eat lancet 20 panduan makan sehat yang menyelamatkan bumi dan tubuhmu - News | Good News From Indonesia 2026

EAT-Lancet 2.0, Panduan Makan Sehat yang Selamatkan Bumi dan Tubuhmu

EAT-Lancet 2.0, Panduan Makan Sehat yang Selamatkan Bumi dan Tubuhmu
images info

EAT-Lancet 2.0, Panduan Makan Sehat yang Selamatkan Bumi dan Tubuhmu


Tahukah Kawan, bahwa setiap makanan yang kita konsumsi tidak hanya berdampak pada kesehatan tubuh, tetapi juga pada kondisi Bumi? Sistem pangan global saat ini menyumbang hampir sepertiga emisi gas rumah kaca, sekaligus menjadi faktor utama dalam deforestasi, penggunaan air berlebih, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

EAT-Lancet hadir sebagai salah satu panduan global yang mencoba menjawab tantangan tersebut. Tidak hanya berbicara soal gizi, tetapi juga bagaimana pola makan kita bisa lebih berkelanjutan dan adil bagi semua. 

Indonesia sendiri sudah memiliki panduan sederhana melalui program “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan, yang mengajak masyarakat untuk mengatur komposisi makan secara seimbang. Menariknya, jika dilihat lebih jauh, prinsip ini ternyata selaras dengan panduan global seperti EAT-Lancet

Apa itu EAT-Lancet

EAT-Lancet pertama kali diperkenalkan melalui konsep Planetary Health Diet (PHD), yaitu pola makan yang dirancang untuk menyehatkan manusia sekaligus menjaga batas ekologis Bumi.

Pola ini menekankan konsumsi pangan berbasis nabati seperti sayur, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, dan polong-polongan, dengan konsumsi protein hewani dalam jumlah yang lebih terbatas.

Pendekatan ini bukan berarti menghilangkan sepenuhnya produk hewani, melainkan menyeimbangkan kembali komposisi makan agar lebih banyak didominasi oleh pangan nabati. Dalam praktiknya, sekitar 70–80% asupan dianjurkan berasal dari tumbuhan.

baca juga

Dengan mengikuti pedoman ini, deforestasi dapat dikurangi, menekan penggunaan air berlebih, menurunkan risiko penyakit tidak menular, dan tetap menyiapkan pangan bagi 10 miliar orang pada tahun 2050.

EAT-Lancet 2.0: Berkeadilan Pangan

Setelah melalui diskusi, tukar pendapat, dan dialog bersama berbagai organisasi serta pakar. EAT-Lancet 2.0 dicetuskan sebagai pembaharuan, dengan inti keadilan pangan. Diluncurkan di Stockholm pada akhir 2025, bersama 72 organisasi di seluruh dunia, sekaligus mengadakan ringkasan aksi bagi tenaga kesehatan profesional yang menjadi salah satu dari sepuluh komunitas yang tergabung dalam Aksi EAT-Lancet.

Laluapa saja sih isinya?

Dalam pembaruan terbarunya, EAT-Lancet 2.0 tidak hanya berfokus pada kesehatan dan lingkungan, tetapi juga menekankan pentingnya keadilan pangan. Artinya, setiap orang seharusnya memiliki akses terhadap makanan sehat yang terjangkau dan sesuai dengan konteks lokal.

Hal ini sangat relevan di Indonesia, di mana keberagaman pangan lokal seperti tempe, tahu, sayur daun, umbi-umbian, hingga kacang-kacangan sebenarnya sudah sangat mendukung pola makan sehat tanpa harus bergantung pada bahan impor.

Selaras dengan “Isi Piringku”

Program “Isi Piringku” mengajarkan komposisi makan yang sederhana: setengah piring diisi oleh sayur dan buah, sementara setengah lainnya terdiri dari sumber karbohidrat dan protein.

Jika dilihat, prinsip ini selaras dengan Planetary Health Diet yang juga menempatkan pangan nabati sebagai komponen utama dalam piring makan. Sayur dan buah menjadi fondasi, sementara protein, baik dari nabati maupun hewani, dikonsumsi dalam porsi yang lebih seimbang.

Dengan kata lain, konsep makan sehat yang dianjurkan secara global sebenarnya sudah sangat dekat dengan panduan yang ada di Indonesia.

baca juga

Dari Teori ke Praktik Sehari-hari

Pola makan ini bisa diterapkan dengan sangat sederhana menggunakan makanan sehari-hari. Misalnya, sarapan bisa berupa bubur kacang hijau atau nasi dengan tempe dan sayur. Makan siang dapat terdiri dari nasi, sayur lodeh atau tumis kangkung, serta tahu atau tempe sebagai sumber protein. Makan malam pun bisa serupa, dengan tambahan buah seperti pepaya atau pisang sebagai penutup.

Menu seperti gado-gado, pecel, atau urap juga menjadi contoh yang sudah mencerminkan pola makan berbasis nabati dengan komposisi yang seimbang. Bahkan tanpa disadari, banyak hidangan tradisional Indonesia sudah mendekati prinsip Planetary Health Diet.

Dalam konteks ini, memperbanyak pilihan makanan nabati juga bisa dilakukan secara bertahap. Tidak harus langsung mengubah seluruh pola makan, tetapi bisa dimulai dari waktu-waktu tertentu, misalnya dengan memilih menu tanpa daging dalam satu hari dalam seminggu.

Dampak untuk Kesehatan dan Lingkungan

Dari sisi kesehatan, pola makan yang kaya akan sayur, buah, dan protein nabati dapat membantu menurunkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, hingga obesitas.

Sementara dari sisi lingkungan, pola makan ini dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, menekan penggunaan lahan dan air, serta menjaga keseimbangan ekosistem.

Kembali ke Pola yang Sudah Kita Kenal

Menariknya, pola makan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, banyak masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi makanan berbasis nabati karena ketersediaan bahan dan budaya makan yang sederhana.

Apa yang kini dikenal sebagai Planetary Health Diet atau bahkan gerakan global seperti Meatless Monday, yang mendorong pengurangan konsumsi daging secara berkala, sebenarnya sudah lama dipraktikkan dalam keseharian, hanya saja tidak diberi nama khusus.

baca juga

Langkah Kecil, Dampak Besar

Pada akhirnya, baik EAT-Lancet, “Isi Piringku”, maupun berbagai inisiatif global memiliki tujuan yang sama yaitu, membantu kita makan lebih seimbang, sehat, dan berkelanjutan.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Dari sepiring makanan sederhana, lebih banyak sayur, buah, dan pilihan nabati, kita sudah mengambil langkah kecil yang berdampak. Tidak hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk Bumi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MF
AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.