Ada yang pernah mendengar soal Pulau Kapotar? Pulau yang terletak di selatan Teluk Cendrawasih, Kampung Mambor, Distrik Moora, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, ini adalah sebuah pulau kosong tanpa penghuni.
Meskipun tidak dihuni, pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata andalan para pelancong yang ingin menjelajahi Nabire. Pulau ini cantik. Pasirnya putih dan banyak pohon kelapa tumbuh di sekitarnya, sama seperti saat Kawan GNFI membayangkan pulau khas tropis yang ada di film-film.
Namun, di balik keindahannya, Pulau Kapotar ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang. Pulau ini menjadi saksi bisu perjalanan manusia Austronesia di pesisir Papua yang diperkirakan terjadi sejak 2.700 tahun lalu.
Pulau Kapotar dan Jejak Manusia Austronesia
Sebuah riset yang dilakukan oleh Tim Pusat Riset dan Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, nenek moyang bangsa Indonesia sebagian besar berasal dari rumpun Austronesia yang secara bertahap bermigrasi dari wilayah Asia ke kepulauan Nusantara.
Austronesia ini menyebar sangat luas. Mereka meninggalkan jejak budaya di berbagai pesisir di Indonesia, termasuk Papua. Pengaruh mereka tersebar di wilayah pesisir Papua, mulai dari pantai utara, pantai barat, sebagian pantai selatan, sampai pulau-pulau kecil di sekitarnya.
BRIN menyebut, Pulau Kapotar menjadi jalur migrasi strategis Austronesia di masa lampau. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di jalur migrasi dan perdagangan.
Salah satu lokasi ditemukannya bukti autentik tentang keberadaan Austronesia di Pulau Kapotar adalah Situs Arkeologi Momorikotey. Temuan di situs ini meliputi area puncak bukit, lereng, dan kaki bukit.
Dari hasil ekskavasi, ditemukan fakta menarik jika sudah ada aktivitas budaya di pulau itu sejak 2.720 tahun silam. Peninggalan arkeologi yang ditemukan berupa fragmen gerabah, manik-manik, kapak batu, kapak kerang, obsidian, tulang manusia, hingga sampah kerang.
Di sebelah utara Situs Momorikotey, ada Situs Ceruk Swama yang juga memiliki berbagai peninggalan arkeologis. Hasil ekskavasi pada situs yang berada di bongkah batu karang di sebelah utara Situs Momorikotey ini menunjukkan adanya aktivitas budaya sejak 2.100 tahun lalu.
Peninggalan yang bisa dijumpai adalah fragmen gerabah hias dan polos, alat batu, tulang dan gigi binatang, cangkang kerang, gigi manusia, sampai arang sisa pembakaran.
Peninggalan Bersejarah di Pulau Kapotar

Jejak arkeologis di Pulau Kapotar | BRIN
Kawan GNFI, jejak arkeologi yang ditemukan di Pulau Kapotar menjadi bukti bahwa pola permukiman penutur Austronesia dekat dengan pantai, fleksibel, dan adaptif dengan lingkungan sekitar. Lebih lanjut, temuan di dua situs arkeologi tadi juga menunjukkan aktivitas domestik, mulai dari memasak, mengumpulkan makanan, membuat peralatan, perikanan, dan berburu.
Tak ketinggalan, BRIN mengungkap temuan gerabah hias dan manik-manik yang menjadi bukti jika penutur Austronesia memiliki budaya material yang khas serta kemampuan mengekspresikan seni dari perhiasan dan dekorasi.
Temuan batu obsidian dan keramik menandai jalur perdagangan kuno di Papua. Menariknya, keramik masih menjadi benda prestisius dan alat pembayaran masyarakat tradisional Papua sampai sekarang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


