solusi untuk desa itu harusnya sederhana dan yayasan dian desa konsisten melakukannya sampai raih berbagai penghargaan - News | Good News From Indonesia 2026

Solusi untuk Desa Itu Harusnya Sederhana, dan Yayasan Dian Desa Konsisten Melakukannya Sampai Raih Berbagai Penghargaan

Solusi untuk Desa Itu Harusnya Sederhana, dan Yayasan Dian Desa Konsisten Melakukannya Sampai Raih Berbagai Penghargaan
images info

Solusi untuk Desa Itu Harusnya Sederhana, dan Yayasan Dian Desa Konsisten Melakukannya Sampai Raih Berbagai Penghargaan


Air tidak selalu tersedia di dekat rumah; limbah pun tidak selalu punya tempat pengolahan; dan di banyak dapur, asap kayu bakar masih jadi bagian dari cara memasak.

Mungkin fenomena itu dinilai sebagai hal yang biasa bagi sebagian orang. Padahal, tiga hal tersebut adalah dasar dari kebutuhan hidup manusia. Dari situ pula banyak persoalan bermula. Air yang sulit diakses menghambat aktivitas; limbah yang tak terkelola mencemari lingkungan; dan dapur berasap lambat laun mengganggu kesehatan.

Di sini, Yayasan Dian Desa membuka mata dan mengambil peran, menawarkan solusi sederhana yang melibatkan paritisipasi aktif dari warga. YDD tidak hanya membawa solusi jadi, tapi memperkenalkan cara, lalu membiarkan warga mengolahnya sesuai kebutuhan.

Sejak berdiri pada 1972, langkah Yayasan Dian Desa (YDD) memang tidak muluk-muluk. Awalnya mereka hanya fokus pada akses dan ketersediaan air bersih dan sanitasi bagi warga di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lebih khusus lagi, mereka juga membawa narasi untuk pemberdayaan perempuan di daerah desa.

baca juga

Beragam Masalah di Desa: Air

Masalah air menjadi akar permasalahan yang paling nyata. Di banyak desa, air bersih bukan sekadar kebutuhan dasar. Air juga berperan dalam menentukan kesehatan, produktivitas, bahkan waktu sehari-hari warga.

YDD mencatat, sejak 1970 mereka telah bekerja di lebih dari 2.000 desa di Indonesia, dari Jawa hingga Papua, dengan dukungan berbagai lembaga internasional seperti World Bank, UNICEF, dan ADB.

Solusi yang mereka bawa tidak pernah seragam. Semua disesuaikan dengan kondisi alam setempat.

“The clean water division disseminates several methods of sanitizing drinking water using simple, low-cost technologies,” dikutip dari laman resminya.

Di daerah yang memiliki sumber air di tempat tinggi, digunakan sistem gravitasi, yakni air dialirkan melalui pipa tanpa pompa. Lalu, di wilayah yang sulit dijangkau, pendekatan yang digunakan adalah hydraulic ram, pompa sederhana yang tidak membutuhkan listrik. Sementara di daerah kering, warga diajak memanen air hujan.

Untuk air minum, pendekatannya juga dibuat sesederhana mungkin. Salah satunya metode SODIS (Solar Disinfection), yaitu menjemur air dalam botol plastik bening agar sinar matahari membunuh bakteri penyebab penyakit.

Ada juga flokulasi organik, yakni memanfaatkan biji tanaman lokal untuk menggumpalkan kotoran dalam air agar mudah dipisahkan. Metode lain seperti PUR menggunakan bubuk kimia untuk menjernihkan sekaligus membunuh kuman.

baca juga

Limbah juga Jadi Masalah yang Sulit Diselesaikan

Dari air, persoalan kemudian bergeser ke limbah.

Banyak industri kecil dan rumah tangga membuang limbah tanpa pengolahan. Teknologi dari negara maju sering kali tidak cocok karena mahal dan rumit. YDD menawarkan pendekatan lain. Mereka mengembangkan teknologi yang lebih sederhana, namun tetap efektif. Yang lebih menarik, YDD bekerja sama dengan peneliti Jepang dari APEX.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah RBC (Rotating Biological Contactor). Ini merupakan sistem pengolahan limbah dengan media berputar yang membantu bakteri mengurai zat berbahaya.

Ada juga UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket), sistem tanpa oksigen yang cocok untuk limbah industri seperti tahu dan tempe. Teknologi ini kini digunakan di berbagai sektor, dari industri batik hingga rumah sakit. Bahkan YDD mengembangkan incinerator limbah medis berbahan biomassa yang lebih mudah dioperasikan.

baca juga

Kompor Kayu juga Berbahaya?

Masalah lain yang tak kalah dekat dengan masyarakat, khususnya perempuan adalah dapur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 menunjukkan sekitar 24,5 juta rumah tangga di Indonesia masih menggunakan bahan bakar biomassa seperti kayu. Tungku tradisional yang digunakan sering kali tidak efisien dan menghasilkan asap berbahaya. Dampaknya paling dirasakan perempuan dan anak-anak yang lebih lama berada di dapur.

Melihat kondisi ini, YDD mengembangkan tungku hemat energi. Desainnya lebih efisien, asapnya lebih sedikit, dan lebih aman digunakan. Program ini juga terhubung dengan Indonesia Clean Stove Initiative bersama Kementerian ESDM dan World Bank, yang menargetkan kelompok masyarakat paling rentan.

Dari dapur, inovasi YDD meluas ke energi. Pemanfaatan biomassa, seperti limbah pertanian atau tempurung kelapa, untuk menghasilkan listrik, juga mulai dikenalkan. Proses ini disebut gasifikasi biomassa, yakni mengubah bahan padat menjadi gas yang bisa digunakan sebagai bahan bakar. Teknologi ini masih terus dikembangkan, tetapi potensinya besar, terutama untuk daerah yang belum memiliki akses listrik stabil.

baca juga

Penghargaan yang Diraih Yayasan Dian Desa

Pendekatan Yayasan Dian Desa ini kemudian mendapat pengakuan luas. YDD tercatat meraih berbagai penghargaan, mulai dari Ramon Magsaysay Award pada 1983, Kalpataru pada 1980, hingga penghargaan internasional seperti Simavi Award.

Pada 2025, Direktur YDD juga menerima Herman Johannes Award atas kontribusi dalam pengabdian masyarakat.

Penghargaan-penghargaan itu diraih sebab Yayasan Dian Desa memastikan teknologi yang mereka bawa benar-benar sesuai dengan kehidupan masyarakat. Karena banyak program pembangunan gagal bukan karena tidak ada solusi, tetapi karena solusinya tidak membumi.

Hal ini pun ditegaskan dalam website resminya, “YDD’s working principle is to spread the use of appropriate technology to provide sustainable solutions for development throughout Indonesia. Working as a catalyst, YDD introduces new ideas to communities which are then refined, maintained, and spread by the villagers themselves.”

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.