Legenda Inser Nanggi merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Papua. Legenda ini berkisah tentang seorang pemuda yang berjasa hingga dianggap sebagai utusan dari surga.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda Inser Nanggi tersebut?
Legenda Inser Nanggi Sang Utusan Surga, Cerita Rakyat dari Papua
Dikutip dari artikel Surajuddin, "Inser Nanggi Utusan dari Surga" dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua (Pemenang Sayembara), pada zaman dahulu ada sebuah kampung di tanah Papua yang bernama Woniki. Kampung ini dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah.
Kebanyakan penduduk yang ada di sana bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka bisa mendapatkan hasil ladang maupun tangkapan ikan dengan mudah berkat kekayaan alam yang ada di sana.
Namun ada satu masalah yang dihadapi oleh masyarakat Kampung Woniki. Kekayaan alam yang dimiliki kampung itu justru membuat masyarakat yang ada di sana menjadi kerepotan.
Masyarakat Kampung Woniki dulunya mengonsumsi hasil kebun atau ikan secara mentah begitu saja. Setiap tangkapan yang mereka dapatkan akan selalu diusahakan untuk habis saat itu saja.
Akan tetapi, kekayaan alam yang melimpah membuat hasil panen yang mereka dapatkan selalu dalam jumlah banyak. Hal ini juga berlaku ketika nelayan pulang dari lautan dan membawa ikan yang banyak.
Selama ini mereka hanya memanfaatkan sinar matahari untuk mengeringkan semua hasil makanan tersebut. Jika tidak ada matahari muncul, maka semua makanan itu akan terbuang sia-sia begitu saja.
Pernah suatu kali musim pancaroba tengah melanda Kampung Woniki. Hal ini membuat hujan lebat turun selama berhari-hari lamanya.
Kondisi ini membuat masyarakat tidak bisa menjemur persediaan makanan mereka. Alhasil banyak makanan yang terbuang karena sudah rusak dan tidak bisa dimakan lagi.
Situasi ini sering kali membuat masyarakat Kampung Woniki khawatir dengan kondisi mereka. Mereka khawatir suatu saat kelaparan akan melanda daerah tersebut.
Pada suatu hari, datang seorang pemuda yang terlihat lusuh di Kampung Woniki. Pemuda ini terlihat kelelahan ketika memasuki kampung ini.
Pemuda tersebut bernama Menakmakeri. Dirinya adalah seorang pengembara yang sudah melewati berbagai daerah yang ada di dunia.
Ketika memasuki Kampung Woniki, Menakmakeri melihat sebuah honai yang dihuni oleh dua orang kakak beradik. Kedua kakak beradik yang bernama Melianus dan Samuel.
Melianus dan Samuel tengah menjemur persediaan makanan mereka. Karena sedang asik berjaga, mereka tidak melihat kedatangan Menakmakeri.
Menakmakeri kemudian mendekat ke honai tersebut. Dia pun meminta seteguk air dan makanan pada dua kakak beradik itu.
Melianus dan Samuel menyambut Menakmakeri dengan hangat. Melianus kemudian memerintahkan adiknya untuk mengambil beberapa persediaan makanan mereka.
Menakmakeri kemudian dihidangkan beberapa umbi-umbian dan ikan oleh kedua orang kakak beradik itu. Namun makanan yang dihidangkan untuknya masih dalam kondisi mentah.
Melihat hal ini, Menakmakeri kemudian mengeluarkan beberapa kayu kering dari tas bawaannya. Dia pun menyusun sedemikian rupa dan membuat api unggun untuk membakar makanan itu.
Bau makanan ini ternyata menarik perhatian kedua kakak beradik tersebut. Mereka belum pernah mencium bau makanan seperti itu sebelumnya.
Selain itu, mata Melianus dan Samuel tertuju pada kobaran api yang ada di hadapan Menakmekari. Mereka merasa heran karena tidak tahu apa yang ada di hadapan Menakmekari tersebut.
Setelah matang, Menakmekari kemudian menawarkan makanan yang dia buat pada kakak beradik itu. Mereka terpesona dengan cita rasa dari olahan makanan tersebut.
Melianus kemudian bertanya apa kobaran panas yang ada di hadapan Menakmekari. Pengembara tersebut kemudian menjawab jika itu adalah api yang bisa memberikan banyak manfaat bagi manusia.
Tidak hanya untuk memasak makanan, kobaran api juga bisa menghangatkan badan saat malam tiba. Melianus dan Samuel hanya bisa terpana mendengarkan penjelasan itu.
Kedua bersaudara ini kemudian meminta Menakmekari untuk mengajari mereka cara membuat api. Melianus dan Samuel merasa jika inilah solusi untuk permasalahan yang dihadapi oleh Kampung Woniki.
Melianus kemudian menceritakan masalah yang dihadapi kampung tersebut. Dengan senang hati Menakmekari mengajarkan cara membuat api pada dua orang kakak beradik itu.
Kedua kakak beradik ini belajar dengan giatnya. Tanpa sadar, Menakmekari sudah pergi meninggalkan mereka melanjutkan pengembaraan.
Ketika berhasil, Melianus dan Samuel hendak memperlihatkan api buatan mereka pada Menakmekari. Namun kedua kakak beradik ini tidak bisa menemukan kedua guru mereka.
Meskipun tidak pernah berjumpa lagi, Melianus dan Samuel tetap mengenang jasa guru mereka. Bahkan mereka menyebut Menakmekari sebagai Inser Nanggi, sosok yang diutus dari surga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


