perempuan indonesia sudah merdeka atau baru sekadar diberi ruang - News | Good News From Indonesia 2026

Perempuan Indonesia: Sudah Merdeka, atau Baru Sekadar Diberi Ruang

Perempuan Indonesia: Sudah Merdeka, atau Baru Sekadar Diberi Ruang
images info

Perempuan Indonesia: Sudah Merdeka, atau Baru Sekadar Diberi Ruang


Setiap tanggal 21 April, kita kembali mengingat R.A. Kartini. Beliau dikenang sebagai sosok yang membuka jalan bagi perempuan untuk belajar, berpikir, dan menentukan hidupnya sendiri. Tapi kalau kita jujur, pertanyaannya belum selesai sampai di situ.

Apakah perempuan Indonesia hari ini benar-benar sudah merdeka?

Sebagai ASN yang cukup sering berada di ruang-ruang di mana kebijakan dibicarakan dan pelayanan publik dijalankan, saya melihat sendiri bagaimana perempuan hari ini sudah banyak terlibat. Mereka hadir dalam rapat, mengambil peran dalam pelayanan, bahkan ikut menentukan arah kebijakan.

Namun, kehadiran belum tentu berarti setara. Kalau melihat data, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih berada di kisaran 55 persen, sementara laki-laki sudah berada di atas 80 persen. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, peluang perempuan untuk masuk ke dunia kerja belum sepenuhnya setara.

Kondisi ini bukan sekadar angka statistik. Ia mencerminkan realitas bahwa masih banyak perempuan yang belum memiliki akses yang sama terhadap kesempatan ekonomi. Sebagian terhambat oleh keterbatasan pendidikan, sebagian lainnya oleh norma sosial yang masih membatasi ruang gerak mereka.

baca juga

Ketika perempuan sudah berhasil masuk ke dunia kerja, tantangannya belum selesai. Data BPS juga menunjukkan bahwa rata-rata upah perempuan masih lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang setara. UN Women bahkan mencatat bahwa kesenjangan upah berbasis gender di Indonesia bisa mencapai sekitar 20 persen.

Di luar angka, ada persoalan yang sering tidak terlihat. Banyak perempuan yang tetap harus mengurus rumah dan keluarga setelah pulang kerja. Mereka bekerja di kantor, tetapi di rumah tetap memegang peran utama.

Kondisi ini sering disebut sebagai “beban ganda”. Sosiolog Arlie Hochschild menyebut fenomena ini sebagai “second shift”, yaitu situasi ketika perempuan menjalani dua “shift” sekaligus: pekerjaan di kantor dan pekerjaan domestik di rumah. Dari pengalaman yang saya lihat, ini bukan sekadar konsep akademik. Ini nyata terjadi di sekitar kita.

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika dilihat dari perspektif yang lebih luas. Naila Kabeer menjelaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya soal diberi kesempatan, tetapi juga soal memiliki kendali atas pilihan hidupnya. Sementara Amartya Sen menekankan bahwa pembangunan yang adil adalah ketika setiap individu memiliki kemampuan nyata untuk memanfaatkan peluang yang tersedia.

Kalau kita tarik ke konteks Indonesia hari ini, kita bisa melihat bahwa kesempatan memang mulai terbuka. Perempuan bisa bersekolah, bekerja, bahkan memimpin. Namun, tidak semua perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut.

Sebagian masih bekerja di sektor informal tanpa perlindungan yang memadai. Sebagian lainnya masih harus berhadapan dengan norma sosial yang membatasi. Ada juga yang harus memilih antara karier dan keluarga, karena sistem yang ada belum sepenuhnya mendukung keduanya berjalan seimbang. Akibatnya, perempuan memang terlihat “sudah diberi ruang”, tetapi belum sepenuhnya bebas bergerak di dalamnya.

Di sinilah semangat Kartini terasa tetap relevan. Perjuangan hari ini bukan lagi sekadar membuka akses pendidikan, tetapi memastikan bahwa perempuan bisa berkembang tanpa harus menanggung beban yang tidak seimbang.

baca juga

Sebagai bagian dari sistem pemerintahan, saya melihat bahwa perubahan ini tidak bisa hanya dibebankan pada individu perempuan. Harus ada sistem yang mendukung. Mulai dari kebijakan yang lebih peka terhadap kebutuhan perempuan, perlindungan pekerja perempuan, hingga lingkungan kerja yang lebih adil dan inklusif.

Kita juga perlu mulai melihat isu ini bukan sebagai isu perempuan semata, tetapi sebagai isu pembangunan. Ketika perempuan tidak memiliki kesempatan yang setara, maka potensi pembangunan juga tidak dimanfaatkan secara optimal.

Perempuan Indonesia hari ini memang sudah melangkah jauh. Tapi kalau kita mau jujur, perjalanan menuju kemerdekaan yang benar-benar setara masih belum selesai.

Kartini sudah membuka jalan. Sekarang, tugas kita adalah memastikan jalan itu tidak hanya terbuka, tetapi juga adil untuk dilalui semua perempuan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.