Di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste, air pernah menjadi persoalan besar. Musim kemarau panjang membuat lahan kering dan pertanian sulit berkembang.
Namun, keadaan itu perlahan berubah sejak hadirnya Bendungan Rotiklot. Sebuah infrastruktur air yang kini menjadi harapan baru bagi masyarakat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Diresmikan pada 20 Mei 2019 oleh Presiden Joko Widodo, bendungan ini bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Ia hadir sebagai jawaban atas tantangan alam di wilayah semi-kering NTT sekaligus menjadi penggerak ekonomi di kawasan perbatasan.
Infrastruktur Air di Wilayah yang Rentan Kekeringan
Bendungan Rotiklot terletak di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, sekitar belasan kilometer dari pusat Kota Atambua. Lokasinya yang berada tidak jauh dari garis perbatasan menjadikan bendungan ini memiliki arti strategis, baik secara sosial maupun ekonomi.
Pembangunan dimulai pada akhir 2015 dan selesai pada 2018. Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor nasional dengan pendanaan dari APBN yang mencapai hampir Rp500 miliar.
Secara teknis, bendungan ini tergolong bendungan tipe urugan dengan tinggi sekitar 42,5 meter dan panjang puncak lebih dari 400 meter.
Kapasitas tampungnya mencapai sekitar 3,3 juta meter kubik air, dengan luas genangan hampir 30 hektare. Air yang tertampung berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Mota Rotiklot yang selama ini menjadi sumber air penting bagi wilayah sekitar.
Proses pembangunannya tidak selalu berjalan mulus. Kondisi geografis yang berbukit, lereng curam, serta iklim kering menjadi tantangan tersendiri selama konstruksi berlangsung.
Namun, semua tantangan itu terbayar ketika bendungan akhirnya dapat beroperasi dan mulai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Mengubah Lahan Kering Menjadi Produktif
Salah satu tujuan utama pembangunan Bendungan Rotiklot adalah mendukung sektor pertanian. Di wilayah Belu, banyak lahan sebelumnya hanya mengandalkan hujan sebagai sumber air. Ketika musim kemarau tiba, petani sering kali harus menunda tanam atau bahkan gagal panen.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Air dari Bendungan Rotiklot mampu mengairi sekitar 139 hektare sawah serta ratusan hektare lahan palawija. Jagung, padi, dan berbagai tanaman pangan lainnya dapat tumbuh lebih stabil karena ketersediaan air yang lebih terjamin.
Dampaknya terasa cukup signifikan. Produktivitas pertanian di beberapa wilayah sekitar meningkat, dan petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim hujan. Bagi daerah yang selama ini dikenal kering, perubahan ini tentu menjadi kabar baik.
Selain untuk irigasi, bendungan ini juga menyediakan air baku sekitar 40 liter per detik bagi masyarakat Kabupaten Belu. Air tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga hingga aktivitas ekonomi di kawasan sekitar, termasuk wilayah Pelabuhan Atapupu.
Manfaat lainnya adalah pengendalian banjir. Pada musim hujan, bendungan berfungsi menampung debit air yang besar sehingga aliran ke hilir dapat dikendalikan. Hal ini membantu mengurangi risiko banjir yang sebelumnya kerap merusak permukiman dan lahan pertanian.
Potensi Energi dan Wisata Perbatasan
Tidak berhenti pada fungsi irigasi dan pengendalian banjir, Bendungan Rotiklot juga menyimpan potensi lain. Salah satunya adalah peluang pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas sekitar 0,15 MW.
Walaupun kapasitasnya tidak besar, energi ini tetap memiliki nilai strategis bagi daerah yang membutuhkan tambahan sumber listrik. Terlebih lagi, pemanfaatan energi terbarukan seperti ini sejalan dengan upaya pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, kawasan bendungan juga mulai dilirik sebagai destinasi wisata lokal. Pemandangan perbukitan yang mengelilingi waduk serta panorama air yang luas menciptakan lanskap yang menarik untuk dikunjungi. Banyak warga setempat maupun pengunjung dari luar daerah datang sekadar menikmati suasana atau berfoto dengan latar bendungan.
Jika dikelola dengan baik, potensi wisata ini dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, mulai dari usaha kuliner hingga layanan wisata kecil-kecilan.
Bagi masyarakat Belu, Bendungan Rotiklot lebih dari sekadar bangunan beton raksasa. Ia adalah simbol perubahan. Dari wilayah yang identik dengan kekeringan menjadi kawasan yang mulai memiliki ketahanan air yang lebih baik.
Bendungan Rotiklot diharapkan terus menjadi sumber kehidupan bagi pertanian, penyedia air bagi masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi lokal. Di tengah lanskap kering Nusa Tenggara Timur, bendungan ini berdiri sebagai bukti bahwa pengelolaan air yang tepat dapat membuka jalan menuju kemakmuran.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


