Halo, Kawan GNFI!
Pernahkah kamu membayangkan, bagaimana refleksi kehidupan manusia dengan Tuhan dan alam dibedah satu per satu, kemudian dituangkan dalam medium yang bisa dilihat oleh mata, disentuh oleh tangan, dan dinikmati bersama?
Pada Sabtu, (7/3/2026), Kawan GNFI Regional Yogyakarta dan sekitarnya mengikuti acara Berkawan di Museum Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono (SHKSS) yang ada di Ngaglik, Sleman.
Dengan peserta kurang lebih 20 orang, Berkawan diajak untuk menyelami kehidupan dengan lebih dalam melalui karya seni dari Susilawati Susmono.
Beliau sendiri adalah seorang seniman yang telah menelurkan ratusan karya, baik dalam bentuk instalasi, motif batik, lukisan, lagu, hingga tarian. Semuanya merupakan hasil dari pemikiran Susilawati terhadap makna hidup dan korelasi antara manusia, alam, hingga ketuhanan.
Menurut Kepala Museum Serat Holistik Kehidupan, R. Ngt. Zuhartina, S.Pd, tempat ini memang dibuat tak hanya sebagai tempat edukasi, melainkan juga tentang refleksi diri yang menyeluruh, termasuk soal spiritual. Bahkan, beberapa corak lukisan berhubungan dengan personal sang seniman.

Museum Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono
Jika Kawan GNFI berkunjung ke SHKSS, terdapat tiga ruang yang masing-masing menyimpan banyak jenis karya seni dari Susilawati, antara lain:
Ruang Pribadi Sejati (gratis)
Ruang Pemimpin Sejati (berbayar)
Ruang Guru Sejati (berbayar)
Ketika memasuki Ruang Pribadi Sejati, tampak sebuah aula semi terbuka berwarna putih terang yang menampilkan puluhan foto, lukisan, dan serat yang sudah direproduksi. Semuanya dibuat berjajar bak pameran agar mudah dinikmati oleh pengunjungnya.
Di beberapa sudut tertentu, terdapat beberapa guci besar setinggi ukuran anak-anak (kurang lebih 90 cm) yang dilukis dengan beragam warna.
Humas museum, Mawaddah, menerangkan bahwa sebuah guci diwarnai emas secara menyeluruh karena diibaratkan sebagai kemurnian seorang manusia.
“Guci yang panjang ini sama seperti kita dan amal. Selama hidup di dunia, diharapkan kita terus mengisi diri sendiri dengan berbagai kebaikan yang nantinya akan menular sebagai jariyah (amalan yang tak terputus meski telah mati). Warna emas itu karena setiap manusia hakikatnya murni, maka dengan menjadi cahaya, kita bisa menjadi cahaya di sekitar kita juga,” terangnya.
Memasuki Ruang Pemimpin Sejati rasanya seperti memasuki ‘surga’, Kawan. Sebab, selain sejuk, di sini peserta tak hanya disuguhkan karya seni, tetapi juga puluhan tulisan dan jurnal berbau filosofi, teologi, sosial, hingga budaya yang ditulis oleh para penikmat dan murid binaan Susilawati tentang holistik kehidupan.
Di sini, peserta Berkawan mulai menyebar di tiap ruang kosong, sekadar untuk mengamati lukisan ‘abstrak’ Susilawati yang bisa di-scan untuk membaca penjelasan, bertanya-tanya dengan pihak museum, atau menyendiri sembari membuka buku-buku yang ada di sana.
Salah satu yang turut menarik perhatian adalah deretan lukisan gunung berapi yang dibuat dengan berbagai warna. Ayu, salah satu kurator museum menerangkan bahwa warna-warni yang ada adalah ‘gejolak’ seseorang sesuai dengan hidupnya, salah satunya gunung berapi merah yang diartikan sebagai kebebasan.
Acara Berkawan ditutup dengan permainan kata ringan dan testimoni dari peserta. Mawaddah berharap bahwa kegiatan ini dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk datang dan berkunjung ke Museum Serat Holistik Kehidupan Susilawati Susmono.
“Di tengah kondisi bangsa saat ini, dan generasi (terutama pemuda) membutuhkan panutan yang bisa dipegang supaya bisa memperbaiki diri. Bangsa ini harus dimulai dari memperbaiki diri. Satu orang yang memperbaiki diri kelak akan menjadi akumulasi perbaikan yang lebih luas lagi,” tandasnya.
Nah, Kawan GNFI, selanjutnya, mau ke mana lagi kita, ya?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


