Umurnya memang baru 9 tahun tapi Santa Sakramenta sudah punya 11 lagu ciptaan sendiri. Tak hanya itu, ia juga pernah main teater dan sekarang namanya tercetak sebagai penulis tunggal di sampul buku terbitan Dar! Mizan. Judul bukunya Tangisan Pohon Tua.
Buku itu menceritakan tentang kondisi alam yang Santa amati. Tangisan Pohon Tua terbit setelah Santa jalan-jalan ke alam. Betapa sedihnya ketika ia melihat sampah berserakan. Perasaan itu yang akhirnya jadi inspirasi untuk menulis sekaligus membagikan pengalamannya.
"Aku jadi merasa sedih. Sejak saat itu, aku ingin berbuat sesuatu untuk alam karena aku merasa alam baik banget sudah memberikan kesegaran dan kesehatan. Aku merasa alam pasti sedih kalau mereka kotor," katanya.
Peristiwa itu terjadi saat pandemi. Kala itu, keluarga Santa rajin mengajaknya ke luar, terutama alam, misalnya ke sungai, air terjun, hutan, hingga bukit. Mirisnya, bukan hanya pemandangan yang ia lihat, tapi sampah yang berserakan.
"Aku sering diajak ke alam sama ayah-bunda. Aku diajak trekking ke sungai, air terjun, hutan, bukit, dan lainnya. Aku senang banget olahraga sambil main ke alam, tapi di sana aku malah lihat banyak sampah berserakan," cerita Santa, dikutip dari IDN Times, Rabu (20/8/2025).
Melihat Kondisi Sampah di Luar Bisa Mengubah Kebiasaan Santa
Dari sana, kebiasaan Santa pun ikut berubah. Dia mulai giat memilah sampah di rumah sendiri, biar bisa diserahkan ke pengelola sampah dan nggak numpuk di TPA.
"Aku juga lagi belajar mengurangi produksi sampah. Sampahku sudah makin sedikit," katanya.
Dia juga bikin konten edukasi di Instagram, judulnya "Santa Mencari Tahu". Konten-konten itu mayoritas dibuat dari rasa penasarannya.
"Dulu waktu awal-awal jalan-jalan ke alam dan menemukan banyak sampah, aku banyak ngasih pertanyaan ke Ayah dan Bunda. Misalnya, kenapa ada sampah, kenapa orang buang sampah sembarangan," ujarnya.
Senang melihat putrinya rasa penasaran, mereka tidak buru-buru menjawab, malahan mengarahkan Santa buat cari jawaban sendiri, lewat buku, internet, sampai tanya ke orang yang memang ahli di bidangnya. Semua hasil pencarian itu lalu ditulis dan diceritakan ulang lewat video yang diunggah bundanya.
Barang Bekas Naik ke Panggung Teater
Dari kebiasaan pilah sampah di rumah, Santa makin banyak punya ide untuk kelola sampah. Ia bahkan pernah mengusulkan mengolah sampah untuk jadi properti teater. Dia menyebutnya "Art-Cycle".
"Waktu itu komunitas teaterku mau pentas, tapi belum ada propertinya. Aku usul ke sutradara, gimana kalau kita bikin properti dari barang bekas aja seperti art-cycle yang aku bikin di rumah. Sutradaranya setuju!" cerita Santa.
Mereka berhasil membuat tas dari karton telur, tikar dari bungkus camilan yang dilem di atas bubble wrap, ransel dari goodie bag bekas, roti-rotian dari gumpalan koran, kursi dari ember cat, meja dari kardus, sampai latar panggung dari spanduk bekas yang dilukis ulang.
Sebelum jadi "aktivis cilik", Santa memang lebih dulu dikenal di dunia teater dan musik. Dia mulai aktif di teater anak sejak umur 6 tahun, dan di situlah bakat menulis lagunya ketahuan.
Sutradara tempatnya bergabung melihat Santa punya kepekaan soal nada dan lirik, lalu mulai dikasih tantangan bikin lagu buat mendukung cerita pentas.
Sampai sekarang dia sudah punya 11 lagu. Dua di antaranya, "Makan Sehat, Kita Hebat!" dan "Teman Baru", bisa didengar di Spotify, YouTube, sampai iTunes.
Lagu pertama malah menang di Lomba Kreasi Cipta Lagu Anak Nusantara 2024 yang digelar Kemendikdasmen RI, dan sekarang jadi jingle resmi program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
"Teman Baru" sendiri ditulis cuma dalam dua hari. Idenya datang dari kebiasaan Santa yang senang mengajak kenalan orang baru.
"Banyak teman-temanku yang suka takut, malu-malu atau ragu-ragu kalau ketemu teman baru. Lewat lagu ini, aku ingin ngasih tahu teman-teman kalau berkenalan dengan teman baru itu seru dan bikin kita punya banyak cerita baru," ujar Santa, yang saat wawancara masih duduk di kelas 3 SD.
Menariknya, Santa punya selera musik yang variatif bahkan lintas generasi. Bocah itu ngefans sama Queen dan Linkin Park, juga suka jazz dan rock lokal seperti karya Ahmad Dhani dan Maliq & D'Essentials, cerita Santa ke GNFI, Sabtu (14/6/2025).
Kenapa Baru Sekarang Bikin Buku?
Santa telah mengikuti berbagai kegiatan dan mengantongi berbagai penghargaan, mulai dari Pahlawan Hijau Cilik dari Komunitas Bincang Energi (2024), kolaborator aksi lingkungan bareng Satgas Citarum Harum (2026), dan kolaborator antologi "Surat Untuk Bumi" bersama Sociopreneur Id (2026).
Setelah bertahun-tahun nyampein kepeduliannya lewat lagu, video, sama panggung teater, tahun ini Santa coba medium baru, lewat buku cerita.
Tangisan Pohon Tua isinya sepuluh cerita pendek, ngerangkum semua alasan kenapa dia begitu peduli sama alam. Judulnya sendiri kerasa personal, membayangkan sudut pandang pohon yang menangis jadi cara Santa menerjemahkan rasa empatinya ke bahasa yang gampang ditangkap anak seusianya.
Lewat buku ini, Santa berharap pembacanya bisa ikut membayangkan apa yang dirasakan alam dan sampah, biar orang-orang jadi lebih memperlakukan lingkungan dengan penuh empati.
Buku ini sudah bisa dibeli, salah satunya lewat Mizanstore.com, penerbit resminya.
Kalau ditanya soal harapan dari apa yang telah ia lakukan selama ini, jawaban Santa nggak muluk-muluk.
"Aku ingin semua orang yang hidup di bumi ini, peduli pada kesehatan bumi karena bumi tempat kita hidup. Aku ga ingin bumi diprotes karena cuacanya ekstrem, karena banyak bencana alam padahal manusia gak peduli sama kesehatan bumi," katanya ke IDN Times.
Dia juga masih punya mimpi lain. Selain pengin lagunya didengar lebih banyak orang, Santa cerita ke GNFI kalau dia pengin suatu hari jadi aktivis lingkungan bawah laut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


