Teman-teman yang buta berhak menikmati film yang diputar di bioskop. Walaupun mereka tidak bisa menikmati secara visual, mereka bisa membayangkan suasananya dan membangun imajinasi lewat audio. Inilah yang diperjuangkan Forum Sineas Banua.
Awalnya, Forum Sineas Banua hanya komunitas film biasa yang berbasis di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mereka kerap menggelar pemutaran karya film di kampung, halaman rumah warga, atau di ruang-ruang alternatif lainnya.
Tapi, lambat laut, mereka merasa ada pihak yang selama ini belum bisa mengakses film. Padahal, mereka percaya bahwa film adalah milik semua yang bisa dinikmati oleh semua orang.
“Bagi kami, film bukan sekadar tontonan estetika. Film adalah medium untuk menjangkau, mengajak, dan menyentuh siapa saja. Termasuk kawan-kawan tunanetra,” kata Munir Shadikin, Ketua FSB, sebagaimana dikutip dari laman resmi LPDP.
Munir Shadikin, mengakui perubahan cara pandang itu tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Kesadaran untuk membangun perfilman Indonesia lebih inklusif punya proses yang panjang.
Kini, FSB berhasil membawa pengalaman sinematik yang lebih inklusif bagi masyarakat Kalimantan Selatan melalui program Bioskop Bisik.
Amati dan Tiru Lalu Modifikasi
Edo Rahman pernah melihat pemutaran film di Jakarta. Di sana, relawan duduk di samping penonton tunanetra dan membisikkan adegan yang muncul di layar.
“Saya lihat relawan duduk di samping mereka, membisikkan adegan-adegan yang muncul di layar,” katanya.
Dari pengalaman itu, Edo menggagas untuk menghadirkan Bioskop Berbisik.
Begitu kembali ke Banjarmasin, ia mengajak rekan-rekan di Forum Sineas Banua untuk mencoba, tapi dengan pendekatan lain. Edo kemudian turut menjadi penanggungjawab program Bioskop Berbisik di FSB.
Di Bioskop Berbisik, film tidak hanya diputar tapi juga digambarkan. Tim FSB membuat audio deskripsi, yaitu narasi tambahan yang menjelaskan elemen visual via suara.
Mereka menjelaskan detail kecil yang menentukan cerita, seperti ekspresi tokoh, perpindahan adegan, dan suasana ruang.
Audio ini tidak dibacakan atau dibisikkan langsung, sebagaimana yang Edo saksikan di Jakarta. Tim FSB merekamnya lebih dulu, lalu diputar melalui headphone khusus agar penonton tunanetra bisa mengikuti film secara utuh.
“Kami rekam audio deskripsinya terlebih dahulu, dengan mengikuti SOP pendampingan bagi teman-teman tunanetra,” imbuh Munir.
Untuk penonton tuli, FSB juga menghadirkan bahasa isyarat di layar. Tidak hanya menerjemahkan dialog, tetapi juga membantu menjelaskan konteks suara yang penting dalam alur cerita.
Kenapa Filmnya Harus Dekat?
FSB tidak hanya memikirkan cara menyampaikan film, tapi juga apa yang disampaikan.
Mereka memilih memutar film lokal. Film-film itu banyak yang menggunakan bahasa Banjar. Lokasinya pun dekat dengan kehidupan sehari-hari penonton.
“Kontennya pun harus bisa mereka pahami, rasakan, dan relasikan dengan keseharian,” kata Edo.
Menariknya, cara menonton ini justru menghasilkan pengalaman yang tidak kalah kuat.
Bagi penonton tunanetra, film tidak hadir dalam bentuk cerita yang dibangun di dalam kepala. Visual bukan satu-satunya cara menikmati film. Penonton bisa mengimajinasikan sendiri adegan yang tengah berlangsung.
“Film jadi bagus di kepala mereka,” kata Edo.
Program Ini Dapat Dukungan LPDP
Bioskop Berbisik, program yang inklusif ini tidak berjalan tanpa dukungan. Program ini mendapat pendanaan dari Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola LPDP.
Sekitar Rp172 juta digunakan untuk pengadaan headphone wireless, produksi audio deskripsi, penyediaan juru bahasa isyarat, dan pelatihan relawan.
“Kami pengadaan headphone wireless untuk memfasilitasi kawan-kawan tuna netra agar mereka menerima audio yang berbeda,” jelas Edo.
Bioskop Berbisik sudah digelar beberapa kali. Jumlah penontonnya pun terus meningkat.
“Ini pertama kalinya saya benar-benar paham apa artinya inklusif,” ujar Munir menirukan komentar penonton.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


