di tengah puing bencana dapur ngebul menjaga gizi anak - News | Good News From Indonesia 2026

Saat Dapur PMBA Tetap Ngebul Jaga Gizi Anak

Saat Dapur PMBA Tetap Ngebul Jaga Gizi Anak
images info

Saat Dapur PMBA Tetap Ngebul Jaga Gizi Anak


Sembilan puluh hari telah berlalu sejak tanah longsor dan banjir bandang menyapu sebagian wilayah Sumatera Utara pada 25 November 2025 lalu. Di lereng-lereng perbukitan, aroma kaldu ayam perlahan mengalahkan debu dari lumpur yang mengering. 

Hampir 100 hari, warga di wilayah dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) bergelut memulihkan diri. Di tengah keterbatasan, pertahanan gizi anak-anak sedang diuji. Di sebuah rumah dengan dapur sangat sederhana, Safrina sedang sibuk di depan kuali besar berisi nasi. Ia adalah Kepala TK Amanah Samaeri sekaligus ketua yayasan pendidikan yang kini luluh lantak. 

Rumahnya habis tersapu lumpur, dan sekolah yang ia bangun dengan susah payah kini hanya menyisakan bangunan yang terseok di pinggir jalan. Di sampingnya ada tenda, tempat dirinya mengumpulkan para ibu untuk saling menguatkan.

"Air mata dan perjuangan itu sudah tidak terceritakan lagi," kata Safrina kepada GNFI di Tapanuli Tengah, Senin (2/3/2026). Meski kini ia harus tinggal di kontrakan karena kehilangan segalanya, ia menolak untuk menyerah pada nasib.

“Saya selalu bilang ke ibu-ibu yang lain. Jangan putus harapan. Kita harus kuat sama-sama, karena yang terpenting kita masih diberi kesempatan untuk memulai dari awal lagi agar menjadi lebih baik."

Bagi Safrina, memastikan anak-anak tetap mendapatkan makanan bergizi sangat penting untuk mempercepat pemulihan. Menjadi relawan masak dalam program Pemberian makan Bayi dan Anak (PMBA) adalah perpanjangan dari pengabdiannya sebagai pendidik.

"Ini panggilan jiwa. Sejak dulu saya merasa harus bermanfaat bagi orang lain, di manapun posisinya," tambahnya.

Safrina tidak sendirian di dapur itu. Di sampingnya, seorang remaja putri bernama Kristina dengan cekatan mengemas nasi dan lauk. Kristina adalah siswi SMK yang juga menjadi korban bencana. Rumahnya dua kali terbawa longsor. Alih-alih meratapi nasib di pengungsian, setiap hari sepulang sekolah, ia bergegas menuju dapur untuk bekerja cuma-cuma.

"Aku nggak bisa kasih apa-apa dalam bentuk materi sama korban yang lain, jadi aku bantu tenaga saja, Kak," kata Kristina. Dia mengaku senang saat anak-anak di pos pengungsian menyambut distribusi makanan. 

“Sangat senang melihat mereka makan. Kemarin saat kami datang, mereka memeluk kami sambil bertanya, 'Kok Kakak baru datang?' Rasanya terharu sekali, rasa sedih itu jadi hilang kalau melihat mereka lahap makan."

Gizi di Balik Bukit

Bergerak ke titik lain yang tak jauh dari pusat kota Sibolga, denyut pemulihan juga terasa di sebuah posko yang dipimpin oleh Rani, Ketua Kader Posyandu setempat. Di sini, dapur umum khusus PMBA menjadi pertahanan kesehatan bagi 57 anak korban bencana. Di bawah koordinasi WVI dan Pelkesi, Rani memastikan setiap kalori yang masuk ke perut balita adalah kalori yang berkualitas.

Setiap pagi, sejak pukul 07.00 WIB, Ibu Rani dan empat kader lainnya bergulat dengan menu yang telah disusun Pelkesi. Ada tantangan logistik yang nyata di sini. Banyak keluarga korban yang kini mengungsi di rumah-rumah saudara atau kontrakan sempit di area perbukitan.

"Kami yang antar makanannya ke atas gunung. Kasihan warga, mereka sudah capek naik turun untuk urusan lain, jadi biarlah kami yang jemput bola," ungkap Ibu Rani.

Menu yang disajikan tidak hanya mengganjal lapar. Ada klasifikasi tekstur yang ketat sesuai usia: bubur saring untuk bayi 6-9 bulan, bubur kasar, hingga nasi tim untuk balita yang lebih besar. Menu hari itu adalah semur ayam dengan sayuran segar dan buah-buahan seperti pepaya dan jeruk.

"Perekonomian warga di sini sedang sulit sekali, banyak yang biasanya mengais rezeki di laut atau buruh harian sekarang menganggur. PMBA ini krusial agar anak-anak tidak jatuh ke kondisi stunting di tengah masa darurat," jelasnya. 

Namun, dirinya cemas lantaran program ini akan segera berakhir. "Harapan saya ini berlanjut. Jangan cuma satu bulan. Kami sudah ajukan data ke pemerintah kota untuk keberlanjutan program Makan Bergizi ini, responnya diterima, tinggal menunggu realisasi dana."

baca juga

Nafas Baru Bagi Para Ibu

Bagi para ibu yang mengungsi, kehadiran dapur PMBA ini adalah nafas baru. Maslindah, salah satu ibu yang rumahnya rata dengan tanah akibat longsor, kini harus mengungsi di gedung SMPN 1 Sibolga. Ia bercerita betapa sulitnya menjaga kesehatan bayinya yang berusia 11 bulan di awal-awal bencana.

"Dulu di pengungsian anak saya batuk-batuk terus. Bantuan makanan dari pemerintah biasanya untuk dewasa, jadi untuk bayi saya harus masak sendiri menumpang di dapur orang lain," kenang Maslindah. Kini, dengan bantuan PMBA yang diantar langsung, bayinya mendapatkan menu lengkap yang seimbang.

Hal serupa dirasakan oleh Samaria, yang kini tinggal di pengungsian di sekitar area TPA. Anaknya yang berusia 4 tahun sebelumnya sering sakit dan sulit makan. 

"Dulu makannya susah sekali, mungkin karena suasana hati kita juga lagi berantakan. Tapi setelah ada menu PMBA ini, dia jadi lahap. Berat badannya mulai naik lagi," katanya.

Di hari ke-90 ini, Tapanuli Tengah sedang berupaya tegak kembali. Melalui tangan-tangan seperti Safrina, Kristina, dan Rani, pemulihan bencana bukan cuma soal semen dan batu bata untuk rumah, melainkan soal menjaga api di dapur tetap mengepul agar generasi muda mereka tidak kehilangan masa depannya di tengah puing-puing sisa bencana.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.