita sedang memastikan bahwa di tengah riuhnya visual dunia, identitas Nusantara tetap memiliki suara yang lantang dan wajah yang dikenali.
Dalam konteks ini, bahasa rupa adalah cara kita menceritakan siapa kita kepada masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


