pernah tutup karena agresi militer kini sma de britto yogyakarta jadi sekolah yang percaya gondrong adalah suatu kebebasan - News | Good News From Indonesia 2026

Pernah Tutup karena Agresi Militer, Kini SMA De Britto Yogyakarta Jadi Sekolah yang Percaya Gondrong adalah Suatu Kebebasan

Pernah Tutup karena Agresi Militer, Kini SMA De Britto Yogyakarta Jadi Sekolah yang Percaya Gondrong adalah Suatu Kebebasan
images info

Pernah Tutup karena Agresi Militer, Kini SMA De Britto Yogyakarta Jadi Sekolah yang Percaya Gondrong adalah Suatu Kebebasan


Kalau sekarang, orang dengar nama SMA De Britto Yogyakarta, biasanya langsung diasosiasikan dengan sekolah yang ditempati oleh anak-anak kritis, aktivis, pintar debat, atau minimal “anak JB banget”. Pokoknya ada semacam penilaian bahwa ini sekolah punya aura yang beda sendiri.

Nah, jauh sebelum branding SMA De Britto Yogyakarta sekarang, sekolah yang dikenal dengan nama “JB” atau Johannes De Britto ini punya riwayat panjang. Catatan sejarah menunjukkan sekolah ini sempat tutup bahkan ketika baru lima bulan berdiri karena Agresi Militer Belanda II pada akhir 1948. Kisah itu menjadi bagian dari sejarah SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Sejarah De Britto bermula setelah masa pendudukan Jepang berakhir. Saat itu, pemerintah tidak lagi melarang lembaga swasta mendirikan sekolah. Situasinya mendesak karena banyak lulusan sekolah menengah Katolik membutuhkan tempat untuk melanjutkan pendidikan.

Oleh karena itu, para Bruder CCI bersama Suster Carolus Borromeus dan Fransiskanes mendirikan sekolah menengah Katolik. Masalahnya, kebutuhan tidak cukup hanya dengan mendirikan satu sekolah saja. Jumlah lulusan terus bertambah sehingga muncul tuntutan untuk membuka sekolah tingkat atas. Dari kebutuhan mendesak itulah cikal bakal De Britto lahir.

Pada 19 Agustus 1948, SMA Kanisius resmi dibuka lewat kerja sama Yayasan Kanisius bersama para pastor Jesuit dan Suster Carolus Borromeus. Angkatan pertamanya hanya terdiri dari 65 siswa laki-laki dan perempuan.

Saat itu sekolah belum punya gedung sendiri. Kegiatan belajar dilakukan di ruang atas SMP Bruderan Kidul Loji Yogyakarta.

Sayangnya, situasi politik memanas akibat Agresi Militer Belanda II. Pada 18 Desember 1948, lima bulan setelah pendirian, sekolah ditutup bersama sekolah lain di Yogyakarta.

Ketika keadaan mulai tenang, sekolah kembali dibuka. Bagian putri sudah mulai aktif lagi pada Agustus 1949. Sementara bagian putra baru bisa berjalan pada Oktober 1949 karena banyak pemuda saat itu baru pulang dari perang.

Setelah dibuka kembali, sekolah putra dan putri dipisah. Bagian putra menempati bangunan di Bintaran Kulon Nomor 5 dan dikelola pastor Jesuit. Nama sekolahnya menjadi SMA Santo Johannes De Britto.

Sedangkan bagian putri dikelola Suster Carolus Borromeus dengan nama SMA Stella Duce yang berarti “Bintang Penuntun”.

baca juga

Nama De Britto Baru Dipakai Tahun 1953

Nama SMA Santo Johannes De Britto baru resmi diubah menjadi SMA De Britto pada 9 Juni 1953 setelah ada keputusan dari pimpinan Serikat Jesus di Roma.

Seiring berjalannya waktu, sekolah itu terus berkembang. Jumlah siswa mulai bertambah sehingga ruang kelas pun diperluas. Perkembangan yang pesat membuat sekolah dipindahkan ke Demangan, Yogyakarta.

“Development always occurs over time; not only through changes in management and leadership staff but also developments concerning the number of students, classrooms, and administrative improvement, including the relocation of the school building,” dikutip dari laman resmi SMA Kolese De Britto.

Pembangunan gedung baru itu bahkan ditandai langsung oleh Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, tokoh gereja yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Pada Mei 1958, De Britto resmi menempati kampus baru di kawasan Demangan yang kini dikenal di Jalan Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta.

Sekolah itu sudah dilengkapi lapangan olahraga, aula, dan laboratorium. Fasilitas yang pada masa itu tergolong sangat maju.

baca juga

Bukan Sekadar Sekolah Pintar, tapi Sekolah yang Menyiapkan Manusia Utuh

Yang membuat De Britto berbeda bukan hanya sejarahnya, tetapi juga cara mereka memandang pendidikan.

Sekolah ini memakai pendekatan Ignatian Pedagogical Paradigm atau Paradigma Pedagogi Ignasian. Ini adalah model pendidikan khas Jesuit yang menekankan pengalaman, refleksi, dan aksi nyata.

Secara sederhana, siswa tidak hanya didorong pintar secara akademik. Mereka juga diajak memahami pengalaman hidup, berpikir kritis, lalu bertindak untuk lingkungan sekitar.

De Britto juga memakai konsep pendidikan 1L 5C, yakni Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment, dan Consistency. Konsep ini membentik siswa menjadi pribadi yang mampu memimpin, punya kemampuan akademik, hati nurani, kepedulian sosial, komitmen, dan konsistensi.

Sekolah ini juga berpegang pada slogan Latin Ad Maiorem Dei Gloriam yang berarti “demi kemuliaan nama Tuhan”. Filosofinya bukan sekadar soal religiusitas, tapi juga tentang membentuk manusia yang sadar dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Karena itu, siswa diberi kebebasan dalam beberapa hal. Mereka boleh memakai baju bebas di hari tertentu. Rambut panjang juga bukan masalah besar.

Ini lah yang membuat nama De Britto terus bertahan lebih dari tujuh dekade.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.