Ternyata ada juga yang harus mencicil mimpi itu dari uang receh hasil jualan keliling, Muqorobbin Ngadiman salah satunya. Ia tak perlu menunggu jadi orang terkaya di desanya untuk bisa terbang ke Tanah Suci.
Pria 42 tahun asal Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang itu tak pernah menyangka, uang Rp5.000 yang ia sisihkan setiap hari dari hasil berjualan pentol keliling akhirnya benar-benar membawanya ke Tanah Suci. Tahun 2026 ini, ia resmi berangkat haji bersama Kloter 21 Embarkasi Solo.
Jelas proses menabung untuk berangkat ke Tanah Suci bukan hanya setahun atau dua tahun. Muqorobbin mulai menyisihkan uangnya sejak puluhan tahun lalu, tepatnya pada 2004. Saat itu, Muqorobbin bahkan belum menikah.
“Saya sejak sebelum punya istri sudah kepingin ke Mekkah. Akhirnya saya jualan pentol. Saya menabung Rp10.000, ya Rp5.000,” kata Muqorobbin di Embarkasi Solo, Selasa (28/4/2026).
Berangkat Haji dari Uang Receh
Kisah Muqorobbin menunjukkan bahwa berangkat haji adalah sebuah niat yang butuh usaha dan kesungguhan. Haji adalah panggilan untuk orang yang benar-benar mau “mendengar”
Untuk berangkat haji yang biayanya puluhan juta, Muqorobbin mengaku hanya menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Kadang Rp5.000, kadang Rp10.000. Jika dagangan sedang ramai, nominalnya bisa lebih besar.
“Saya tabung sedikit demi sedikit, mulai Rp5.000, Rp10.000, Rp25.000, sampai Rp50.000,” ujarnya di Asrama Haji Donohudan Boyolali.
Dari kebiasaan kecil itu, terkumpul uang Rp25,5 juta. Jumlah tersebut kemudian dipakai untuk mendaftar haji.
“Kulo nyelengi yo Rp10 ribu atau Rp5 ribu. La terus ngumpul Rp25,5 juta. Akhir damel daftar,” ujarnya.
Dalam sistem haji Indonesia, calon jemaah memang harus menyetor biaya awal atau setoran pendaftaran. Setelah itu, mereka masuk daftar antrean keberangkatan. Masa tunggunya bisa bertahun-tahun tergantung daerah masing-masing. Karena itulah perjuangan Muqorobbin tidak berhenti setelah berhasil mendaftar.
Tetap Jualan Pentol Sambil Menunggu Antrean Haji
Setelah namanya masuk daftar tunggu, Muqorobbin tetap berjualan pentol keliling setiap hari. Ia mengumpulkan uang untuk pelunasan biaya haji sekaligus bekal selama berada di Arab Saudi.
“Terus sambil menunggu panggilan padhos sangu, yo niku wau keliling bakul pentol,” tuturnya.
Menariknya lagi, Muqorobbin ternyata tidak hanya menabung untuk dirinya sendiri.
Di sela hasil jualannya, ia juga rutin memasukkan uang Rp1.000 hingga Rp2.000 ke kaleng khusus sedekah dan zakat. Kebiasaan itu tetap ia lakukan meski penghasilannya terbatas.
“Yang Penting Bisa Berangkat”
Wajahnya terlihat bahagia ketika Muqorobbin akhirnya tiba di Embarkasi Solo. Penantian sejak 2004 akhirnya benar-benar terbayar.
“Perasaannya senang sekali. Mau gimana-gimana pokoknya berangkat,” katanya.
Muqorobbin berangkat bersama 359 calon jemaah haji lainnya dalam Kloter 21 Kabupaten Semarang menggunakan pesawat Garuda Indonesia pada Selasa pagi, 28 April 2026.
Muqorobbin ingin menyempurnakan rukun Islam kelima. Keinginan itu sudah ia pegang sejak lama, bahkan sejak masih mondok.
“Semoga ibadah saya bisa diterima oleh Allah. Katanya dulu waktu mondok itu melengkapi rukun Islam. Jadi sudah komplit rukun Islamnya,” ungkapnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


