hadapi potensi lonjakan harga akibat perang iran vs as israel smart consumption bisa jadi solusi - News | Good News From Indonesia 2026

Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi

Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi
images info

Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi


Kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil memunculkan kekhawatiran bagi sebagian besar masyarakat global, tak terkecuali Indonesia. Ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang tak kunjung membaik membuat masyarakat cemas karena dampak konflik yang berpotensi menekan ekonomi Indonesia.

Dalam sebuah survei yang dilakukan GoodStats, mayoritas responden mengaku khawatir dengan kemungkinan konflik yang terus berlanjut akan membuat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), terguncangnya ekonomi nasional, sampai naiknya harga kebutuhan pokok. Akibatnya, masyarakat yang khawatir cenderung melakukan panic buying untuk menghindari kelangkaan atau kenaikan harga komoditas.

Smart Consumption Sebagai Solusi Hadapi Potensi Lonjakan Harga

Merespons kekhawatiran tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Didit Welly Udjianto, M.S., menyarankan agar masyarakat menerapkan pola konsumsi bijak alias smart consumption alih-alih melakukan panic buying pada komoditas bahan pokok dan BBM.

Menurutnya, panic buying hanya akan memperparah keadaan karena memicu kelangkaan barang dan lonjakan harga. Dalam keterangannya di situs resmi upnyk.ac.id, ia menawarkan solusi jangka pendek bagi masyarakat, yakni dengan melakukan penghematan konsumsi BBM.

Panic buying justru akan menimbulkan kelangkaan barang-barang dan meningkatkan harga jadi lebih tajam,” kata Didit.

Hal senada disampaikan oleh Dosen Ekonomi Pembangunan UPN “Veteran” Yogyakarta. Dr. Sultan, S.E., M.Si. Dalam penjelasannya, perilaku panic buying justru akan mendorong inflasi psikologis.

baca juga

Panic buying adalah perilaku kelompok dimana konsumen membeli suatu produk dalam jumlah banyak, biasanya untuk mengantisipasi bencana. Hal ini menyebabkan ketersediaan barang menipis dan harga yang meningkat,” papar Sultan.

Kekhawatiran masyarakat ini bukan tanpa sebab. Konflik Iran vs AS-Israel memicu ketidakpastian ekonomi global, salah satunya membuat harga minyak dunia naik. Hal ini terjadi imbas ditutupnya Selat Hormuz yang menjadi jalur transit lebih dari 20 persen minyak dunia.

Lebih lanjut, Sultan menerangkan jika 25 persen impor minyak mentah dan 30 persen LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah. Tak ayal, konflik tersebut langsung mempengaruhi biaya energi Indonesia.

Bijak Konsumsi Jadi Solusi

Melihat kondisi dunia yang tak baik-baik saja, Didit meminta masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan. Konflik ini berisiko mengganggu rantai pasok pangan dan memicu lonjakan harga komoditas.

“Untuk menghadapi situasi ini, masyarakat bisa berhemat, dengan cara mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok dan memangkas pengeluaran non-esensial. Diversifikasi ke aset yang lebih stabil, seperti emas atau obligasi juga menjadi langkah antisipasi yang bijak,” ujarnya.

Di lain sisi, Sultan turut mengajak masyarakat untuk memprioritaskan konsumsi pada kebutuhan pokok. Masyarakat juga dianjurkan untuk mengonsumsi produk lokal demi memperkuat ekonomi domestik di tengan ketidakpastian dunia.

“Hindari konsumsi berlebihan atau pembelian impulsif yaitu perilaku atau tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, dan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang,” papar Sultan.

Smart consumption bukan berarti mengerem konsumsi secara total. Akan tetapi, pola konsumsi lebih diutamakan di skala prioritas.

Masyarakat tidak dianjurkan menahan konsumsi secara ekstem, utamanya di momen Idulfitri 2026. Alih-alih berhemat ekstrem, alangkah baiknya jika melakukan konsumsi rasional dan produktif.

Saat ini, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar lebih dari 50 persen PDB Indonesia. Sekitar 90 persen aktivitas ekonomi Indonesia didukung dari permintaan domestik.

“Artinya, jika masyarakat menahan konsumsi secara drastis saat lebaran, justru dapat memperlambat ekonomi domestik,” pungkas Sultan.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.