Selama puluhan tahun, tabung LPG 3 kilogram menjadi simbol dapur sederhana. Api biru dari kompor gas dianggap praktis, murah, dan mudah digunakan oleh jutaan keluarga. Hampir setiap rumah mengenal tabung gas melon sebagai sumber energi utama untuk memasak. Namun, pemerintah mendorong masyarakat perlahan melirik kompor listrik sebagai alternatif baru. Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan ekonomi, energi, dan kebijakan publik.
Pada awal 2026, Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan program peralihan kompor LPG ke kompor listrik. Pemerintah menilai ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor sudah terlalu besar. Setiap tahun negara harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk menutup subsidi gas rumah tangga. Ketika harga energi global naik, tekanan terhadap anggaran negara ikut meningkat. Karena itu, dapur rumah tangga mulai dilihat sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Masalah subsidi LPG memang tidak kecil. Data Kementerian Keuangan menunjukkan subsidi LPG 3 kilogram pada 2021 mencapai Rp67,62 triliun. Angka ini terus naik seiring fluktuasi harga energi dunia. Pada 2022, total subsidi energi bahkan menembus Rp149 triliun. Sebagian besar berasal dari selisih harga LPG bersubsidi dengan harga pasar internasional. Situasi ini menunjukkan bahwa aktivitas memasak di rumah ternyata memiliki dampak langsung terhadap stabilitas fiskal negara. Di balik dapur sederhana, ada beban anggaran negara yang sangat besar.
Efisiensi Energi dan Perhitungan Ekonomi Dapur
Dalam konteks inilah pemerintah mempromosikan kompor listrik, terutama kompor induksi. Sejumlah penelitian menunjukkan alat ini jauh lebih efisien dibanding kompor gas. Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2022) menunjukkan efisiensi kompor gas hanya sekitar 40 persen. Sebaliknya kompor induksi mampu mencapai efisiensi antara 70 hingga 86 persen. Artinya sebagian besar energi listrik benar-benar berubah menjadi panas untuk memasak.
Efisiensi energi tidak berhenti pada angka teknis di laboratorium. Dampaknya langsung terasa pada biaya dapur rumah tangga. Studi Balitbang ESDM memperkirakan penggunaan kompor induksi dapat menghemat sekitar Rp45.756 per bulan bagi rumah tangga berdaya listrik 450 VA. Perhitungan ini didasarkan pada konsumsi energi rata-rata rumah tangga pengguna LPG 3 kilogram. Jika jutaan keluarga beralih menggunakan kompor listrik, potensi penghematan secara nasional menjadi sangat besar. Negara dapat mengurangi subsidi LPG sekaligus menekan impor energi.
Andriani dan kolega dalam penelitian Studi Perbandingan Efisiensi Energi dan Biaya Operasional Kompor Induksi dan LPG Berbasis IoT tahun 2025 menunjukkan kompor induksi bekerja lebih cepat dan lebih hemat energi. Dalam eksperimen pemanasan minyak goreng, kompor induksi membutuhkan waktu sekitar 193 detik. Konsumsi energinya hanya sekitar 0,06 kWh. Sebaliknya kompor LPG memerlukan waktu 281 detik dengan konsumsi gas lebih besar. Dari sisi operasional, kompor induksi terbukti lebih ekonomis.
Namun efisiensi energi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan masyarakat. Banyak keluarga melihat persoalan dapur dari sudut yang lebih praktis. Kompor gas sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Cara penggunaannya sederhana dan tidak membutuhkan peralatan khusus. Selain itu, harga kompor gas juga sangat terjangkau. Banyak kompor gas dijual dengan harga puluhan ribu rupiah di pasar.
Sebaliknya kompor induksi membutuhkan investasi awal yang lebih besar. Harga perangkatnya berkisar ratusan ribu hingga lebih dari satu juta rupiah. Selain itu, pengguna harus membeli peralatan masak khusus yang berbahan feromagnetik. Panci atau wajan aluminium biasa tidak dapat digunakan pada kompor induksi. Hal ini sering menjadi penghalang bagi keluarga yang ingin mencoba teknologi baru. Perubahan kecil di dapur bisa menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Tantangan Sosial dan Strategi Ketahanan Energi
Balitbang ESDM memperkirakan biaya awal konversi kompor induksi dapat mencapai Rp2,4 juta hingga Rp5,5 juta per rumah tangga. Biaya ini mencakup kompor, peralatan masak, instalasi kabel, dan sertifikasi instalasi listrik. Meski sebagian dapat disubsidi pemerintah, angka tersebut tetap terasa berat bagi banyak keluarga. Karena itu, kebijakan konversi energi tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan teknis. Pemerintah juga harus mempertimbangkan faktor sosial dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah melihat konversi kompor sebagai strategi jangka panjang. Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu (2022) menyatakan program kompor induksi bertujuan mengurangi impor LPG dan meningkatkan kemandirian energi nasional. Indonesia memiliki kapasitas pembangkit listrik yang cukup besar. Pemanfaatan listrik untuk memasak dianggap lebih rasional dibanding terus mengimpor gas. Kebijakan ini juga sejalan dengan agenda transisi energi yang lebih bersih.
Pandangan serupa disampaikan Zainal Arifin dalam Kompas.id (20/11/2024) bahwa harga listrik relatif lebih stabil karena berada dalam kendali pemerintah. Sebaliknya harga LPG sangat dipengaruhi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Ketika harga energi global melonjak, subsidi LPG otomatis ikut membengkak. Karena itu, penggunaan kompor listrik dapat membantu menekan volatilitas biaya energi rumah tangga.
Namun perubahan teknologi dapur tidak bisa dipaksakan secara instan. Pengalaman program konversi minyak tanah ke LPG pada 2007 menunjukkan transformasi energi memerlukan proses panjang. Masyarakat harus memahami manfaatnya dan merasa aman menggunakan teknologi baru. Tanpa penerimaan sosial yang kuat, kebijakan energi mudah menimbulkan resistensi publik. Program konversi hanya akan berhasil jika masyarakat melihat manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, ada faktor budaya memasak yang sering luput dari diskusi kebijakan energi. Banyak masakan Indonesia membutuhkan api langsung dan wajan cekung. Teknik menumis cepat dalam masakan Asia sering lebih nyaman menggunakan kompor gas. Kompor induksi memang efisien, tetapi memerlukan peralatan dengan dasar datar. Perubahan teknologi memasak akhirnya menyentuh kebiasaan kuliner yang sudah terbentuk selama puluhan tahun.
Permasalahan kompor gas dan kompor listrik tidak sekadar soal alat masak. Persoalan ini mencerminkan pertemuan antara ekonomi rumah tangga, kebijakan energi, dan budaya sehari-hari. Kompor induksi menawarkan efisiensi energi dan potensi penghematan subsidi. Namun kompor gas masih unggul dalam harga awal dan fleksibilitas penggunaan. Karena itu, solusi terbaik mungkin bukan mengganti semuanya secara tiba-tiba.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


