Banyak makanan tradisional khas dari berbagai daerah di Indonesia yang disajikan saat momen Lebaran Idulfitri. Salah satu makanan tradisional khas, khususnya yang berasal dari daerah Sulawesi Tenggara yang banyak dijumpai pada saat momen penting ini adalah lapa-lapa.
Sekilas lapa-lapa terlihat seperti lontong yang dibungkus dengan menggunakan daun. Meskipun demikian, makanan tradisional yang satu ini memiliki rasa yang berbeda dengan lontong.
Selain di Sulawesi Tenggara, lapa-lapa juga umum dijumpai di beberapa daerah lain yang ada di Pulau Sulawesi. Selain itu, makanan tradisional ini juga dikenal dengan beberapa nama berbeda, walau secara bentuk dan rasa tidak jauh berbeda dengan lapa-lapa.
Bagaimana ulasan lebih lanjut terkait makanan tradisional khas Sulawesi Tenggara tersebut? Simak pembahasannya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Lapa-Lapa, Makanan Tradisional Khas Sulawesi Tenggara
Lapa-lapa menjadi salah satu makanan tradisional khas yang patut Kawan cicipi saat berkunjung ke daerah Sulawesi Tenggara. Makanan ini lebih khusus lagi berasal dari masyarakat etnis Muna yang mendiami wilayah tersebut.
Nama makanan tradisional ini sendiri berasal dari bahasa Wolio, yakni "Lapa." Dalam bahasa Wolio, kata "Lapa" memiliki arti berlipat-lipat.
Definisi ini merujuk pada cara membuat lapa-lapa yang ketika dibungkus dengan berlipat-lipat. Hal inilah yang mendasari asal usul penamaan kuliner tradisional tersebut.
Secara umum, lapa-lapa merupakan makanan yang terbuat dari bahan utama beras ketan. Selain itu, ada juga beberapa bahan lain yang digunakan dalam proses pembuatan lapa-lapa, seperti santan dan bumbu halus lainnya.
Nantinya beras ketan yang sudah masak akan dibungkus dengan menggunakan daun kelapa. Setelah itu, bungkusan ini akan direbus hingga matang sebelum disajikan dan disantap bersama.
Meskipun terbuat dari bahan sederhana, pembuatan lapa-lapa sebenarnya tidaklah mudah. Proses memasak lapa-lapa yang lama, bisa memakan waktu lebih kurang 4 jam, menjadi salah satu tantangan yang mesti dihadapi ketika membuat makanan tradisional tersebut.
Dihidangkan saat Lebaran Idulfitri dan Momen Penting Lainnya
Lapa-lapa menjadi salah satu makanan yang dihidangkan saat ada momen penting di tengah masyarakat. Umumnya, lapa-lapa menjadi salah satu hidangan wajib yang disajikan saat momen Lebaran Idulfitri.
Selain itu, lapa-lapa juga sering disajikan saat ada acara atau upacara adat di tengah masyarakat. Dikutip dari laman Sultra Jadesta, lapa-lapa biasa disajikan dalam upacara Haroa. Dalam upacara adat ini, lapa-lapa biasanya menjadi hidangan wajib yang disajikan bersama kue cucur.
Seiring berjalannya waktu, keberadaan lapa-lapa tidak hanya terpusat di daerah Sulawesi Tenggara saja. Makanan tradisional yang dikenal dengan beberapa nama, seperti leppe-leppe, lappak-lappak, dan lempe ini juga bisa dijumpai di beberapa daerah lain yang ada di Pulau Sulawesi.
Cara menikmati lapa-lapa juga berbeda-beda tergantung daerahnya. Umumnya lapa-lapa akan disantap bersama ikan asin dan sambal.
Namun ada juga daerah lain yang menyantap lapa-lapa dengan makanan lainnya.
Memiliki Nilai dan Makna Filosofi yang Mendalam
Di balik bahan dan bentuk yang sederhana, lapa-lapa ternyata memiliki nilai serta makna filosofis yang mendalam. Dikutip dari laman Wonderful Indonesia, lapa-lapa kerap kali dilambangkan sebagai simbol kebersamaan pada saat ada acara dan perayaan di tengah masyarakat.
Selain itu, lapa-lapa juga dianggap sebagai makanan yang bisa memberikan berkah umur panjang bagi setiap orang yang menyantapnya. Hal ini merujuk pada bentuk lapa-lapa yang mirip seperti huruf alif dalam bahasa Arab.
Huruf alif di dalam Al-Qur'an diketahui tidak pernah mati. Simbol inilah yang dianggap sebagai pembawa berkah ketika seseorang menyantap makanan tradisional dari Sulawesi Tenggara tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


