Sejarah diplomasi Indonesia umumnya tak jauh dari nama-nama besar nan mentereng seperti Adam Malik atau Agus Salim. Keduanya adalah diplomat kondang Indonesia yang memiliki jasa besar dalam dunia diplomasi luar negeri Tanah Air.
Kala itu, Indonesia memang sudah memiliki jejeran diplomat dengan kinerja yang mentereng. Saat perjuangan pengakuan kemerdekaan misalnya. Ada Sutan Sjahrir yang pernah memimpin delegasi Indonesia di Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada 1947 hingga berhasil menarik simpati dunia terhadap posisi Indonesia.
Ada pula M. Roem yang berhasil membawa Indonesia ke meja perundingan pasca-Agresi Militer II Belanda yang kemudian membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar. Tak ketinggalan, ada L.N. Palar yang menjadi wakil Indonesia di PBB.
Kawan GNFI, di masa itu, posisi juru runding di tingkat internasional memang masih banyak didominasi kaum Adam. Namun, bukan berarti Indonesia tidak memiliki diplomat wanita yang mumpuni.
Adalah Laili Roesad. Ia berhasil menggebrak sejarah dunia diplomasi Indonesia sebagai diplomat perempuan pertama yang pernah menduduki jabatan strategis sebagai duta besar di beberapa negara sahabat.
Laili Roesad, Diplomat Perempuan Pertama RI
Laili adalah putri asli Minang dari pasangan Rusad Datuk Perpatih Baringek dan Hasnah. Lahir pada 19 September 1916, Laili sejatinya adalah jebolan Fakultas Hukum. Ia mendapatkan gelar Sarjana Hukumnya di Jakarta.
Ia awalnya ingin menjadi hakim, bukan diplomat. Hal ini bisa jelas dilihat dari jejak pendidikan Laili yang tak jauh dari bidang hukum. Akan tetapi, kala itu posisi tersebut terbatas bagi perempuan, sehingga mimpinya harus dikubur.
Tidak menjadi hakim, Laili pun memilih manuver lain dengan menjadi diplomat. Karier awalnya di Departemen Luar Negeri (kini Kementerian Luar Negeri) dimulai di tahun 1949.
Sejak awal, Laili mengemban tugas besar untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia. Dari sini, pelan-pelan kariernya menanjak. Bahkan, karena pekerjaannya berkutat di bidang hukum internasional, ia pun melanjutkan pendidikan pascasarjananya di London, Inggris, dengan fokus bidang Hukum Internasional.
Di tahun 1954, Laili ditunjuk sebagai Counsellor untuk Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York. Ia meduduki jabatan itu selama dua tahun.
Setelahnya, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Direktorat PBB di Departemen Luar Negeri. Tiga tahun kemudian, Laili diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg.
Saat itu, Presiden Soekarno mengatakan dengan bangga bahwa Laili adalah perempuan Indonesia pertama yang diangkat menjadi duta besar. Laili bukan hanya akan bertanggung jawab pada negara, tapi juga membawa nama kaum perempuan Indonesia.
Ia menjadi Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg dalam kurun waktu yang cukup lama. Bahkan, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi apiknya, pemerintah Belgia dan Luksemburg sampai menganugerahinya dengan bintang tanda jasa.
Setelah pulang ke Indonesia, ia diamanahi sebagai Kepala Direktorat Hukum Internasional di Departemen Luar Negeri RI hingga tahun 1967. Kemudian, ia ditunjuk menjadi Duta Besar RI untuk Austria. Ia bertugas di Wina hingga tahun 1970.
Menariknya, dari berbagai footage Laili yang tersebar saat bertugas, ia tampak sangat modis dan bergaya. Jika diplomat laki-laki memakai jas, Laili tampak anggun dengan balutan kebaya dan jarik khas Indonesia.
Ada kalanya ia membalut kebayanya dengan jaket bulu tebal dengan menenteng tas. Belum lagi perhiasan seperti kalung dan anting yang membuat sosoknya tampak semakin berwibawa.
Tahun 1995, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama. Ia dianggap berjasa dalam dunia diplomasi Indonesia.
Laili wafat di tahun 2003. Namun, Laili meninggalkan legasi yang luar biasa, utamanya bagi perempuan Indonesia yang berkarier di dunia diplomasi. Ia berhasil membuka jalan bagi generasi diplomat hebat Indonesia setelahnya, termasuk mantan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, yang dihormati dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


