Bayangkan jika suatu hari nasi yang kita makan sehari-hari tiba-tiba hilang dari peredaran karena beras langka. Cemas? Pastinya! Namun, di Kampung Cirendeu, Cimahi, mereka sudah lama loh mempunyai cara yang jitu untuk survive tanpa bergantung pada beras.
Yup, mereka memilih singkong sebagai makanan pokok sehari-hari. Anti-mainstream bukan? Namun, karena itu mereka jadi tangguh untuk menghadapi isu ketahanan pangan di daerahnya.
Berkenalan dengan Kampung Cirendeu
Kampung Cirendeu terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Di balik sejarah, kampung ini menyimpan kejadian tragis di mana Kampung Cirendeu dahulu merupakan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Leuwi Gajah.
Pemandangan disuguhkan dengan menggunungnya sampah-sampah hingga terjadinya longsor pada 21 Februari 2005 yang merenggut 157 nyawa.
Kini, kesulitan tersebut sirna digantikan dengan tradisi masyarakat dan pemandangan kebun singkong yang luas. Bahkan, Kampung Cirendeu dinobatkan sebagai ‘pahlawan pangan’ karena telah mengganti nasi dengan singkong.
Kampung ini pun menjadi kampung adat sebab pakemnya adalah tradisi leluhur yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat.
Perubahan pangan masyarakat menjadi singkong tentunya memiliki sejarah yang panjang. Mula-mula, di era penjajahan Belanda terjadi fenomena kekurangan pangan, khususnya beras.
Oleh sebab itu, para pengikut aliran kepercayaan yang menjadi pakem tradisi masyarakat, yakni Sunda Wiwitan, diwajibkan untuk berpuasa dengan mengganti nasi beras menjadi nasi singkong sampai waktu tidak ditentukan. Tujuannya untuk mencapai kemerdekaan lahir dan batin, untuk menguji keyakinan dan masyarakat senantiasa mengingat Sang Hyang Kersa (Tuhan Yang Maha Esa).
Sejalan dengan nilai tersebut, sejak tahun 1918 masyarakat Kampung Cirendeu mulai beralih dari beras sebagai makanan pokok. Perubahannya dipelopori oleh Omah Asmanah, seorang putri dari Haji Ali Madrais. Haji Ali Madrasi sendiri merupakan nenek moyang masyarakat Cirendeu.
Omah Asmanah pun mengembangkan makanan pokok nonberas ini dan diberikan pengakuan sebagai ‘pahlawan pangan’ pada tahun 1964 oleh Wedana Cimahi.
Pada akhirnya, hingga kini Kampung Cirendeu tidak lagi mengalami kesulitan dalam kebutuhan pangan. Singkong menjadi penyelamat warga dari krisis pangan.
Makanan pun diolah tidak menjadi nasi saja, melainkan berbagai panganan yang berasal dari singkong.
Konsep Ketahanan Pangan Kampung Adat Cirendeu
Di tengah masyarakat Indonesia yang identik dengan ‘belum makan kalau belum makan nasi’, Kampung Cirendeu muncul dengan konsep dan filosofi yang kuat.
Apabila ditelisik, ketahanan pangan di Kampung Cirendeu tidak dijelaskan secara teori yang rumit, tetapi praktik nyata dalam keseharian masyarakatnya. Beberapa hal yang membuat mereka bisa bertahan hingga kini yaitu:
1. Diversifikasi pangan dengan singkong pengganti beras yang diolah menjadi rasi/nasi singkong dan berbagai makanan lezat. Atas tidak ketergantungan ini, Kampung Cirendeu terbebaskan dari kenaikan harga beras yang kian mahal dan langka di pasaran.
Dengan demikian, pangan lokal ini telah menyelamatkan warga dari kelaparan dan kekosongan pangan.
2. Kemandirian pangan terjadi karena masyarakat tidak tergantung pada pasar dan secara mandiri menanam singkong di kampungnya. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil dan mengolah sendiri tanpa khawatir terhadap harga atau kualitas singkong.
3. Kearifan lokal, pakem tradisi dan leluhur masyarakat Kampung Cirendeu telah berkontribusi pada diversifikasi dan kemandirian pangan ini. Tradisi tersebut diwariskan secara lintas generasi dan sangat relevan hingga sekarang, di tengah kesulitan pangan yang menerjang.
Mindset ini bisa dibilang ‘no rice, no cry’. Dengan hadirnya singkong, mereka tetap bisa hidup sehat, kenyang, dan mandiri.
Filosofi di Balik Singkong
Lalu, mengapa harus singkong? Bagi warga Cirendeu, singkong tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol kemandirian.
Hal ini juga sesuai dengan perkataan Haji Ali Madrais, di mana jika orang Cirendeu tidak mau terkena bencana, maka pantang makan nasi. Sehingga dengan kepercayaan itu mereka tidak rapuh terhadap krisis pangan.
Dengan hanya singkong, mereka telah menunjukkan bahwa hidup tetap terus berjalan tanpa mengikuti arus. Filosofi ini tentunya sejalan dengan tren anak muda kini, yakni eco-living, sustainable lifestyle, dan back to nature.
Selain itu, dilansir dari Alodokter, singkong memiliki kandungan karbohidrat yang lebih banyak daripada nasi, yakni hampir 40 gram. Begitu pun dengan nutrisi lain seperti protein, serat, folat, vitamin B, vitamin C, dan kalium.
Sebagai anak muda, dengan melihat suksesnya Kampung Cirendeu dalam beralih pangan. Kita bisa mempelajarinya, seperti mindful eating, untuk menjadi lebih sadar akan apa yang kita konsumsi.
Isu krisis pangan yang berkelindan dengan climate change telah mendorong kita untuk melakukan urban farming, hidroponik, atau membentuk komunitas pangan lokal.
Dengan langkah kecil ini, tentu akan berdampak besar apabila dikerjakan secara konsisten. Kalau lihat warga Cirendeu yang survive tanpa nasi, kita juga bisa memulainya dengan langkah yang paling sederhana, yakni mengurangi food waste, mencoba menanam sayuran sendiri, atau mendukung produk lokal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


