Indramayu dikenal sebagai salah satu penghasil utama padi di Jawa Barat. Sebagai lumbung padi andalan, terdapat infrastruktur pendukung yang menopang produktivitas pertanian di kawasan ini. Adalah Bendungan Cipancuh, bendungan berusia lebih dari seabad yang bantu mengairi sistem irigasi di Indramayu.
Dibangun pada 1927 oleh pemerintah Hindia Belanda, Bendungan Cipancuh bertujuan untuk mengatur aliran air sungai dan mengelola sumber daya air. Bendungan ini juga menyimpan peran vital untuk menyediakan serta mengatur distribusi air irigasi, sehingga membantu meningkatkan hasil panen.
Salah Satu Bendungan Tertua di Jawa Barat
Bendungan ini juga menjadi salah satu bendungan tertua di Jawa Barat. Meskipun sudah berusia sangat tua, bendungan ini masih beroperasi dengan baik. Pasca-kemerdekaan, tepatnya pada 1972, pemerintah Indonesia pernah melakukan rekonstruksi tanggul.
Seiring berjalannya waktu dan usia bendungan yang semakin tua, bendungan mengalami beberapa permasalahan cukup serius, seperti pendangkalan akibat sedimentasi dan kerusakan pada konstruksi bendungan. Bahkan, terdapat beberapa titik yang menunjukkan adanya rembesan air.
Oleh karena itu, rehabilitasi kembali dilakukan oleh pemerintah pada pertengahan 2025 silam untuk memastikan bedungan ini tetap andal dan laik serta aman digunakan. Proses perawatan bendungan juga rutin dilakukan, salah satunya lewat monitoring kondisi dan keamanan bendungan secara berkala.
Bendungan Cipancuh nyaris menjadi bagian tak terpisahkan bagi petani-petani di Indramayu untuk menjaga ketersediaan air untuk area persawahan. Oleh masyarakat setempat, bendungan ini lumrah disebut sebagai Waduk Cipancuh.
Dukung Swasembada Pangan
Berlokasi di Desa Situraja, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Bendungan Cipancuh menempati lahan seluas 700 hektare. Melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, bendungan satu ini bisa mengairi lahan pertanian seluas 4.780 hektare.
Bahkan, jumlah itu bertambah menjadi 6.134 hektare dengan dibangunnya pengambilan di Nambo, Kiara Kurung, dan Laijem. Melansir dari Perum Jasa Tirta II, volume tampungan Bendungan Cipancuh mencapai 8,6 juta m3. Sementara itu, luas genangan airnya adalah 416 hektare.
Lebih lanjut, saat musim hujan, air akan ditampung di bendungan. Nantinya, air-air itu akan dialirkan ke irigasi-irigasi di sekitarnya. Bendungan ini juga membantu menstabilkan suplai air ke sawah-sawah saat musim kemarau.
Air yang ditampung dari Bendungan Cipancuh bisa menjangkau sistem irigasi hingga empat kecamatan di Indramayu, yakni Kecamatan Haurgeulis, Gantar, Kroya, dan Anjatan. Kecamatan Hargeulis menjadi daerah dengan layanan irigasi dari bendungan ini dengan total lebih dari 4 ribu hektare.
Hasilnya, produktivitas padi cenderung lebih stabil. Bendungan Cipancuh menjadi salah satu infrastruktur penting untuk mendukung Asrta Cita, khususnya dalam upaya mewujudkan swasembada pangan.
Air yang ditampung Bendungan Cipancuh ikut “berjasa” dalam menopang ketahanan pangan nasional berkat sawah yang terus produktif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


