Di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara yang datang ke Tanah Suci tahun ini, sosok Jumaria mencuri perhatian publik. Perempuan lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, itu kini dikenal sebagai Ikon Haji Indonesia 2026 setelah kisah hidup dan perjuangannya diangkat oleh otoritas Arab Saudi.
Kisah Jumaria mulai viral setelah Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi membagikan dokumentasi perjalanannya melalui akun media sosial @makkahroute. Wajahnya kemudian muncul dalam materi promosi internasional musim haji 2026.
Di balik sorotan tersebut, ada perjalanan panjang seorang buruh tani yang menabung puluhan tahun demi bisa melihat Ka'bah untuk pertama kalinya.
Dari Rumah Sederhana di Maros
Kehidupan Jumaria jauh dari sorotan. Ia tinggal di rumah sederhana di Kabupaten Maros dan banyak menjalani hari-harinya seorang diri.
Setiap pagi selepas sholat subuh, aktivitasnya dimulai dengan memberi makan ayam peliharaan dan membersihkan rumah. Setelah itu, ia berjalan menuju kebun tetangga untuk merawat tanaman ubi, lalu melanjutkan pekerjaan di sawah yang letaknya sekitar 50 meter dari rumah.
Pekerjaan itu ia jalani sendiri selama bertahun-tahun.
Tangannya terbiasa memegang sabit dan membersihkan rumput liar di sawah. Dari hasil itulah ia memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus menyimpan harapan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.
Kisah Jumaria mulai menarik perhatian banyak orang setelah tim dokumentasi Arab Saudi datang langsung ke rumahnya pada 28 April 2026. Selama sekitar empat jam, mereka merekam keseharian perempuan lansia tersebut.
Rekaman itu kemudian diolah menjadi film dokumenter pendek yang dipakai sebagai bagian promosi resmi musim haji 2026.
Menurut Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah, Jumaria dipilih karena kisah hidupnya dianggap sangat menginspirasi.
Ia hidup sederhana, tinggal di daerah yang cukup terpencil, dan tetap berusaha mewujudkan impiannya untuk berhaji.
Menabung di Ember Selama Lebih dari 20 Tahun
Menarik untuk ditelusuri, perjalanan haji Jumaria tidak datang dalam waktu singkat.
Lebih dari dua dekade lalu, ia mulai menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai buruh tani. Uang itu disimpan sedikit demi sedikit di dalam ember plastik yang diletakkan di bawah ranjang rumahnya.
Jumlah yang ditabung memang tidak besar. Jika memperoleh Rp100 ribu dari hasil bekerja, sebagian langsung disimpan.
Kebiasaan sederhana itu terus dilakukan selama bertahun-tahun hingga akhirnya tabungannya mencapai sekitar Rp25 juta pada 2011. Uang tersebut kemudian digunakan untuk mendaftar haji.
Setelah terdaftar, Jumaria tetap bekerja dan kembali menabung untuk biaya pelunasan.
Keterbatasan pendidikan juga tidak menghentikannya. Meski tidak bisa baca tulis dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah, ia tetap serius mempersiapkan keberangkatan hajinya.
Saat namanya resmi masuk daftar jemaah haji Indonesia 2026, ia tercatat mengikuti lebih dari 80 kali manasik haji bersama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah.
Jarak lokasi manasik sekitar 15 kilometer dari rumahnya. Namun ia hampir tidak pernah absen dan dikenal selalu duduk di barisan depan ketika pembimbing menjelaskan tata cara ibadah.
Pertama Kali Naik Pesawat ke Tanah Suci
Keberangkatan ke Arab Saudi menjadi pengalaman besar dalam hidup Jumaria. Sebelum berangkat haji, perjalanan terjauh yang pernah ia lakukan hanya ke Kendari untuk mengunjungi keluarganya.
Karena itu, naik pesawat menuju Tanah Suci sempat membuatnya gugup.
“Pertama saya deg-degan, kenapa saya bisa naik (pesawat) toh, lama-lama biasa,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam perjalanan haji tahun ini, Jumaria juga merasakan layanan Makkah Route, program kerja sama pemerintah Indonesia dan Arab Saudi yang memungkinkan proses keimigrasian dilakukan sejak di bandara keberangkatan.
Layanan fast track tersebut membuat jamaah, terutama lansia, tidak perlu mengantri panjang setelah tiba di Arab Saudi.
Setelah mendarat, Jumaria bisa langsung menuju bus dan berangkat ke hotel bersama rombongan.
Sesampainya di Madinah, kondisi fisiknya justru membuat banyak orang kagum. Di usianya yang sudah sekitar 70 tahun, ia tetap kuat berjalan menuju Masjid Nabawi dan mengikuti rangkaian ibadah tanpa banyak keluhan.
Ia bahkan sudah menjalani ibadah di Raudhah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Air Mata Jumaria Pecah Saat Melihat Ka'bah
Momen yang paling membekas bagi Jumaria terjadi ketika ia melihat Ka'bah untuk pertama kalinya.
Di tengah padatnya jamaah di Masjidil Haram, perempuan yang selama puluhan tahun menabung dari hasil bekerja di sawah itu akhirnya berdiri di depan Baitullah.
Tangisnya pecah.
“Saya senang bisa melihat Ka'bah,” ucapnya lirih.
Kisah Jumaria kemudian menyentuh banyak orang karena dianggap mewakili perjuangan jamaah haji Indonesia yang datang dari kehidupan sederhana.
Di balik sorotan yang kini mengarah kepadanya, Jumaria tetaplah perempuan yang sama. Seorang buruh tani dari Maros yang menyimpan uang di ember plastik selama puluhan tahun demi memenuhi panggilan ibadah yang selama ini hanya ia simpan dalam doa-doa panjangnya setiap malam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


