Mandati merupakan salah satu daerah yang bisa Kawan temui di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tahukah Kawan, terdapat sebuah cerita rakyat yang menceritakan tentang legenda asal usul Mandati tersebut.
Menurut kisahnya, Pulau Wangi-Wangi dulunya tidak ada seperti saat sekarang. Bahkan pulau ini disebutkan berasal dari sebuah batu karang yang dijumpai oleh seorang pelaut.
Seiring berjalannya waktu, Pulau Wangi-Wangi mulai didatangi oleh banyak orang. Dari momen inilah akhirnya terbentuk sebuah perkampungan yang didiami oleh masyarakat yang ada di sana.
Lantas bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul Mandati yang ada di Pulau Wangi-Wangi tersebut? Simak cerita lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Legenda Asal Usul Mandati di Pulau Wangi-Wangi, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara
Disitat dari buku Cerita Rakyat Wakatobi (Bahasa Wakatobi dan Bahasa Indonesia), alkisah pada zaman dahulu terdapat seorang pelaut yang berasal dari Kepulauan Kei yang ada di Maluku. Suatu waktu, pelaut ini melakukan perjalanannya di laut.
Setelah berlayar cukup lama, sampailah dia di sebuah batu karang yang ada di tengah lautan. Konon batu karang ini menjadi cikal bakal dari Pulau Wangi-Wangi.
Pelaut ini sangat yakin jika batu karang tersebut akan berubah menjadi sebuah pulau. Dirinya kemudian memutuskan untuk menyandarkan perahunya di batu karang itu.
Sang pelaut ini kemudian pulang ke tempat asalnya dengan membawa keyakinan tersebut. Di penghujung ajalnya, dia meninggalkan sebuah pesan pada istrinya.
Pelaut tersebut berkata jika dia meninggal, sang istri mesti mengantarkan putrinya, Wasurubaende ke sebuah pulau yang tidak jauh dari Maluku. Setelah menyampaikan pesan ini, pelaut tersebut akhirnya menemui ajalnya.
Wasurubaende sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak pada umumnya. Dia suka bermain di pantai dengan teman-teman sebayanya.
Namun ada suatu hal yang selalu mengganggu Wasurubaende ketika dia sedang bermain di pantai. Dirinya selalu melihat cahaya seperti kilat jauh di tengah lautan.
Wasurubaende selalu menanyakan perihal ini pada orang sekitarnya. Namun dirinya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Seiring berjalannya waktu, Wasurubaende tumbuh menjadi gadis dewasa. Meskipun demikian, rasa penasarannya terhadap kilatan cahaya yang ada di tengah lautan tersebut masih terjaga.
Suatu hari, dia menyampaikan rasa penasarannya ini pada sang ibu. Dia kemudian meminta izin agar bisa mendatangi sumber cahaya tersebut.
Sang ibu hanya bisa menerima permintaan dari putrinya tersebut. Wasurubaende kemudian dibekali delapan orang pengawal untuk menjaganya selama di perjalanan.
Tepat pada hari yang ditentukan, Wasurubaende memulai perjalanannya. Setelah menyeberangi lautan, Wasurubaende akhirnya sampai di sumber kilatan tersebut.
Ternyata kilatan yang selama ini dia lihat adalah sebuah pulau. Tanda Wasurubaende sadari, pulau inilah yang sudah diprediksi oleh sang ayah dulunya sejak lama.
Akhirnya Wasurubaende turun dari perahu dan menginjakkan kaki di Pulau Wangi-Wangi. Dirinya kemudian berkeliling lebih dalam dan memutuskan untuk menetap di sana.
Di sana, Wasurubaende tinggal bersama seorang nenek yang ternyata sudah menetap lebih dulu di sana. Dari pertemuan ini pula, Wasurubaende bertemu dengan Moori Wolio dan menikah dengannya.
Seiring berjalannya waktu, Pulau Wangi-Wangi mulai banyak didiami oleh banyak orang. Kelak masyarakat yang mendiami bagian barat hingga timur Pulau Wangi-Wangi kemudian dikenal dengan nama Mandati.
Begitulah kisah dari legenda asal usul Mandati yang ada di Pulau Wangi-Wangi dan menjadi salah satu cerita rakyat di daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


