berangkat dari phk dan duka anselmus wau sukses bangun mamoka group di jogja jual keripik singkong dan ayam geprek - News | Good News From Indonesia 2026

Berangkat dari PHK dan Duka, Anselmus Wau Sukses Bangun MAMOKA Group di Jogja: Jual Keripik Singkong dan Ayam Geprek

Berangkat dari PHK dan Duka, Anselmus Wau Sukses Bangun MAMOKA Group di Jogja: Jual Keripik Singkong dan Ayam Geprek
images info

Berangkat dari PHK dan Duka, Anselmus Wau Sukses Bangun MAMOKA Group di Jogja: Jual Keripik Singkong dan Ayam Geprek


“Pandemi Covid-19 awal 2020 menjadi titik balik perjalanan hidup saya,” kata Anselmus Wau saat mengenang fase paling berat dalam hidupnya.

Alumni Departemen Pembangunan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (Universitas Gadjah Mada) ini kehilangan pekerjaan akibat gelombang PHK. Di waktu yang hampir bersamaan, ibunya meninggal dunia. Dalam satu momen, ia kehilangan dua hal sekaligus penghasilan dan ibunda tersayang.

“Saya mengalami PHK akibat pengurangan karyawan, dan di waktu hampir bersamaan ibu meninggal dunia. Kondisi ini memaksa saya mengambil alih peran sebagai penopang ekonomi keluarga,” ujarnya.

Tidak banyak waktu untuk berlarut sebab ia harus membiayai adik-adiknya. Pesangon yang diterima tidak cukup untuk bertahan lama. Di titik itu, ia harus putar otak agar uang yang masih ia pegang tidak mandeg apalagi habis digunakan.

baca juga

Memulai Tanpa Modal, Hanya Keberanian

Alih-alih menunggu peluang, Anselmus memilih menciptakan jalan sendiri. Ia mulai usahanya dengan coba-coba memasak.

Saat itu, produk pertama yang ia pilih adalah keripik singkong. Setelah riset pasar, ia memutuskan untuk menawarkan kepirik singkong dengan rasa gurih dan pedas agar punya pembeda.

Menariknya, usaha ini benar-benar dimulai tanpa modal usaha. Pesangon yang ia miliki tidak digunakan untuk produksi.

“Pesangon yang saya terima tidak cukup untuk kebutuhan jangka panjang,” katanya. Karena itu, uang tersebut dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan bisnis.

Produksi dilakukan bertahap. Penjualan awal hanya berkisar 500–1.000 pcs per bulan. Itu pun melalui sistem konsinyasi, yaitu menitipkan produk ke orang lain untuk dijual, lalu hasilnya dibagi setelah laku.

Menariknya lagi, pasar awalnya bukan Yogyakarta, tempat ia tinggal. Produk justru beredar lewat jaringan teman di Jabodetabek.

baca juga

Gagal di Satu Produk, Coba ke yang Lain

Seiring waktu, Anselmus mulai berpikir lebih jauh. Ia sadar tren rasa pedas-manis yang ia tawarkan tanpa pengembangan bisa membuat pasar jenuh. Dari situ, ia mencoba inovasi baru walaupun bukan dari olahan singkong. Ia mencoba sambal kemasan.

Namun hasilnya tidak sesuai harapan.

“Produk ini belum mendapat respons pasar yang optimal, terlebih saat itu masih di masa social distancing,” ungkapnya.

Social distancing—atau pembatasan sosial—membuat pola belanja berubah. Konsumen mulai beralih ke platform daring. Ini menjadi tantangan sekaligus sinyal bahwa strategi harus diubah.

Di titik ini, Anselmus melakukan pivot bisnis, istilah dalam dunia usaha yang berarti mengubah arah strategi agar lebih relevan dengan pasar.

Ia tetap mempertahankan ciri khas rasa pedas dan gurih, tapi bentuk produknya diubah. Lahirlah Ayam Geprek MAMOKA.

baca juga

Meledak di Platform Digital

Keputusan itu terbukti tepat.

Dengan memanfaatkan platform seperti GoFood, permintaan Ayam Geprek MAMOKA meningkat drastis. Dalam sehari, penjualan bisa mencapai sekitar 100 porsi.

“Bahkan rata-rata terjadi lima pesanan dalam satu menit, terutama saat Harbolnas,” ujarnya.

Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) memang menjadi momen lonjakan transaksi digital di Indonesia. Di situ, produk MAMOKA ikut terdorong.

Dari situ, bisnis mulai berkembang. Ia kemudianmengurus berbagai legalitas, mulai dari HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) hingga sertifikasi halal. Ini penting agar usaha memiliki perlindungan hukum dan kepercayaan konsumen.

Setelatnya, ekspansi dilakukan. Selain GoFood, ia masuk ke GrabFood dan ShopeeFood. Variasi produk pun bertambah, mulai dari rice box hingga snack box untuk kebutuhan acara.

baca juga

Kembali ke Produk Lama, Tapi dengan Wajah Baru

Setelah kuat di makanan siap saji, Anselmus tidak melupakan produk awalnya. Sambal MAMOKA dihidupkan kembali.

Bedanya, kini diposisikan sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan cita rasa pedas gurih yang berbeda dari produk umum.

Produk ini mulai masuk ke toko oleh-oleh seperti Hamzah Batik, Raminten, dan Jogja Mart. Bahkan, beberapa kementerian sempat berkunjung ke MAMOKA Group.

Tidak berhenti di situ, ia juga menghadirkan kuliner khas Sumatera Utara seperti mie gomak, miso, hingga bandrek. Bahan bakunya pun dijaga autentik, menggunakan rempah seperti andaliman dan jinten.

Hasilnya tidak main-main. Saat dipasarkan di Pasar Kangen, penjualan bisa mencapai 3.000 pcs.

Ya, Anselmus lahir di Nias, Sumatera Utara. Oleh karenanya, ia punya bekal untuk mengenalkan masakan Sumatera Utara di Jogja. Ditambah, ia memang suka memasak sehingga dua kombinasi ini berhasil mendobrak pasar.

Hari ini, MAMOKA Group tumbuh menjadi UMKM yang aktif memanfaatkan marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, serta promosi melalui Instagram dan WhatsApp Business.

Ayam Geprek MAMOKA bahkan disebut sebagai salah satu yang terenak di sekitar UGM.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.