legenda putri pembayun dan ki ageng mangir cerita rakyat dari yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Putri Pembayun dan Ki Ageng Mangir, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Legenda Putri Pembayun dan Ki Ageng Mangir, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
images info

Legenda Putri Pembayun dan Ki Ageng Mangir, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Legenda Putri Pembayun dan Ki Ageng Mangir adalah salah satu cerita rakyat dari Yogyakarta. Legenda ini berkisah tentang Putri Pembayun, anak dari Panembahan Senapati yang dikirim oleh ayahnya untuk menaklukkan Ki Ageng Mangir.

Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Yogyakarta tersebut?

Legenda Putri Pembayun dan Ki Ageng Mangir, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, suatu hari Panembahan Senapati tengah berkumpul bersama Ki Juru Mertani, Pangeran Jolang, dan Pangeran Alap-Alap. Mereka tengah membahas Ki Ageng Mangir yang masih belum berhasil dikalahkan oleh Kerajaan Mataram pada waktu itu.

Banyak pasukan yang sudah dikirim untuk menaklukkan daerah Ki Ageng Mangir. Namun berbagai upaya yang dilakukan tersebut tidak membuahkan hasil sama sekali.

Mangir memang daerah merdeka sejak dulunya. Belum ada kerajaan yang berhasil menaklukkan daerah tersebut.

Kesaktian yang dimiliki oleh Ki Ageng Mangir membuat dirinya mampu melindungi daerah tersebut. Salah satu kunci kekuatan Ki Anger Mangir terletak pada senjatanya, yakni Kiai Baruklinting.

Dalam pembicaraan tersebut, Panembahan Senapati berkeinginan untuk menaklukkan Mangir tanpa ada peperangan lagi. Sebab sudah banyak pasukan yang dikirim untuk menaklukkan daerah tersebut tidak berhasil kembali dengan selamat.

Ki Juru Mertani yang juga penasihat kerajaan kemudian menyampaikan idenya pada sang raja. Dia berkata jika Panembahan Senapati bisa memanfaatkan putrinya, Putri Pembayun untuk menaklukkan Ki Ageng Mangir tanpa peperangan.

Saran ini tentu membuat Panembahan Senapati kebingungan. Sebab Putri Pembayun bukanlah prajurit dengan kemampuan perang yang handal.

Ki Juru Mertani kemudian menjelaskan rencananya. Dia berkata agar mengirim Putri Pembayun yang menyamar sebagai penari ke daerah Mangir.

Dengan demikian, Putri Pembayun bisa memikat hati Ki Ageng Mangir. Nantinya Putri Pembayun bisa membawa Ki Ageng Mangir dengan sukarela ke Mataram tanpa perlawanan berarti.

Pada awalnya Panembahan Senapati merasa marah dengan rencana tersebut. Dia tidak ingin mengirimkan putrinya sebagai bagian dari rencana itu.

Namun Ki Juru Mertani memberikan berbagai nasihat pada sang raja. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Panembahan Senapati setuju dengan rencana itu.

Beralih ke Mangir, Ki Ageng Mangir tengah menyambut para demang yang ada di wilayahnya. Perbincangan di antara mereka tanpa terasa berlangsung hingga malam.

Saat itu terdengar tabuhan gamelan yang mendekati kediaman Ki Ageng Mangir. Begitu melihat rombongan ini tiba, matanya langsung tertuju pada penari wanita yang ada di sana.

Pemimpin rombongan ini kemudian memperkenalkan diri dan meminta izin agar Ki Ageng Mangir menanggap mereka. Dengan senang hari, Ki Ageng Mangir menerima rombongan tersebut dan menyaksikannya bersama para demang.

Begitu rombongan ini selesai menampilkan pertunjukkan, Ki Ageng Mangir kemudian menyampaikan ketertarikannya pada penari perempuan tersebut. Akhirnya Ki Ageng Mangir menikahi penari perempuan tersebut yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Ageng Mangir.

Ki Ageng Mangir begitu menyayangi istrinya tersebut. Dia memperlakukan sang istri dengan baik.

Beberapa waktu kemudian, Nyai Ageng Mangir mengandung dan melahirkan anak mereka. Hal ini membuat cinta Ki Ageng Mangir menjadi makin dalam.

Pada suatu hari, Nyai Ageng Mangir menyampaikan bahwa dia rindu pada orang tuanya. Dia ingin Ki Ageng Mangir mengantarkannya ke sana.

Hal ini tentu bukanlah suatu yang perlu dipermasalahkan oleh Ki Ageng Mangir. Namun perasaan ini berubah begitu dia mengetahui orang tua Nyai Ageng Mangir.

Nyai Ageng Mangir kemudian menjelaskan bahwa dia sebenarnya adalah Putri Pembayun, anak dari Panembahan Senapati. Meskipun dikirim oleh sang ayah, Putri Pembayun mengatakan bahwa rasa cintanya pada Ki Ageng Mangir sangat nyata.

Dengan berbagai pertimbangan, Ki Ageng Mangir akhirnya memenuhi permintaan istrinya tersebut. Berangkatlah mereka menuju Mataram untuk menemui Panembahan Senapati.

Begitu tiba di depan keraton, Ki Juru Mertani meminta Ki Ageng Mangir Kiai Baruklinting. Permintaan penasihat kerajaan tersebut dipenuhi oleh Ki Ageng Mangir.

Akhirnya mereka berdua pergi menghadap Panembahan Senapati. Namun seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Ki Ageng Mangir pada akhirnya menemui ajalnya di sana.

Dengan demikian, daerah Mangir berhasil dikuasai oleh Mataram tanpa ada peperangan besar.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.