legenda asal usul desa butuh di gunung kidul cerita rakyat dari yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Asal Usul Desa Butuh di Gunung Kidul, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Legenda Asal Usul Desa Butuh di Gunung Kidul, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
images info

Legenda Asal Usul Desa Butuh di Gunung Kidul, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang menceritakan tentang legenda asal usul Desa Butuh, salah satu daerah di Gunung Kidul. Konon asal usul nama daerah ini berkaitan dengan bertemunya Ki Ageng Pamanahan dengan Ki Ageng Giring di masa lalu.

Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Yogyakarta tersebut?

Legenda Asal Usul Desa Butuh di Gunung Kidul, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dilihat dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada suatu hari Sunan Kalijaga berkumpul bersama dua muridnya, yakni Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan. Sunan Kalijaga berkata jika ilmu yang dia berikan dirasa sudah cukup untuk kedua muridnya itu.

Untuk itu, Sunan Kalijaga meminta Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan untuk pergi ke Gunung Kidul. Di sana mereka diminta untuk mencari Wahyu Keraton.

Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan menanyakan apa yang dimaksud dengan Wahyu Keraton tersebut. Sunan Kalijaga kemudian menjelaskan jika Wahyu Keraton merupakan pertanda dari Yang Mahakuasa terkait orang yang nantinya menurunkan raja-raja kuat di Jawa.

Setelah mendengarkan wejangan dari Sunan Kalijaga, berangkatlah Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan menuju Gunung Kidul. Mereka pergi bersama dua orang pendamping, yakni Ki Juru Mertani dan Ki Bintulu Aji.

baca juga

Begitu sampai di Gunung Kidul, Ki Ageng Mertani mengusulkan agar mereka berpencar di sana. Sebab wilayah Gunung Kidul sangat luas untuk dijelajahi dalam satu waktu yang sama.

Akhirnya kedua murid Sunan Kalijaga ini berpisah. Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani pergi ke sebuah tempat yang belum pernah dirambah oleh manusia untuk bertapa.

Kelak daerah tersebut dikenal dengan nama Kembang Lampir. Lokasi pertapaan ini dipercaya berada di daerah Bumi Sekar, Panggang, Gunung Kidul.

Di sisi lain, Ki Ageng Giring bersama Ki Bintulu Aji membuka sebuah daerah baru. Lama kelamaan daerah ini menjadi sebuah desa dan diberi nama Desa Giring.

Seiring berjalannya waktu, Desa Giring mulai ramai didatangi pendatang Ki Ageng Giring sebagai pendiri desa itu kemudian menikah dengan Talang Warih.

Suatu hari, Ki Ageng Giring teringat dengan sebuah bekal sabut kelapa yang dititipkan Sunan Kalijaga untuknya. Dia diminta untuk menanam sabut kelapa tersebut.

Ki Ageng Giring kemudian meminta Ki Bintulu Aji untuk menanam dan merawat sabut kelapa itu. Ajaibnya sebuah pohon kelapa benar-benar tumbuh dari sabut tersebut.

Namun pohon ini hanya memiliki satu buah kelapa yang berukuran kecil. Buah kelapa ini kemudian dikenal dengan nama Gagak Emprit.

Pada suatu hari, Ki Ageng Giring dan Ki Bintulu Aji tengah beristirahat di dekat pohon kelapa Gagak Emprit. Tiba-tiba muncul sebuah cahaya terang dan Sunan Kalijaga dari pohon tersebut.

Sunan Kalijaga berkata bahwa siapa yang meminum air buah kelapa Gagak Emprit nantinya akan menjadi raja-raja tangguh di Jawa. Setelah menyampaikan pesan ini, Sunan Kalijaga menghilang begitu saja.

Ki Ageng Giring menangkap pesan jika buah kelapa inilah yang dimaksudkan dengan Wahyu Keraton. Tanpa menunggu waktu lama, Ki Ageng Giring langsung mengambil buah kelapa tersebut dan membawanya pulang.

Begitu sampai di rumah, Ki Ageng Giring menceritakan pesan yang baru saja dia dapatkan pada sang istri, Nyai Talang Warih. Ki Ageng Giring kemudian pergi ke sungai untuk membersihkan diri dan berpesan pada Nyai Talang Warih agar tidak ada seorang pun yang meminum air kelapa itu kecuali dirinya.

Tidak lama setelah Ki Ageng Giring pergi, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani datang berkunjung ke kediamannya. Nyai Talang Warih yang seorang diri dirumah menyambut kedatangan saudara seperguruan suaminya tersebut.

Ki Ageng Pamanahan yang kehausan kemudian melihat kelapa Gagak Emprit di atas meja. Dia kemudian meminta air kelapa itu untuk melepaskan dahaga.

Pada awalnya, Nyai Talang Warih menolak permintaan itu dan menyampaikan pesan sang suami. Namun karena sudah merasa sangat haus, Ki Ageng Pamanahan langsung meminum air kelapa itu.

Setelah itu, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mentaok. Ki Ageng Giring yang kembali dari sungai terkejut setelah mendengarkan cerita dari sang istri.

baca juga

Bayangan akan kemuliaan bagi keturunannya menjadi sirna. Ki Ageng Giring kemudian memutuskan untuk menyusul saudara seperguruannya tersebut.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya Ki Ageng Giring berhasil menyusul Ki Ageng Pamanahan di sebuah tempat. Di sana Ki Ageng Giring kemudian menceritakan tentang kondisi serta peristiwa yang baru saja terjadi.

Ki Ageng Pamanahan kemudian meminta maaf atas apa yang baru saja terjadi. Ki Ageng Giring kemudian menerima permintaan maaf tersebut.

Namun Ki Ageng Giring meminta jika keturunannya bisa menjadi raja-raja Jawa kelak. Akan tetapi permintaan ini tidak pernah dijawab oleh Ki Ageng Pamanahan.

Konon tempat bertemunya Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pamanahan inilah yang kemudian dikenal dengan nama Butuh. Nama ini diambil dari peristiwa di mana tempat bertemunya dua orang yang sama-sama membutuhkan Wahyu Keraton.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.