merajut kembali senyum anak anak penyintas bencana di sumatra - News | Good News From Indonesia 2026

Merajut Kembali Senyum Anak-anak Penyintas Bencana di Sumatra

Merajut Kembali Senyum Anak-anak Penyintas Bencana di Sumatra
images info

Merajut Kembali Senyum Anak-anak Penyintas Bencana di Sumatra


Langit tak lagi terlihat sama bagi Lamtiurma. Guru kelas 3 sekolah dasar ini masih ingat betul bagaimana air bercampur lumpur mengubah wajah kampung halamannya dalam hitungan jam. Baginya, lumpur yang mengering di dinding sekolah bukan cuma residu bencana, melainkan saksi bisu trauma.

“Satu minggu saya di pengungsian, saya merasa kalau saya diam saja, saya akan terus menangis mengingat semuanya,” kenang Lamtiurma saat ditemui GNFI di Tapanuli Selatan, Selasa (3/3/2026). Melihat sekolahnya rata dengan tanah adalah duka yang sulit dinalar. Namun, di tengah keputusasaan itu, ia terus teringat anak-anak didiknya.

Insting seorang pendidik mengalahkan kesedihannya sendiri. Lamtiurma mulai menghubungi kepala sekolah serta otoritas setempat untuk satu tujuan, yakni membuka kembali kelas, meski di bawah terpal panas.

“Dua minggu setelah bencana, kami buat pembelajaran. Memang mereka trauma. Kalau datang hujan, jangankan anak-anak, saya pribadi saja masih was-was,” ujarnya. Di kelas-kelas darurat yang kini menumpang di gedung sekolah lain, Lamtiurma tidak langsung menyuguhkan rumus matematika. Ia menyuguhkan ruang untuk bernapas.

Sekolah sebagai Penawar Trauma

Kurikulum formal dikesampingkan sementara. Lamtiurma dan rekan-rekannya memahami bahwa memaksa anak untuk menghafal di saat rumah mereka hanyut adalah sebuah kesia-siaan. Fokus mereka beralih pada dukungan psikososial.

“Kita ajak mereka bermain sambil belajar. Ada permainan 'angin berhembus', mereka berkumpul dua-dua atau empat-empat sambil berhitung. Kami tidak berani memaksakan akademik karena proses pemulihan ini bisa memakan waktu tiga bulan hingga setahun,” jelasnya.

Lamtiurma juga menggunakan bencana sebagai materi edukasi agar anak-anak memahami lingkungan mereka. Melalui gambar-gambar pohon yang gundul dan gunung yang tandus, ia mengajarkan mengapa banjir bandang bisa terjadi. 

“Saya ajarkan agar mereka tahu cara menjaga alam, karena merekalah masa depan yang akan melanjutkan ini semua.”

Meski sekitar 42 muridnya kini kehilangan mata pencaharian orang tua yang mayoritas bertani, Lamtiurma bangga karena tidak ada anak yang putus sekolah. “Ada yang pindah sementara ke Pekanbaru, tapi mereka janji akan kembali setelah keadaan pulih.”

Isra dan Kerinduan Sekolah

Bagi Isra, seorang siswa kelas 6 yang rumahnya lenyap digulung lumpur, sekolah adalah tempatnya menemukan kembali potongan hidupnya yang hilang. Ia masih ingat bagaimana warga di sekitar rumahnya harus berlari menyelamatkan diri ke pemakaman di gunung saat air datang pukul sepuluh malam.

“Sedihlah, Kak. Nengok rumah orang hanyut, ada juga yang meninggal,” tutur Isra. Wajahnya berubah cerah saat menceritakan aktivitasnya sekarang. “Paling suka senam pagi-pagi sebelum masuk kelas. Nyanyi ‘Rukun Sama Teman’ juga senang.”

Meski buku-bukunya hanyut dan sebagian tertutup lumpur, Isra tetap berangkat sekolah. Bagi anak-anak seperti Isra, kehadiran guru dan teman-teman menjadi penguat agar tidak hanyut dalam kesedihan.

Di Gereja, Anak-anak Kembali Tertawa

Di titik lain, tepatnya di GKI Sumut Simaremare, Tapanuli Tengah, dukungan psikososial mengalir melalui tangan para relawan. Inri (40) seorang relawan dari Pelayanan Kesehatan Kristen di Indonesia (PELKESI) yang bekerja sama dengan Wahana Visi Indonesia, rutin mengadakan sesi permainan edukatif untuk membangkitkan keceriaan anak-anak yang sempat murung.

“Kami bermain 'Bos Berkata' atau 'Ganjil Genap' untuk melatih fokus dan kerja sama. Tujuannya supaya mereka tidak terlalu kaku. Awalnya mereka bingung, tapi sekarang mereka selalu bertanya, 'Kapan lagi ada kegiatan?'” cerita Inri.

