Di era teknologi seperti sekarang, hadir beragam hasil disrupsi, yang pada gilirannya menghadirkan juga disrupsi lanjutan, salah satunya teknologi kecerdasan buatan. Pada dasarnya, semua disrupsi itu hadir sebagai alat bantu, untuk mempermudah kerja manusia.
Hanya saja, kehadiran AI, yang belakangan begitu masif digunakan, khususnya dalam pembuatan konten, antara lain artikel, telah menciptakan satu salah kiprah. Apa yang seharusnya berperan menjadi alat bantu, justru dipaksa sebagai lokomotif.
Alasannya sederhana, AI mampu menghasilkan banyak artikel dalam waktu singkat, tanpa ada typo, dan bebas drama revisi. Bagaimana dengan fase overthinking? AI tidak mengenal, karena anomali itu tidak ada dalam program.
Alhasil, salah kaprah ini menghasilkan beragam fenomena turunan yang cukup ganjil. Disadari atau tidak, salah kaprah ini sudah membuat AI memangkas satu rangkaian aktivitas intelektual rumit, tapi dengan cara menghilangkan bagian vitalnya. Maksud hati ingin terlihat efektif dan efisien dari luar, tapi justru menghasilkan kerusakan fatal dari dalam
Akibatnya, fenomena "yang penting terima jadi" kian membudaya. Tidak ada lagi proses dialektika, karena dianggap kuno dan ribet.
Bagi mereka yang memang menulis dengan pendekatan biasa, salah kaprah terkait peran AI ini menjadi satu hal yang menjengkelkan. Ada satu rasa jenuh, karena proses kreatif saat menemukan ide bisa dianggap absurd, sementara proses mencari dan mengolah referensi valid bisa dianggap kuno dan lamban.
Ironisnya, semakin kesini, hadir satu paradoks cukup mengkhawatirkan. Jumlah konten di media sosial makin melimpah, tapi kedalaman dan keragaman perspektifnya makin dangkal.
Jangankan menulis, minat membaca buku, apalagi membaca tuntas takarir unggahan pendek di media sosial saja kadang masih enggan. Hasilnya, semakin banyak celoteh komentar "asal bunyi", karena ekosistemnya cenderung membenarkan teorema "komentar dulu, pikir belakangan" dalam berkomentar di media sosial.
Uniknya, ada saja yang masih merasa bangga, karena bisa menulis banyak artikel dalam sehari, atau mengaku sudah khatam membaca buku-buku "berat", tapi tergagap-gagap saat harus menjelaskan apalagi menampilkan perspektif sendiri. Demi terlihat cerdas, anugerah istimewa berupa daya berpikir, sampai rela digadaikan dengan kemampuan sebuah alat bantu, yang justru membutuhkan daya berpikir lebih, untuk mencapai manfaat optimal.
Dari sini, wajar kalau di tengah melimpahnya informasi, ada satu kekosongan yang begitu terasa. Banyak artikel hadir dengan jumlah kata melimpah, tapi kurang gizi, akibat terlalu bergantung pada kecepatan AI. Apa jangan-jangan sebuah artikel perlu ikut program MBG juga?
Pada akhirnya, satu fenomena ganjil khas era digital ini juga menghadirkan satu catatan penting, tentang perlunya mengenal batasan. Ketika satu teknologi hadir sebagai alat bantu, biarlah ia tetap berperan sebagai alat bantu, supaya manusia bisa tetap jadi manusia yang berdaya.
Satu fenomena ganjil khas era digital ini, menjadi satu hal yang turut dibahas dalam momen GoodTalk, Rabu (6/5) silam. Acara yang berlangsung di Artotel Suites Bianti, Yogyakarta ini, menjadi pengalaman pertama penulis mengikuti GoodTalk secara langsung di lokasi.
Acara yang turut diisi Maman Suherman (Penulis Senior dan Advisor GNFI) dan Janoe Arijanto (Ketua P3I periode 2018-2025) ini menghadirkan satu ruang titik temu perspektif, dengan audiens dari beragam latar belakang. Dalam kemasan acara yang ringan, interaksi yang terjadi terasa mengalir ringan, meski topiknya terbilang keriting.
Meski hanya menjadi penonton yang duduk manis mengikuti acara, penulis bersyukur karena pesan yang hadir di sini sangat positif. Semoga nuansa positif ini dapat berlanjut di kesempatan berikutnya, khususnya pada momen GoodTalk di Yogyakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


