Warga di Kalipondok pernah merasakan tidak ada aliran listrik. Saat malam, mereka hanya mengandalkan lampu minyak tanah.
Bukan berarti mereka hanya diam menerima keadaan. Sekitar 2010, warga Desa Karangtengah sempat mengajukan permohonan agar jaringan listrik dari PLN masuk ke wilayah mereka.
Sayangnya, harapan itu tidak terwujud. Permintaan listrik dinilai masih terbatas, sementara kondisi permukiman yang terpencar membuat jaringan sulit dijangkau.
Beberapa tahun setelah itu, warga gotong royong membangun jaringan listrik secara mandiri.
Kawasan yang berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) memberikan keuntungan. Air di Kalipondok masih melimpah. Masyarakat pun memanfaatkan sumber daya itu untuk membangun instalasi listrik.
Hari ini, sekitar 75 rumah di dusun itu hidup dengan listrik yang mereka kelola sendiri. Dayanya stabil hingga 24 jam. Biaya yang dikeluarkan per keluarga cenderung lebih murah dan mereka lebih mandiri tanpa bergantung pada PLN.
Jauh sebelum itu, sebenarnya warga sudah menjajal memanfaatkan aliran Sungai Prukut, Sungai Peh, dan Telaga Pucung. Mereka membuat turbin sederhana dari kayu dan dinamo bekas pada tahun 1990-an.
Cara kerjanya sangat sederhana. Air yang mengalir memutar kincir. Putaran itu lalu diteruskan ke dinamo untuk menghasilkan listrik. Tidak besar, tapi cukup terasa perbedaannya saat malam tiba.
“Hampir setiap rumah punya, atau minimal dua rumah satu instalasi sederhana,” kata Rasim, salah satu warga.
Masalahnya, daya yang dihasilkan sangat terbatas. Satu kincir hanya sekitar 50 watt. Itu pun hanya cukup untuk menyalakan lampu. Televisi, kulkas, atau alat listrik lain masih jauh dari jangkauan. Di sisi lain, kincir kayu ini juga tidak tahan lama.
“Cuma itu gak maksimal, kalau ada banjir terlalu keras, blong… kadang hilang baling-balingnya,” ungkap Karwin Zaenal.
Meski serba terbatas dan sering rusak, bagi warga saat itu, ini sudah menjadi kemajuan besar. Setidaknya, malam tidak lagi sepenuhnya gelap.
Listrik yang Lahir dari Gotong Royong
Setelah bertahun-tahun mengandalkan kincir kayu yang terbatas, warga mulai mencari solusi yang lebih stabil. Upaya itu mulai menemukan titik terang ketika sekitar 2012, bantuan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) datang dari Kodim Banyumas. Kodim saat itu bekerja sama dengan PT Indonesia Power.
Pada tahap awal instalasi, sistemnya masih sederhana. Tapi setidaknya, warga tidak lagi bergantung pada kincir yang mudah rusak, tetapi mulai beralih ke sistem pembangkit terpusat.
Beberapa tahun kemudian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas ESDM masuk untuk menyempurnakan instalasi tersebut. Perbaikan ini membuat aliran listrik menjadi lebih stabil dan bisa menyala selama 24 jam.
Perkembangan tidak berhenti di situ. Pada 2016, bantuan PLTMH kedua dibangun. Dibandingkan yang pertama, unit ini lebih optimal dan kemudian menjadi sumber utama listrik yang digunakan warga hingga sekarang.

CaptioPembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Kalipondok. Sumber: DW Indonesia
“Saat ini, kami memang memiliki dua unit PLTMH… yang kedua ini yang dimanfaatkan oleh warga,” jelas Narto, pengurus PLTMH.
Masing-masing unit memiliki kapasitas sekitar 15 kilowatt (kW). Dengan daya sebesar itu, listrik sudah mampu menjangkau sekitar 75 rumah, termasuk beberapa warung dan penginapan kecil.
“Saya bisa buka warung, pakai freezer. Dulu tidak mungkin,” kata Narto.
Menariknya, setelah infrastruktur terbangun, pengelolaan tidak diambil alih pihak luar. Sejak awal, warga justru memilih untuk mengurusnya sendiri.
“Kami bentuk kelompok sejak 2012. Tugasnya mengelola dan memelihara PLTMH,” ujar Narto.
Warga Hanya Bayar Puluhan Ribu per Bulan
Tarif listrik di Kalipondok hanya Rp500 per kWh. Harga ini jelas jauh di bawah tarif PLN.
Rata-rata warga hanya membayar Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per bulan. Bahkan yang punya usaha dengan kulkas dan freezer hanya sekitar Rp65 ribu.
Dari dana tersebut, iuran bulanan yang terkumpul sekitar Rp2–3 juta. Dana ini dipakai untuk perawatan turbin, honor pengurus, dan tabungan jika ada kerusakan.
Narto juga menambahkan, listrik membuat aktivitas petani berubah. Dulu, mereka menunggu matahari terbit. Sekarang, pengepakan sayur bisa dilakukan sejak dini hari.
Narto bahkan membuka usaha Wi-Fi rumahan. Saat pandemi, layanan ini banyak dipakai anak sekolah untuk belajar daring.
“Mereka bisa men-cas handphone juga untuk belajar,” katanya, sebagaimana dikutip dari Mongabay Indonesia, 2022.
Menjaga Hutan, Menjaga Listrik
Ada satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari listrik di Kalipondok, yakni hutan. Kelestarian eksositem adalah kunci keberjalnjutan sistem dan kemandirian energi di Kalipondok.
“Seandainya hutan rusak, maka air akan hilang. Itu petaka buat kami,” tegas Narto.
Kesadaran ini membuat warga sepakat menjaga hutan. Karena mereka tahu, listrik mereka bergantung pada air, dan air bergantung pada hutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


