Perang antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat masih belum mereda. Operasi militer yang digencarkan Israel dan sekutu terdekatnya kepada Iran di akhir Februari 2026 itu berpotensi besar memengaruhi situasi ekonomi dunia.
Kondisi ini diperkuat dengan ditutupnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi terpenting di dunia saat ini oleh Iran. Tak hanya itu, Iran juga melakukan serangan balasan ke beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk.
Situasi geopolitik yang “menyeramkan” ini mendorong naiknya harga minyak dunia. Namun, uniknya, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Edhie Purnawan, justru menyebut jika Indonesia menampilkan anomali yang cukup impresif di tengah kekacauan dunia saat ini. Mengapa demikian?
Kekuatan Ekonomi Indonesia di Tengah Gonjang-ganjing Dunia
Dalam keterangan Edhie di ugm.ac.id, konflik yang masih terus memanas itu menyebabkan harga minyak dunia naik hingga menembus US$108 per barel. Hal ini menjadi ancaman nyata bagi infasi di negara-negara pengimpor minyak.
Akan tetapi, Edhie menyebut jika dalam kondisi ini, ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur cenderung stabil di level 53,8. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 juga menyentuh 5,39 persen. Ini meneegaskan kokohnya fundamental domestik Indonesia.
“Cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar menjadi benteng pertahanan terakhir yang memadai untuk meredam turbulensi pasar,” katanya.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz berpotensi besar memutus pasokan energi Asia Pasifik. Menanggapi hal ini, pemerintah pun menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penahan benturan lewat subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Tak hanya itu, Bank Indonesia pun menginjeksikan likuiditas lewat kebijakan Intensif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp427,5 triliun serta menurunkan bunga kredit ke level 8,80 persen. Ini dilakukan agar sektor UMKM dan dunia usaha tetap dapat bergerak meskipun biaya modal global tengah bergejolak.
Indonesia sebagai Middle Power
Edhie yang juga merupakan Ketua Bidang International Affairs Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia itu turut menjabarkan risiko dari gugurnya tokoh-tokoh penting Iran. Ia menyebut adanya risiko proliferas nuklir di dunia.
Ia menjelaskan, di tengah situasi demikian, Indonesia sebagai middle power yang independen dan surplus perdagangan selama 69 bulan, memiliki kredibilitas untuk menyuarakan penghentian perang lewat negosiasi dan pemahaman mendalam, alih-alih beretorika dan saling memojokkan.
“Perdamaian tercapai saat setiap pihak memahami kepentingan masing-masing sekaligus menemukan titik temu kemanfaatan bersama. Maka, urgensi saat ini adalah menghentikan seruan peperangan dan memulai meja diskusi,” katanya.
Lebih lanjut, syarat mutlak kedaulatan ekonomi menurut Edhie adalah dengan menjaga kestabilan harga dan memastikan perputaran yang tetap lancar. Ia meyebut, lonjakan transaksi QRIS yang menyentuh 131,47 persen membuktikan kesiapan masyarakat Indonesia dalam sistem digital.
Menurutnya, transformasi ini juga harus merambah ke sektor energi sebagai langkah mitigasi jangka panjang. Dengan demikian, Indonesia bisa tetap resilien di tengah ketidakpastian global.
“Apabila sinergi antara stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang pro-growth ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan selamat dari resesi global, melainkan juga bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang modern, mandiri, dan resilien di tengah tata dunia baru yang terus bersalin rupa,” sebutnya.
Terakhir, Edhie meminta agar kedaulatan Indonesia tetap dijaga. Ia meminta agar seluruh perhitungan geopolitik dan ekonomi dibarengi dengan keyakinan bahwa Indonesia tak boleh ragu dalam menentukan sikapnya di masa sulit seperti sekarang.
Menurutnya, berpendirian teguh jauh lebih terhormat dibanding melihat ketidakadilan. Hal ini sesuai dengan konstitusi negara yang hanya tunduk pada mandat perdamaian dan kemanusiaan.
“Kedaulatan Indonesia adalah prinsip yang telah ratusan tahun dijaga, ditempa oleh penjara penjajah, dibayar dengan penderitaan rakyat, dan disiram dengan darah para syuhada. Maka, berdiri tegak di atas geopolitik perdamaian dan kemanusiaan yang aktif adalah sebuah sumpah yang diucapkan di hadapan bentang sejarah yang lahir dari luka penjajahan wajib menjadi suara bagi mereka yang lukanya belum sembuh,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


