Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia pada 2026 akan datang lebih awal. Data BMKG, 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, yakni di pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, dan sebagian kecil Kalimantan-Sulawesi.
Sementara itu, sekitar 26,3 persen wilayah akan menyusul pada bulan Mei 2026 dan 23,3 persen lainnya di bulan Juni 2026. Lebih lanjut, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indoensia diperkirakan tiba pada Agustus 2026.
Melalui rilis resminya, BMKG memproyeksikan jika sifat musim kemarau 2026 secara umum akan lebih kering dibanding biasanya. Dengan kondisi tersebut, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari biasanya.
Kemarau panjang nan kering yang akan dihadapi Indonesia ini tentu akan mempengaruhi sektor pertanian yang sangat bergantung pada sumber daya air, baik dari air hujan maupun irigasi. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P, M.Agr., Ph.D., mengatakan pentingnya adaptasi bagi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian.
“Kemarau yang panjang menyebabkan gagal tanam dan gagal panen, yang ujung-ujungnya tentunya akan menurunkan produksi pertanian,” katanya dilansir dari ugm.ac.id.
Petani Diminta untuk Beradaptasi
Dalam penjelasannya, Bayu menilai pentingnya adaptasi bagi pelaku di sektor pertanian, salah satunya adalah dengan adanya komunikasi yang lebih intensif antara petani dan penyuluh. Hal ini menjadi salah satu kunci dalam adaptasi dan mitigasi.
Menurutnya, terkadang petani cenderung kurang mendapatkan informasi kondisi cuaca yang tidak menentu. Oleh karena itu, pendampingan yang intensif dari penyuluh diharapkan bisa memitigasi ancaman dampak gagal tanam dan panen.
“Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi kemarau yang panjang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bayu mengatakan pentingnya segala bentuk informasi terkini dari BMKG, seperti peringatan dini terkait kondisi ekstrem di musim kemarau atau hujan yang panjang bisa tersampaikan ke masyarakat hingga ke level paling bawah setingkat desa.
“Supaya informasi cuaca yang diberikan lebih akurat dan presisi sampai level bawah,” imbuhnya.
Selain mendapatkan informasi tentang cuaca yang akurat, Bayu mengatakan jika penyuluh turut bisa memberikan masukan terkait komoditas atau tanaman apa yang cocok ditanam saat kondisi kemarau panjang.
Di sisi lain, perguruan tinggi di Indonesia dan lembaga-lembaga penelitian disebut Bayu bisa andil lebih banyak dalam menciptakan berbagai inovasi melalui hilirisasi varietas-varietas yang tahan terhadap kekeringan dan tidak membutuhkan air yang banyak, tetapi tetap dapat mennghasilkan produktivitas panen yang tinggi.
Kerja Sama Lintas Sektor
Hal senada juga disampaikan oleh BMKG. Menyambut musim kemarau 2026, kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat diminta untuk membuat langkah antisipasi. Petani misalnya. BMKG menyebut jika petani harus segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, dan memiliki siklus panen yang lebih singkat.
Tak berhenti di situ, perlu ada penguatan sumber daya air melalui revitalisasi waduk serta perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi.
Pemerintah daerah pun diimbau untuk menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