Menurut Inri, pendekatan terbaik bagi anak korban bencana adalah menjadi pendengar yang setia. 

“Jangan menakut-nakuti mereka saat hujan turun, jangan menyalahkan situasi. Mereka hanya ingin mencurahkan apa yang mereka rasakan.”

Memahami Anak di Situasi Bencana

Kondisi bencana menciptakan celah kerentanan yang besar bagi anak-anak, terutama karena hilangnya pengawasan orang dewasa yang fokus pada upaya penyintas. 

Menurut Response Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) Lisa Hermawati, orang tua sering kali kehilangan daya untuk mendampingi anak secara intens karena disibukkan oleh kebutuhan logistik seperti mencari makanan dan tempat tinggal. 

"Orang dewasa itu sibuk dengan dirinya sendiri sehingga anaknya yang tadinya dia mendampingi anaknya dengan intens, dia sudah tidak mempunyai kekuatan dan daya untuk mendampingi," jelas Lisa saat ditemui GNFI di Aceh Tamiang, Kamis (5/3/2026).

Ketidakhadiran sekolah dan minimnya fasilitas MCK yang memadai di pengungsian memaksa anak mencari tempat bermain sendiri yang berisiko, menurut Lisa, dapat memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan termasuk potensi kekerasan akibat kurangnya pengawasan maksimal.

Secara psikologis, trauma bencana bermanifestasi dalam bentuk ketakutan akut dan gangguan tidur pada anak-anak. Lisa mengungkapkan bahwa banyak anak mengalami trauma mendalam, seperti menangis ketakutan hanya karena mendengar suara hujan atau mengalami mimpi buruk pascabencana banjir dan longsor. 

"Kebutuhan mereka adalah bermain, oleh karena itu harus disediakan ruang atau tempat di mana mereka bisa bermain dengan teman sebaya. Bukan hanya bermain, tetapi ada tujuannya, yaitu kegiatan bermain rekreasional yang melibatkan beberapa anak," ujar Lisa.

Ia menambahkan bahwa pendampingan langsung dari lingkungan sekitar sangat krusial dalam proses ini. "Itu didampingi langsung oleh masyarakat yang tinggal di situ atau guru yang ada di situ, karena mereka yang bisa melihat perubahan-perubahan kecil yang terjadi sebelum terjadi bencana dan sesudah terjadi bencana,” pungkasnya.

Guna memastikan perlindungan anak di area bencana, Wahana Visi Indonesia (WVI) berperan aktif dalam membangun dan mengaktivasi mekanisme alur rujukan kasus kekerasan. WVI bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) serta Dinas Sosial untuk memastikan anak-anak korban kekerasan mendapatkan pendampingan dari pekerja sosial. 

Upaya ini dilakukan dengan mensosialisasikan nomor hotline dan membangun sistem pelaporan baik di level sekolah, pos pengungsian, maupun Hunian Sementara (Huntara). Tujuannya adalah agar masyarakat paham kemana harus melapor saat melihat atau mengalami kekerasan, sehingga anak-anak bisa mengakses layanan itu.

baca juga

Berikan Kenyamanan untuk Anak

Kondisi psikologis anak-anak ini menjadi perhatian bagi pemerintah setempat, dalam hal ini Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Tapanuli Selatan. Rahmadiah Hanum, Kepala Dinas DPPPA, mengakui betapa beratnya beban yang dipikul, mengingat 80% stafnya juga menjadi korban bencana.

“Sangat miris melihat anak-anak kita. Mereka yang seharusnya tidak memikul beban berat, terpaksa ikut membersihkan lumpur di rumah,” ujar Rahmadiah. Pihaknya kini berupaya memberikan kenyamanan maksimal melalui trauma healing yang melibatkan psikolog dari Medan.

“Anak-anak itu ibarat gelas yang retak karena suara hujan. Begitu mendung, mereka sudah panik. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, menggunakan metode 'CIL' atau Curhat, Healing, and Go On. Kita tidak boleh larut dalam bencana, kita harus bangkit,” tegasnya.

Pendidikan Tak Boleh Terputus

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan, Johannes, menegaskan bahwa memastikan sekolah tetap berjalan adalah langkah krusial untuk mencegah eksploitasi anak pasca-bencana. Pemerintah telah melakukan pendataan kerusakan dan memastikan bahwa anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan meski dalam kondisi darurat.

“Pendidikan tidak boleh putus. Jika tidak ada pendidikan, anak-anak akan semakin tidak terarah di pengungsian. Sekolah adalah tempat paling aman bagi mereka untuk kembali memulai hidup normal,” pungkas Johannes.

Meski diterpa bencana, banyak pihak di Tapanuli Selatan-Tapanuli Tengah saling gotong-royong menghadirkan ruang aman yang menjaga asa anak. Dengan lagu dan permainan, menghadirkan kembali tawa pada anak. 

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.