Banyak negara yang sangat bergantung pada minyak dan gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Minyak dan gas itu biasanya didistribusikan dengan menggunakan kapal muat yang sangat besar melewati berbagai negara di dunia.
Untuk mendukung distribusi energi global, keberadaan jalur pelayaran yang efisien tentu sangat diperlukan. Terdapat sejumlah choke points atau titik sempit (bisa juga disebut selat) di sepanjang rute laut dunia yang berfungsi sebagai jalur layar untuk mendukung ketahanan energi global.
Choke point ini menghubungkan rute dagang utama di seluruh dunia. Sederhananya, titik-titik tersebut menghubungkan wilayah perairan yang lebih luas dan menjadi rute tercepat untuk pengiriman minyak dan gas, sehingga jauh lebih efektif dan efisien, utamanya dari segi waktu dan biaya.
Ada beberapa choke point di perairan internasional. Selain digunakan sebagai jalur pelayaran dan distribusi barang yang penting, choke point juga menjadi “sumber” ekonomi sekaligus menguatkan posisi geopolitik strategis bagi negara yang “menguasai” kawasan tersebut.
Kira-kira, ada di mana saja choke point penting di dunia yang berperan penting dalam lalu lintas pelayaran dan distribusi minyak dan gas dunia?
8 Jalur Choke Point Vital di Dunia
Data IEA 2023 yang dirangkum oleh Statista, di bawah ini adalah lima major maritime choke points atau jalur laut penting untuk distribusi minyak dan gas dunia berdasarkan jumlah volume minyak dan gas:
1. Selat Malaka (23,7 juta barel/hari)
Selat Malaka sudah terkenal sebagai salah satu titik paling vital sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Selat yang dikelola bersama oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura ini menjadi jalur tersibuk dengan volume mencapai 23,7 juta barel per hari. Selat Malaka menjadi urat nadi utama penyaluran energi menuju pasar Asia Timur.
2. Selat Hormuz (20,9 juta barel/hari)
Selat Hormuz menjadi titik penting di Timur Tengah. Selat yang dikelola bersama oleh Iran dan Oman ini menjadi titik paling sensitif dan sering menegang secara geopolitik karena menjadi satu-satunya akses keluar minyak dari Teluk Persia. Selat ini menyalurkan 20,9 juta barel minyak dan gas per harinya.
3. Terusan Suez (8,8 juta barel/hari)
Terusan Suez tercatat dilewati kapal dengan total 8,8 juta barel per hari. Jalur ini berada di bawah kendali Mesir. Lebih dari itu, Terusan Suez bisa memangkas waktu tempuh antara Eropa dan Asia dengan signifikan.
4. Bab el-Mandeb (8,6 juta barel/hari)
Titik cekik yang terletak di pintu selatan Laut Merah ini memiliki volume total sekitar 8,6 juta barel minyak per hari. Bab el-Mandeb berada di jalur yang dikuasai oleh Jibuti, Yaman, dan Eritrea.
5. Tanjung Harapan (6,0 juta barel/hari)
Tanjung Harapan merupakan choke point yang berada di ujung selatan Afrika Selatan. Jalur ini melayani hingga 6,0 juta barel minyak per hari. Tanjung Harapan menjadi pilihan utama kapal-kapal besar saat Terusan Suez mengalami hambatan atau untuk kapal tanker yang ukurannya terlalu besar.
6. Selat Denmark (4,9 juta barel/hari)
Selat Denmark menghubungkan Laut Baltik ke pasar dunia dengan volume sekitar 4,9 juta barel per hari. Meskipun bernama Selat Denmark atau Denmark Straits, negara pengelolanya meliputi Denmark, Swedia, dan Jerman.
7. Selat Turki (3,4 juta barel/hari)
Jalur strategis yang dikelola Turki ini menghubungkan Laut Hitam ke Mediterania. Volume total yang melewati titik ini adalah 3,4 juta barel per hari.
8. Terusan Panama (2,1 juta barel minyak/hari)
Panama Canal yang sangat terkenal karena bisa memangkas waktu tempuh kapal dengan memotong jalur strategis yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Terusan Panama bisa menghemat jarak pelayaran hingga 13.000 km (8.000 mil laut). Titik ini memfasilitasi transitnya 2,1 juta barel minyak per hari.
Selat Malaka: Primadona Jalur Pelayaran Dunia
Selat Malaka dikenal sebagai jalur energi paling sibuk di dunia. Jalur ini bertugas untuk mempersingkat waktu tempuh minyak dan gas dari Timur Tengah menuju pasar raksasa di Asia Timur, yakni Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Dengan panjang 600 mil, Selat Malaka menjadi titik rawan strategis paling penting di dunia bersama dengan Selat Hormuz. Diperkirakan ada sekitar 94.000 kapal yang melewati selat ini tiap tahunnya. Kapal-kapal itu membawa 30 persen barang yang diperdagangkan global.
Namun, meskipun menjadi kawasan penting, Selat Malaka menghadapi tantangan serius, yakni pencurian dan pembajakan. Koridor utama perdagangan satu ini memiliki banyak ancaman pembajakan, utamanya di sekitar Singapura, sehingga rutin dilakukan patroli untuk menjaga keamanannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


