kisah kunang kunang dan angan angan tinggi cerita rakyat dari yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Kunang-Kunang dan Angan-Angan Tinggi, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Kisah Kunang-Kunang dan Angan-Angan Tinggi, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
images info

Kisah Kunang-Kunang dan Angan-Angan Tinggi, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Kisah kunang-kunang dan angan-angan yang tinggi merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Yogyakarta. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang seekor kunang-kunang yang menjalani hidup penuh luka lara akibat angan-angannya yang terlalu tinggi.

Bagaimana kisah kunang-kunang dan angan-angan tinggi yang terdapat dalam cerita rakyat dari Yogyakarta tersebut?

Kisah Kunang-Kunang dan Angan-Angan Tinggi, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dilihat dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, alkisah di sebuah persawahan hiduplah sepasang kunang-kunang yang tinggal bersama. Pasangan kunang-kunang ini memiliki beberapa anak di antara mereka.

Dari semua anak kunang-kunang ini, ada si bungsu yang selalu menyendiri dari saudaranya yang lain. Kunang-kunang bungsu ini bernama Kelip.

Ketika semua saudaranya selalu bermain dengan riang, Kelip hanya duduk menyendiri di pinggiran sawah. Hal ini tentu membuat kedua orang tua Kelip khawatir dengan kondisinya.

Kisah Penyu yang Cerdik, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Para saudara Kelip sebenarnya sudah berusaha mengajaknya untuk bermain bersama. Tidak jarang mereka juga menanyakan apa yang membuat Kelip selalu terlihat murung setiap harinya.

Namun Kelip justru berperilaku kasar pada saudaranya. Dia berkata jika saudaranya tidak perlu tahu apa yang tengah dia rasakan.

Jawaban ini membuat saudara-saudara Kelip tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya tidak ada lagi saudaranya yang mengajak Kelip bermain bersama.

Setiap malam Kelip hanya memandangi langit malam. Ternyata selama ini Kelip memandangi bintang panjar sore yang bersinar terang di atas langit malam.

Kelip merasa kagum dengan bintang itu. Dirinya bahkan ingin terbang tinggi ke angkasa agar bisa menggapai bintang panjar sore tersebut.

Pada suatu hari, kedua orang tua Kelip makin khawatir dengan kondisi anaknya. Akhirnya sang ayah berusaha membujuk Kelip dan memberi tahu apa yang membuatnya demikian.

Meskipun kesal, akhirnya Kelip mau bercerita pada sang ayah. Dia berkata sangat mengagumi bintang panjar sore yang muncul pada malam hari.

Kelip bahkan berkata jika dia ingin menggapai bintang tersebut. Untuk itu, dia akan berusaha melakukan apa saja agar bisa terbang ke sana.

Sang ayah merasa khawatir dengan kondisi anak bungsunya itu. Dirinya kemudian menitipkan sebuah pesan pada Kelip.

Ayah Kelip berpesan jika setiap orang memang diperbolehkan untuk memiliki angan-angan apa saja. Namun setiap orang juga mesti bisa menilai kondisi dirinya sendiri sebelum menggapai angan-angan tersebut.

Kelip yang seekor kunang-kunang tentu mustahil untuk bisa terbang menuju bintang panjar sore. Sang ayah kemudian berpesan agar Kelip bisa lebih menikmati hidupnya dibandingkan terpaku pada satu angan-angan tersebut.

Namun nasihat yang diberikan oleh sang ayah berlalu begitu saja. Kelip tidak peduli dengan pesan yang diberikan oleh ayahnya tersebut.

Sehari-hari Kelip selalu terobsesi dengan angan-angannya itu. Setiap hari pula dia berusaha terbang setinggi-tingginya untuk bisa menggapai bintang panjar sore.

Akan tetapi, sama seperti ucapan sang ayah, semua yang dilakukan Kelip tentu sia-sia. Bukannya menggapai bintang, Kelip sering kali terjatuh karena kehabisan tenaga ketika terbang di angkasa.

Akibatnya tubuh dan sayap Kelip menjadi sakit-sakitan. Meskipun demikian, dia tetap tidak peduli dan tetap melakukan hal serupa berulang kali.

baca juga

Setiap malam Kelip hanya bisa mengigau tentang keinginannya itu di tengah kondisi badan yang sakit-sakitan. Akhirnya Kelip menemui ajalnya dengan penuh luka lara karena tidak mampu mencapai impian dan menikmati hidupnya.

Kedua orang tua dan saudara-saudara kelip pada akhirnya juga menemui ajalnya. Namun berbeda dengan Kelip, kedua orang tua dan saudaranya mengakhiri hidup dengan perasaan riang gembira karena tidak terbebani angan-angan yang sangat tinggi dan sukar untuk dicapai.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.