Manggis menjadi salah satu buah tropis Indonesia yang terus menarik perhatian dunia. Buah berkulit ungu gelap dengan daging putih lembut ini dikenal memiliki rasa manis dan sedikit asam yang khas. Tidak hanya populer karena rasanya, manggis juga dikenal luas karena kandungan gizinya yang tinggi dan manfaat kesehatannya. Kombinasi tersebut membuat manggis dijuluki sebagai “Queen of Fruits” atau Ratu Buah Dunia.
Sebagai tanaman asli Asia Tenggara, khususnya Indonesia, manggis telah lama menjadi komoditas hortikultura unggulan. Popularitas buah ini terlihat dari tingginya permintaan pasar internasional. Data Badan Karantina Pertanian menunjukkan bahwa pada Juli 2023, volume ekspor manggis Indonesia mencapai sekitar 6,3 ribu ton. Negara tujuan ekspornya mencakup China, Malaysia, Uni Emirat Arab, Hong Kong, hingga Prancis. Angka tersebut menempatkan manggis sebagai salah satu komoditas buah dengan volume ekspor tertinggi dari Indonesia.
Dijuluki “Queen of Fruits”
Julukan “Queen of Fruits” tidak muncul tanpa alasan. Manggis dikenal memiliki tampilan yang khas dengan kulit ungu kemerahan dan mahkota hijau di bagian atas buah. Daging buahnya berwarna putih bersih dengan tekstur lembut. Rasanya sering digambarkan sebagai perpaduan antara stroberi, persik, dan leci. Keunikan rasa dan tampilannya membuat manggis menjadi salah satu buah tropis premium di pasar internasional.
Julukan tersebut juga diperkuat oleh cerita populer mengenai Ratu Victoria yang disebut pernah menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat membawakan manggis segar untuknya. Walaupun kisah tersebut lebih dikenal sebagai legenda, nama “Ratu Buah” tetap melekat pada manggis hingga sekarang.
Selain nilai rasa, manggis juga memiliki kandungan senyawa aktif yang tinggi. Kulit buah manggis diketahui kaya akan xanthone, kelompok antioksidan yang termasuk dalam famili polyphenols. Senyawa ini dinilai memiliki kemampuan antioksidatif yang kuat untuk membantu melawan radikal bebas di dalam tubuh.
Kaya Antioksidan dan Bermanfaat untuk Kesehatan
Dalam dunia kesehatan, manggis menjadi perhatian karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Radikal bebas dan stres oksidatif diketahui berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan penyakit jantung. Kondisi ini terjadi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh lebih tinggi dibandingkan kemampuan antioksidan untuk menetralisirnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Kardiologi Indonesia menyebutkan bahwa kulit manggis mengandung berbagai jenis xanthone seperti α-mangostin dan γ-mangostin yang memiliki efek antioksidatif kuat. Dalam penelitian tersebut, ekstrak kulit manggis diketahui mampu menurunkan kadar malondialdehyde (MDA), biomarker stres oksidatif, sekaligus meningkatkan kadar superoxide dismutase (SOD), salah satu antioksidan alami dalam tubuh.
Dokter spesialis jantung Faisal Baraas dalam publikasi ilmiahnya menjelaskan bahwa antioksidan berperan penting untuk “menangkap radikal bebas yang sudah terbentuk dan menetralisirnya, agar tidak terjadi reaksi berantai yang dapat merusak sel secara berkelanjutan.”
Tidak hanya itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa manggis memiliki potensi sebagai antiinflamasi, anti-diabetes, hingga antikanker. Senyawa garcinone E yang terdapat dalam kelompok xanthone disebut memiliki efek sitotoksik terhadap beberapa jenis sel kanker seperti kanker hati, paru, dan lambung.
Selain kandungan antioksidan, manggis juga kaya vitamin C dan serat. Konsumsi manggis disebut dapat membantu menjaga sistem imun, mengontrol gula darah, mendukung kesehatan kulit, memperbaiki pencernaan, hingga membantu program penurunan berat badan.
Tantangan Besar di Pasar Ekspor
Meski memiliki potensi besar, perjalanan ekspor manggis Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Pada 2014, ekspor manggis Indonesia ke China sempat ditolak karena kandungan zat kimia yang dianggap melebihi ambang batas standar mutu negara tersebut. Akibatnya, manggis Indonesia tidak dapat masuk langsung ke pasar China selama hampir lima tahun.
Indonesia mulai mencoba kembali memasuki pasar China pada 2016 dengan volume terbatas. Namun pada 2017, ekspor manggis ke negara tersebut sempat berhenti total. Hambatan itu baru berhasil diatasi pada 2018 setelah adanya penyesuaian standar budidaya dan pengawasan kualitas produk ekspor.
Saat ini, tantangan terbesar industri manggis Indonesia terletak pada kualitas buah. Hanya sekitar 15 persen produksi manggis nasional yang memenuhi standar ekspor. Pasar internasional menginginkan buah dengan kualitas tinggi, termasuk kulit mulus tanpa cacat, bebas getah kuning, dan memiliki daun mahkota yang masih hijau segar.
Masalah getah kuning masih menjadi perhatian utama petani dan eksportir. Faktor cuaca, teknik budidaya, hingga penanganan pascapanen dapat memengaruhi kualitas buah. Karena itu, penerapan budidaya intensif dan pemahaman terhadap standar ekspor dinilai penting agar Indonesia dapat memperluas pasar manggis dunia.
Dengan tingginya permintaan global dan manfaat kesehatan yang semakin dikenal luas, manggis Indonesia terus menjadi salah satu buah tropis yang diburu pasar internasional. Julukan sebagai Ratu Buah Dunia pun tidak hanya lahir dari rasa dan tampilannya, tetapi juga dari nilai ekonomi dan manfaat kesehatannya yang besar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


